Cinta Beda Umur

Cinta Beda Umur
Kamu Mau Membawaku Kemana?


__ADS_3

.


.


.


.


.


"Begitu ya ..., maafkan saya tuan, saya pikir Anda adalah perebut pacar orang lain" ucap Naori tersenyum polos. Dia ingat orang di depanya adalah orang yang pernah menculik Risya pada misi pertama mereka, saat itu tanpa pikir panjang Risya menyerang Okita dengan pistolnya, sangat terlihat kebencian di mata Risya saat itu. Jadi sangat tidak mingkin kalau mereka hanya sepupu.


Mendengar penuturan Naori, Okita tidak senang. "Kurasa kamu tahu sesuatu.."


🍁🍁🍁🍁🍁


Naori tersenyum, "Maaf tuan, saya ada urusan bersama dengan tim saya, bolehkah saya juga meminta Risya untuk pergi bersama saya?" tanya Naori yang sengaja membuat Okita marah.


"Ada apa? Apa ketua memanggil kita?" tanya Risya penasaran. "Sepertinya ketua hanya memanggilmu, ku rasa ini ada hubunganya dengan orang di depanmu ini" ucap Naori tersenyum. Okita kini mulai mengerti bahwa Naori sengaja membuatnya marah, dia tidak menanggapinya lebih lanjut tapi juga tidak akan membiarkan Risya pergi bersama mereka.


Okita menarik tangan Risya dan segera menuju lift khusus Ceo miliknya.


"Okita aku ada tuggas! Nanti saja kita pergi ya" ucap Risya membujuk. "Risya, dia hanya menjebakmu agar menjauh dariku, tetap ikut aku oke?" ucap Okita memberi pengertian. "Tidak mungkin! Lagipula dia tidak mengenalmu kan Okita?" ucap Risya tidak percaya. "Apa kamu lupa? Saat misi pertama kalian, bukankah aku yang menjadi target kalian?" tanya Okita mencoba membuat Risya mengingat kejadian itu.

__ADS_1


"Benar juga, kenapa aku tiba-tiba menjadi pelupa begini" batin Risya yang sudah menyadari kesalahanya. "Risya, kamu akan ikut denganku kan?" ucap Okita sedikit memohon, "untuk sekarang lebih baik aku ikut dengan Naori dulu, mau bagaimana pun sebagai polisi aku harus profesional" ucap Risya memohon maaf.


Risya lalu menghampiri Naori yang kala itu masih tersenyum. Risya dan Naori pun pergi, meninggalkan Okita dengan auranya yang gelap. Dia tidak menyukai dirinya yang berada jauh dengan Risya.


"Naori, apa benar ketua ingin membahas sesuatu?" tanya Risya yang kini juga ikut curiga pada Naori. Kepintaran IQ nya kini telah kembali normal. "Okita Hanji, dia kan yang membuat misi pertama kita gagal, dia orang yang kuat dan berbahaya. Seharsnya kamu jangan dekat dekat denganya Risya..." ucap Naori memberi pengertian. "Tidak, dia tidak akan berbahaya selama aku berada di sisinya, kalian tenang saja, aku tidak akan membiarkanya menghancurkan kota ataupun menurunkan popularitas tim kita!" ucap Risya penuh tekad.


Melihat itu, Naori tertegun namun akhirnya kembali pada wajah datarnya yang mirip dengan Risya. "Baiklah, karena pemikiran dan sikap kamu mirip denganku, maka aku akan percaya padamu. jaga dirimu baik-baik, besok kita akan bertemu lagi di kantor" ucap Naori berjalan lebih dulu.


Risya meng iyakan ucapan Naori. Dia kembali ke kantor Okita untuk kembali menghampiri Okita ke ruang khusus Ceo.


Ketika Risya memasuki ruangan Okita, Risya terkejut ketika mendapati sebuah lemari yang ukuranya 1m x 1m yang terisi penuh oleh obat tidur, bukan hanya itu, bahkan di meja kerja Okita juga terdapat 3 botol obat tidur.


Sedangkan Okita kini tengah tertidur di sofa ruang kerjanya, "apa tadi dia tidak tidur? tidak mungkin dia memaksakan dirinya untuk tidur dengan meminum obat tidur kalau dia tadi sudah tidur tadi. Cuman ada satu jawaban, dia berbohong dan sebenarnya tadi hanya berpura pura tidur?!" batin Risya kesal.


Risya juga menghampiri Okita yang tertidur di sofa. "dia tampak sangat lelah" batin Risya memperhatikan wajah Okita. "Apa ini semua karenaku?" pikir Risya bertanya tanya. Risya menyentuh surai Okita, Risya tahu bahwa Okita tidak akan terbangun setelah meminum obat tidur, paling tidak dia akan terlelah lelap selama 1 atau 2 jam.


"Aku ingin menyembuhkanmu, tapi bagaimana?" batin Risya mengusap lembut surai Okita, dia kini menatap sedih ke arah wajah Okita. Risya menghampiri meja kerja Okita yang terdapat beberapa dokumen, "Dokumen seperti ini,... Okita orang yang jenius, padahal umurnya masih muda" gumam Risya melihat lihat dokumen itu dan sedikit mengerjakanya, Risya pintar, tapi mungkin kepintaranya masih di bawah Okita, kini Risya merasa malu kalah dari anak yang lebih muda darinya.


2 Jam Kemudian


"Risya..., Risya..." gumam Okita seperti terganggu di dalam tidurnya, mendengar itu Risya segera menghampiri Okita.


"Risya..." gumamnya lagi. Risya memeluk Okita, "tenang, aku ada di sini.... maaf ya" ucap Risya menenangkan. Okita tenang, tapi sekarang Risya dalam posisi duduk di sofa sambil memeluk Okita yang masih dalam posisi setengah berbaring, Risya menyandarkan kepala Okita di bahunya, tidak mungkin untuknya berpindah sekarang, karena itu bisa saja mengganggu tidurnya Okita.

__ADS_1


Beberapa Menit kemudian.


Okita terbangun dan menyadari dia tertidur bukan dalam posisi berbaring, Okita menoleh dan mendapati Risya yang juga tertidur. "Dia kembali?" heran Okita yang tersenyum setelahnya.


Okita membalikan keadaan dan memposisikan Risya yang bersandar padanya, bukan pada bahunya namun pada dada bidangnya. "Risya jadi sangat cantik setelah beberapa tahun, keluarganya juga sudah membaik. Kehidupanmu jadi semakin baik sekarang ya." batin Okita tersenyum.


Risya terbangun merasakan ada pergerakan di sekitarnya, "O Okita? sudah bangun ya," ucap Risya mengucek sedikit matanya. "Kamu tertidur cukup nyenyak" ucap Okita mengusap pucuk kepala Risya.


Tiba-tiba, Risya mengingat sesuatu. "Jangan bilang kamu tidak tidur tadi siang sewaktu di penthouse?" ucap Risya dengan sorot mata mengintimidasi. Okita tersenyum "Aku tidak bisa tidur kalau tidak pakai obat tidur, dan lagi saat itu di penthouse aku kehabisan obat tidur" uvap Okita beralasan.


"Bisakah kamu berhenti mengomsumsi obat itu dan mencoba tidur tanpanya?" tanya Risya berharap, "Aku tidak yakin, tapi kalau kamu ada di sampingku mungkin aku bisa tidur sedikit lebih lama" ucap Okita mengingat dirinya juga mengalami insomnia karena Risya.


"Baiklah, kalau begitu aku akan ada di sampingmu," ucap Risya tersenyum tipis. "Apa kamu yakin? Aku bisa saja berbuat macam-macam padamu nanti." ucap Okita menyeringai jahat. "Aku pasti bisa menghentikanmu" ucap Risya yang sebenarnya tidak yakin pada dirinya sendiri. Okita kembali tersenyum, "baiklah, kalau kamu menurut padaku tentu aku tidak akan berbuat macam-macam padamu" ucap Okita menepuk pucuk kepala Risya dan kemudian bangkit.


"Ayo, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat" ajak Okita berjalan ke luar ruangan pribadinya, Risya mengikutinya.


Okita membawa Risya dengan mobil miliknya, "sebenarnya kamu ingin membawaku kemana?" tanya Risya di kala Okita masih dengan fokus mengendarai mobilnya.


"Tempat yang seharusnya sudah lama kita datangi" ucap Okita yang terdengar sedikit nada kesal di sana, apa Risya melakukan kesalahan?


TBC


Sampai sini dulu ya

__ADS_1


dan sampai jumpa😊


__ADS_2