Cinta Beda Umur

Cinta Beda Umur
Bertanggung Jawab


__ADS_3

.


.


.


.


.


.


"setiap mengingatnya, rasanya aku ingin sekali menghukumu dengan berat" tutur Okita yang masih membuat Risya tertegun


"apa yang ada di pikiran laki laki ini hanya menghukumku?" batin Risya masih dengan posisinya yang kaku.


🍁🍁🍁🍁🍁


Risya menunduk, dia kini mengingat ucapan Yuki yang baru saja bilang bahwa Okita sejak dulu sering di kurung oleh orang tuanya.


"Kenapa?" ucap Risya yang membuat Okita bingung. "Kenapa kamu tidak kabur saja Okita?" tanya Risya menatap sendu ke arah Okita. Okita yang tadinya tidak paham segera mengerti,"Apa Yuki yang menceritakanya?" tanya Okita menatap dingin ke arah Risya.


"Menurutmu?" ucap Risya sedikit berteriak, "aku tidak bisa kabur, ayahku pasti akan mencariku dengan berbagai cara. Lagipula adik-adiku ada bersamanya." ucap Okita kembali menyentuh wajah Risya. "Bersabarlah, setelah pernikahanku berlangsung, akulah yang akan berkuasa, dan sampai dari situ aku bisa bersamamu" ucap Okita menatap sayang pada Risya.


"Tidak!... " ucap Risya yang membuat Okita terkejut. "Aku sudah bersama Key, aku tidak bisa bersamamu" ucap Risya beranjak pergi namun tanganya segera di tarik oleh Okita dan tubuhnya di tubrukan dengan kasur Okita, Okita mengukung Risya. "Apa maksudmu?!" ucap Okita yang terlihat marah, sepertinya dia masih jadi orang yang egois dan tidak bisa di bantah.


"Okita! sudahlah kita akhiri saja! aku sudah bersama Key, dan aku juga berjanji akan setia padanya!" ucap Risya meninggikan nadanya. Okita menyingkir dan berdiri tanpa memperdulikan jarum infusnya yang terlepas akibat pergerakanya yang menarik Risya tadi "kali ini aku akan melepaskanmu, tapi jangan harap kamu bisa lari dariku! aku tidak akan membiarkanmu bersama Key!" ucap Okita mulai beranjak menuju pintu keluar kamar.

__ADS_1


Risya terkejut ketika mendapati tetesan darah di lantai, sontak Risya menoleh ke arah tangan Okita yang terdapat darah menetes sedikit demi sedikit. "Okita,tunggu!!" teriak Risya memanggil, Okita sedikit menoleh.


"Biarkan aku mengobati tanganmu" ucap Risya menatap tangan Okita, Okita menatap tanganya dan lalu menoleh ke arah Risya,"memang apa pedulimu? sekarang pergilah sebelum aku berubah pikiran dan mengurungmu di penthouse ku!" ucap Okita kembali beranjak pergi.


Risya diam, tapi kemudian dia lari dan menarik lengan Okita,"biarkan aku mengobati itu!" teriak Risya sedikit kesal, dia tidsk peduli lagi pada konsekuensinya. Okita menatap Risya tidak percaya lalu akhirnya mengikuti keinginan Risya. "Risya, kamu harus menjaga Okita untuk sementara waktu, hanya sampai Insomnianya berkurang, maka dari itu cobalah untuk bersabar", batin Risya sambil menarik tangan Okita menuju kamar pasien.


Kini Risya mengobati tangan Okita dengan alat p3k yang ada di kamar pasien itu. Padahal dia bisa saja memanggil suster untuk mengatasi itu, namun entah kenapa Risya malah ingin mengobatinya sendiri. Selesai mengobati Risya menatap Okita, begitupun Okita yang membalas tatapan Risya.


"Aku akan menjagamu untuk sementara waktu" ucap Risya masih menatap wajah Okita yang bawah matanya tampak menghitam. "Kenapa kamu mau melakukan ini semua, bukankah kamu tidak ingin bersamaku?" tanya Okita tidak mengerti.


"Aku ingin bertanggung jawab atas diriku yang dulu menghilang, aku tidak pernah tahu itu akan membuatmu jadi seperti ini" ucap Risya menyentuh wajah Okita. Okita menatap dingin Risya, "terserah kamu saja, tapi aku tidak berjanji kamu akan baik-baik saja bersamaku." ucap Okita merebahkan dirinya di kasur pasien dan memejamkan matanya walau sebenarnya dia sama sekali tidak bisa tidur.


Risya yang melihat itu tersenyum, dia lalu duduk di kursi dekat tempat tidur Okita dan menenggelamkan kepalanya di lengan yang ia lipat di atas kasur pasien Okita. Risya tertidur. Okita bangkit dan tersenyum melihat Risya, "Aku tidak akan melepaskanmu" batin Okita sedikit membelai surai panjang Risya.


Okita bangkit dan menggendong Risya dan merebahkanya di atas ranjang, kemudian Okita ikut merebahkan diri di sana.


Pagi Hari ...


"Ya, tapi mungkin hanya sekitar 3 jam" ucap Okita menatap Risya. Risya menyentuh wajah Okita dan melihat mata Okita yang tamoak kelelahan. "bagaimana caraku mengobatimu, apa aku harus membuatmu pingsan agar kamu tertidur?" ucap Risya sendu. "tidak, kamu hanya perlu berada di sampingku, lagipula ini sudah ada perkembangan, awalnya aku hanya bisa tidur 1/2 jam" ucap Okita menghibur.


Risya menunduk lalu bangkit. "Aku mau pulang, bagaimana denganmu, mau ikut?" tanya Okita ikut bangkit dan turun dari ranjang. "Ya.." ucap Risya mengikuti langkah Okita.


Kediaman Penthouse Okita (baru)


Kini Okita dan Risya telah sampai ke penthouse Okita. sebelum memasuki Penthousenya Okita, Risya menyempatkan diri untuk menelpone Key. "Risya! kemana saja kamu kemarin malam tidak pulang!" ucap Key sedikit berteriak.


Sebenarnya Risya kemarin malam mematikan hpnya jadi dia tidak bisa menerima telpone dari Key yang sudah hampir 150 panggilan tak terjawab.

__ADS_1


"Aku menemani Yuki menunggui Okita di rumah sakit" bohong Risya yang kini mwrasa tidak enak, mendengar Risya berbohong, Okita langsung tahu bahwa itu Key, jadi ia segera merebut telpone Risya. "Pacarmu bersama saya, mohon jangan ganggu lagi!" ucap Okita yang segera memasukan nomor Key ke dalam daftar hitam.


"Okita apa yang kamu lakukan!!" teriak Risya tidak terima. "Aku sudah bilang kan, aku tidak akan membiarkanmu bersamanya! Kalau kamu tidak ingin hp mu kurusak, segera ganti nomormu!" ucap Okita memasuki Penthousenya.


Risya kesal, tapi dia tetap mengikuti langkah Okita, dia tidak tahu kalau nomor Key telah di masukan Okita ke dalam daftar hitam, maka dari itu dia terlihat santai.


Tempat lain.


"Okita?!!" teriak Key membanting hp nya ke arah kasur milik Risya. "Sial! kenapa Risya mau saja bersamanya sih!" marah Key yang kini mengambil kunci mobil beranjak untuk mencari kediaman Okita sekarang.


Kembali ke Risya


Risya kini tengah berada di dalam kamar Okita, menatap kamar Okita yang sudah sepertu bukan gaya Okita lagi. Kamar itu tampak mewah dengan meja kerja dan rak buku kecil di dindingnya.


Okita terlihat begitu fokus dengan dokumen-dokumen di atas mejanya, tak lupa sesekali ia juga mengetikan sesuatu pada leptopnya. Sedangkan Risya hanya diam memandangi Okita.


Dia khawatir kalau Okita bisa-bisa kurang tidur lagi, sangat terlihat wajah kelelahan di matanya. Risya mendekatkan dirinya pada meja kerja Okita. "Tidurlah sebentar" ucapnya sedikit memohon. Okita menoleh sekilas ke arah Risya tapi segera kembali menatap dokumenya, "aku tidak bisa, ada yang harus ku kerjakan" ucap Okita kembali berkutak gokus pada kertas di tanganya.


Risya kesal dan segera berdiri di belakang kursi Okita, Risya lalu mengalungkan tanganya di leher Okita "Kalau kamu mau tidur, aku berjanji akan memberikanmu sebuah ciuman, bagaimana?" tanya Risya yang kini sudah kebaisan akal untuk membujuk Okita.


Mendengar itu Okita terkejut. "Apa kamu tahu apa yang kamu bicarakan?" tanya Okita yang tertarik dengan tawaran Risya. "yaa.. tidurlah ya" ucap Risya memohon. "Baiklah.. tapi ku harap kamu menempati janjimu" ucap Okita menyeringai.


"Aku mau tidur, tapi kamu harus ada di sampingku" ucap Okita kembali menyeringai. "Baiklah, lagipula aku hari ini libur bekerja" ucap Risya mengikuti langkah Okita ke arah ranjang. namun yang di lakukan Okita berbeda.


Okita menarik Risya hingga ia terjatuh, kesempatan itu di gunakan Okita untuk bisa merebahkan kepalanya di paha Risya, Risya terkejut. "Okita?!" teriaknya. "Tetaplah seperti ini, aku akan tidur" ucap Okita memejamkan matanya, dengan posisi seperti itu entah kenapa kegelisahan di hatinya mereda, itu membuatnya bisa tidur nyaman walau hanya sebentar.


**TBC

__ADS_1


**SAMPAI SINI DULU YA


LANJUT EPOSODE BERIKUTNYA NANT😊****


__ADS_2