
.
.
.
.
.
"apa yang sebenarnya terjadi denganmu Okita, apa ini penyakit? atau ada seseorang yang ingin menyakitimu?" batin Risya bertanya-tanya sambil mengendarai mobil dengan perasaan khawatir. Key yang melihat itu merasa tidak senang, dia di tinggalkan sendiri di gedung itu oleh Risya. "apa ini Risya?, jangan bilang dia menyukainya!?" batin Key yang kini merasa pusing, dia perlu pulang ke apartemen.
πππππ
Sesampainya di rumah sakit terdekat, Yuki dan Risya kini menunggu hasil pemeriksaan dari Okita. "Yuki, apa Okita punya penyakit?" tanya Risya yang sedari tadi berwajah sangat khawatir, entah hilang kemana wajah datarnya itu.
Yuki heran menatap Risya, kini dia ingat Okita yang menyentuh kulit wajah Risya sebelum dia pingsan, Yuki juga ingat betul raut wajah Okita yang kala itu tersenyum sambil menahan rasa sakit menatap Risya. ada sedikit rasa curiga kini di hatinya.
"Dia tidak pernah seperti itu sebelumnya, tapi pada saat beranjak naik ke kelas 8, entah apa yang terjadi denganya, dia tiba tiba saja menjadi susah sekali tidur, dia pun terkena Insomnia setelahnya" jelas Yuki yang membuat Risya terkejut.
__ADS_1
"setelah itu, hingga saat ini dia terus mengomsumsi obat tidur, tapi aku tidak pernah tahu dia bisa sakit separah tadi" ucap Yuki yang terlihat sedih dan cemas. Kemudian Risya ingat wajah Okita, biar dia terlihat tampan, tapi dia selalu terlihat lelah, apalagi di bagian bawah matanya yang sedikit menghitam.
"apa yang terjadi padanya selama aku tidak ada?" batin Risya merasa cemas. "Risya.." ucap Yuki sambil menunduk. Risya menoleh, "apa hubunganmu dengan Okita?" tanya Yuki yang membuat Risya terkejut dan panik, tapi segera ia atasi dengan wajah super datar setelahnya.
"tidak ada" ucap Risya dengan raut wajah datar yang sudah tentu adalah topeng. mendengar itu Yuki menghela nafas berat "aku dan Okita tidak benar-benar berpacaran" ucap Yuki menunduk, itu membuat Risya tertegun. Apa maksudnya?
"Aku dan dia telah memiliki kontrak berpacaran, itu hanya bertujuan untuk menyenangkan keluarga kami masing masing, niatnya setelah menikah dua tahun kami akan membuat konflik pura-pura dan bercerai" ucap Yuki bercerita. "aku memang mencintainya dengan tulus, tapi aku tahu di hatinya memiliki perempuan lain. dan wanita otulah penyebab dia mendapatkan Insomnia" ucap Yuki lagi bercerita.
"Hanya untuk menyenangkan orang tua?, kenapa?",tanya Risya tidak mengerti. "Aku dan dia memang sudah lama di jodohkan, tapi perjodohan kami hanya pura-pura kami setujui. Ayah Okita sangat ingin aku menjadi menantunya. Makanya Okita mengajukan kontrak berpacaran denganku" ucap Yuki menjelaskan. "kenapa kalian melakukanya?, kalian bisa menolak kan?",ucap Risya tidak mengerti.
"kalau ku tolak, perusahaanku tidak akan di terima untuk bekerja sama dengan perusahaan Okita, begitupun Okita yang tetap akan di kurung bersama adik adiknya di manison tanpa kebebasan. karena umurnya yang waktu itu 8 tahun, kami membuat sebuah perjanjian agar kami juga saling menguntungkan", ucap Yuki bercerita.
"Asalkan aku bisa menikah denganya, dia akan mewarisi segala aset perusahaan yang juga artinya bisa mempertahankan kerja sama dengan prusahaanku." ucap Yuki lagi menjelaskan. "Risya..., aku rasa kamulah orang yang selalu di pikirkan Okita", ucap Yuki tersenyum namun masih terlihat bahwa dia terluka akibat kenyataan itu.
Risya menunduk, dia berfikir. Memang benar gejala Insomnia Okita di mulai saat Risya meninggalkan Tokyo, Risya kini merasakan sakit di kepalanya. "Risya ..., ku rasa kamulah yang saat ini sangat di butuhkanya, dia sudah terlalu banyak mengomsumsi obat tidur. kurasa karena itulah dia mulai mengalami kondisi tubuh yang menurun", ucap Yuki membujuk.
Risya kembali berfikir. Dia memang membenci Okita, tapi itu karena Okita telah mengambil keperawananya sekaligus karena Okita tidak mau bertanggung jawab dengan serius. "Yuki, aku sudah memiliki kekasih, aku tidak bisa bersama Okita", ucap Risya menunduk, dia sudah terlanjur berjanji pada Key, dia juga tidak ingin mengkhianati Key.
"Kumohon Risya, kali ini saja teruslah di sampingnya, hingga tubuhnya kembali membaik barulah semua keputusan ada di tanganmu.."ucap Yuki memohon. Bahkan tangan Yuki kini menggenggam erat tangan Risya.
__ADS_1
"Baiklah ..., hanya untuk kali ini aku akan menjaganya, tapi bagaimana dengan Key?" ucap Risya khawatir Key akan membencinya. "Serahkan padaku!", jawab Yuki bersemangat. Risya tersenyum, "kalau begitu, baiklah..." ucap Risya tersenyum tipis.
Kini dia mengerti mengapa Okita tidak pernah mau melepaskanya atau Yuki, dia telah berjanji akan membantu Yuki di sisi lain juga dia tidak pernah mau kehilangan Risya dalam hidupnya. Dokter keluar dari dalam ruangan dan mengatakan bahwa Okita hanya terlalu lelah, masalah sakit di dadanya itu karena efek terlalu banyaknya obat yang telah ia konsumsi.
Risya masuk ke dalam ruang inap Okita tanpa di temani Yuki, Yuki tidak ingin mengganggu momen Risya dan Okita sekaligus tidak ingin membuat hatinya bertambah sakit. Risya mendekat ke arah Okita yang masih memejamkan matanya.
Namun dia hanya tertidur biasa setelah mendapat obat dengan dosis yang benar dari rumah sakit. Risya kini duduk di samping ranjang tempat Okita berbaring. "Maaf ..." ucap Risya menggenggam tangan kanan Okita dengan kedua tanganya. Risya lalu menyentuhkan tangan Okita ke depan wajahnya dan lalu menyentuhkanya ke dahinya.
"Maaf ..." ucap Risya lagi. Okita mulai terbangun, melihat Risya di sampingnya dia tersenyum tipis. Okita membawa tanganya yang di genggam Risya untuk menyentuh kulit wajah Risya, mendapat pergerakan dari tangab Okita, Risya segera menoleh ke wajah Okita.
"Okita?!"ucap Risya terkejut. "Ada apa?" tanya Okita tersenyum dengan senyuman yang menyerupai seringaian. "kenapa? apa yang kamu pikirkan hingga mendapat Insomnia berat seperti ini?!" ucap Risya sedikit berteriak pada Okita. "Apa kamu tahu betapa frustasinya aku memikirkanmu yang menghilang tiba tiba saat itu?" ucap Okita masih menyentuh kulit wajah Risya.
"Aku mencarimu kemana mana hingga membuatku tidak bisa tidur setiap kali aku memikirkanya. Tapi akhirnya ku temukan kamu yang ternyata berkuliah di Universitas di kotamu itu" ucap Okita bercerita. "tapi aku terlambat, Aku melihatmu sudah bersama Key, kamu tahu seberapa marahnya aku saat itu?" tanya Okita membelai tenguk Risya.
Risya masih terus menatap Okita dengan tanda tanya, tapi kejadian berikutnya membaut Risya harus membelalakan matanya. Dengan cepat Okita menekan tenguk Risya hingga bibirnya mengenai bibir Okita. Okita mencium Risya lagi tapi kali ini dia melakukanya dengan kasar, setelah itu dia melepaskanya.
"setiap mengingatnya, rasanya aku ingin sekali menghukumu dengan berat" tutur Okita yang masih membuat Risya tertegun
"apa yang ada di pikiran laki laki ini hanya menghukumku?" batin Risya maish dengan posisinya yang kaku
__ADS_1
TBC
SAMPAI SINI DULU YA..