
.
.
.
.
.
.
*Kevin membawanya ke belakang sekolah yaitu tempat yang terdapat banyak pepohonan rindang, di tempat itu Kevin menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Risya, kini kevin merogoh sesuatu dari balik jas blazernya, kini setangkai bunga mawar sudah ada di tangan Kevin, kevin berlutut dan mengarahkan tangkai bunga itu ke arah Risya, "entah ini di mulai sejak kapan, aku tidak tahu, tapi..aku selalu memikirkanmu, satu hari pun tidak terlewat, aku selalu memimpikanmu, pikikiranku penuh dengan dirimu, bahkan hati ini pun juga...aku menyukaimu, aku mau kamu jadi pacarku!"ucap Kevin lembut, Risya tertegun, "kalau kamu terima bunga ini, itu berarti kamu menerima cintaku, aku berjanji akan mencintaimu dan menjagamu, meskipun harus melawan Okita, aku tidak akan mengkhianatimu..."ucap Kevin lagi tulus, Risya tertegun dalam beberapa detik, kemudian dia membuka mulutnya
πππππ*
"Maaf kak, aku gak bisa.."ucap Risya menunduk menatap Kevin yang masih berlutut, "tapi kenapa?"ucap Kevin kecewa, "aku..sudah punya orang yang ku sukai, meski dia mungkin sangat egois, aku mencoba untuk menerimanya"ucap Risya membungkuk lalu berbalik pergi, Kevin menunduk, dia lalu berdiri dan menyimpan kembali mawarnya di balik blezernya, "aku tidak akan pernah menyerah dengan penolakan seperti itu Risya.."batin Kevin tersenyum lalu juga ikut pergi ke arah yang berbeda dari Risya
di balik semak beberapa siswa tengah menguping, termasuk Michele yang kini merasa lega, "susurlahh. dari segi manapun kakaku lebih pantas untuk Risya di banding kak Kevin si ketua osis"batin Michele girang, sedangkan Risya kini berjalan meratapi apa yang tadi di ucapkanya pada kevin, "aku tidak akan pernah menyangka kak kevin akan menyukaiku, tapi..apa penolakanku tadi tidak akan menyakitinya ya, aku masih ingin berteman denganya"gumam Risya masih meratapi kata katanya
__ADS_1
"baiklah..lebih baik kembali ke kelas"ucap Risya segera menyudahi ratapanya, ketika memasuki kelas Risya banyak mendapati tatapan tatapan aneh yang tengah menatapnya, Risya bingung dengan itu, "Michele, apa ada yang salah denganku, sepertinya mereka menatapku"ucap Risya pelan menepuk bahu Michele yang ada di depan mejanya, "ohh..bukanya itu karena kak kevin menembakmu ya"ucap Michele yang setelahnya segera menutup mulutnya, "darimana kamu tahu?"tanya Risya memicingkan matanya, "i itu...ahhh baiklah aku akan jujur, tadi mereka mengikuti mu dan kak kevin, mereka semua mengintip acara kak kevin yang menembakmu dengan bunga mawar itu"ucao Michele yang tidak pandai berbohong
"astagaaa, ini jadi semakin menyulitkan"ucap Risya menyentuh pelipisnya dan merautkan wajahnya seakan kerepotan, "kamu tahu Risya, kak kevin itu sangat populer, itu sebabnya semua hal tentangnya selalu menjadi sorotan siswi siswa sekolah Sma kita ini"ucap Michele menjelaskan, "aku juga tak menyangka kak kevin bisa menyukaiku, ku kira dia cuma menganggapku teman"ucap Risya heran, "daripada heran dengan kak kevin, aku lebih heran lagi dengan Okita, sepertinya dia sangat menyukaimu! bahkan dia rela terluka karena kamu"ucap Michele bingung, "oo..aku tidak tertarik"ucap Risya malas, "hei kamu tahu Risya, Okita itu adalah laki laki yang tidak punya ketertarikan yang melebihi ketertarikanya pada perkelahian, kamu tahu, pacarnya saja Yuki sangat jarang dia temui, kadang kadang Yuki di tinggalkan sendirian ketika mereka berdua sedang jalan, apa itu hal yang wajar untuk sepasang kekasih?"ucap Michele yang seakan menusuk kepala Risya, Risya sekarang merasa sangat bersalah
"darimana kamu tahu semua itu?"ucap Risya sedikit berwajah sedih, "tentu aku tahu, untuk membasmi geng berandalan seperti geng Okita itu. aku harus tahu betul latar belakangnya juga kehidupanya"ucap Michele menjelaskan, "seperti stalker saja"ucap Risya datar, "hehh, aku hanya mencari tahu tentang geng geng berandalan saja, yang lain tidak kok"ucap Michele tidak terima, "memangnya seberandal apa gengnya Okita itu?"tanya Risya lagi
mendengar itu Michele memicingkan matanya, "apa hanya perasaanku hari ini kamu tampak lebih banyak bicara dan..penasaran?"ucap Michele menatao Risya, "tidak! aku hanya..."ucap Risya menggantung, "hahh wajar sih ya, orang yang jatuh cinta memang mudah kepo pada orang yang di sukainya"ucap Michele dengan entengnya, Risya terkejut, sekarang pipinya benar benar berwarna merah padam, astagaaa apa Michele gilaa!!
"hihihi, baiklah aku tidak akan menggodamu lagi, geng Okita itu memang geng berandalan, kadang kala geng nya di sewa orang untuk melakukan sesuatu yang kejam, itu sebabnya aku mengincar Okita, pernah kami sekali berunding denganya, katanya dia tidak melarang atau mengijinkan anggotanya untuk melakukan hal hal yang kejam..."ucap Michele menopang dagunya di lipatan tanganya yang ia letakan di atas meja milik Risya, "seberapa banyak memangnya anggota gang Okita hingga bisa melakukan itu semua?"ucap Risya santai, "hanya sedikit sebenarnya, tapi mereka itu cukup kuat, di bandingkan dengan geng ku, aku akan kalah besar, meski di gabung dengan kelompok kakaku pun, aku masih belum yakin bisa menang melawan mereka"ucap Michele sedih
"kakakmu punya geng?"tanya Risya yang tidak pernah mendengar sesuatu tentang kakaknya Michele, "tidak! dia hanya ketua dari perkumpulan perguruan tekwondo di tempatku..ahh aku jadi penasaran antara kamu dengan kakaku siapa yang akan menang kalau bertarung ya"ucap Michele membayangkan, "bagaimanapun juga kekuatan dan tenaga laki laki itu lebih kuat dari perempuan, jadi jika ingin menang, tentu harus mengandalkan skil kan"ucap Risya membuka bukunya, kini guru telah datang, Michele pun segera membalikan kursinya yang tadi sempat ia balikan
kini Michele dan Risya tengah brsiap siap untuk pergi ke kantin, seperti biasa Michele menggenggam tangan Michele erat, bagai sepasang kekasih yang ceweknya kegirangan setelah sekian lama tidak berkencan, ya mungkin seperti itulah kelihatanya, ketika keluar dari pintu kelas Michele segera mengubah auranya ketika melihat Kevin yang berjalan ke arahnya, "ahhh apa dia berniat merebut Risya dariku dan kakaku!!"batin Michele tidak suka, "em apa kami boleh ikut makan bersama kalian lagi?"ucap Kevin sopan dengan tersenyum manis, dia bersikap seakan akan Dirinya dan Risya TIDAK TERJADI APA APA
Michele masih menampilkan aura tidak sukanya, merasa aura yang berbeda dari Michele Kevin sedikit terusik, "tidak ada maksud lain kok"ucap Kevin tersenyum paksa, Michele meredakan auranya, sekarang dia menarik Risya ke arah kantin, "baiklah!"ucap Michele dingin, Michele benar benar menempeli Risya seoanjang istirahat, itu membuat kevin tidak punya kesempatan untuk mendekat hingga istirahat berakhir, alhasil Kevin sama sekali tidak bisa bicara banyak pada Risya karena Michele terus terusan memotong ucapanya dengan topik yang lain
PULANG SEKOLAH
Michele dan Risya tengah berjalan bersama, "apa hari ini kamu akan ke rumah Okita?"ucap Michele bertanya, "entahlah, tapi aku harus kerumahnya dulu untuk mengambil pakaianku, lagipula aku di sana tidak ada gunanya"ucap Risya datar,"benar, tidak ada gunanya kalau dia kini sangat cuek dan tidak peduli padaku"batin Risya sedih, "hehh...paling paling kamu hanya perlu mengganti perbanya saja kan"ucap Michele yang segera menyadarkan Risya, Risya lupa mengganti perban di lengan Okita tadi pagi, betapa bodohnya Risya
__ADS_1
"ahhh aku harus segera kembali ke rumah Okita!"ucap Risya yang langsung mempercepat langkahnya, dia akan mencari taksi, tapi ketia ia keluar dari area sekolah sebuah mobil yang sangat familiar di matanya sedang terparkir di depan sekolah, itu mobil Okita, untuk memastikan Risya mendekatinya, jendela terbuka dan memperlihatkan Okita dengan kacamata hitam miliknya, "masuk!"ucapnya dingin pada Risya, Risya ingin menolak ketika melihat sikap Okita yang berbeda dari yang dulu
tapi niat itu segera di tepis, sekarang tujuanya adalah menggantikan perban di tangan Okita lalu pulang, Risya masuk ke dalam mobil, kini suasananya sangat hening, Okita menatap keluar jendela, sedangkan Risya hanya menunduk, sesekali ia melirik Okita berharap Okita akan berbicara padanya, namun nihil hal itu tidak terjadi hingga sampai di Rumah Okita pun, Okita masih bersikap dingin pada Risya
setelah memasuki penthouse Okita, Okita tampak ingin berjalan menuju kamar yang ada di bawah(kamar kosong), bukan kamar yang ada di atas (kamar Okita), Risya segera mencekal dan menghentikan pergerakan Okita dengan memegangi tanganya, "tunggu dulu!!"ucap Risya dengan sorot mata tajam, Okita menoleh lalu kembali mengalihkan pandangab dari Risya, "kamu tinggal di kamarku untuk sementara dan aku di bawah"ucap Okita menarik kembali tanganya, "perbanmu!!..belum di ganti kan?!"ucap Risya sedikit berteriak masih mencoba mencekal tangan Okita, "aku bisa melakukanya sendiri!"ucap Okita dingin memasuki kamar, ketika kamar ingin menutup Risya segera menghentikan itu
"biarkan aku mengganti perbanmu! setelah itu aku janji aku akan pergi dari sini!!"ucap Risya lantang. Mendengar itu Okita sedikit tidak suka, tapi dia tetap memperbolehkan Risya masuk dan mengobati lukanya, Risya melakukanya dengan rapi, dia masih terus melilitkan perban di lengan Okita, "maaf ya" ucap Risya pelan, mendengar itu Okita menyipitkan matanya dan menatap Risya, "aku pasti telah membuatmu marah dan membenciku, maafkan aku.. aku hanya terlalu emosi"ucap Risya lagi masih melilitkan perbanya di tangan Okita, "aku tidak tahu kamu akan jadi semarah ini padaku...aku"ucap Risya yang tanganya sedikit bergetar, itu tidak luput dari pandangan Okita
Okita memegang tangan Risya untuk menghentikanya membalut perban pada lenganya, dia mendorong bahu Risya hingga Risya terlentang di lantai, dengan sigap Okita mengukung Risya di bawahnya, Okita mencium bibir Risya kasar, Risya hampir kewalahan menghadapi Okita, Okita terus terusan mencumbuinya hingga Okita melepaskan ciuman itu, "itu hukumanmu karena tidak pernah peka denganku, jangan pergi dari sini!"ucap Okita memeluk erat tubuh Risya, melihat Itu Risya terdiam, kali ini dia membalas pelukan Okita dengab sama eratnya
"aku tidak akan melakukan kesalahanku untuk yang kedua kalinya"ucap Risya memeluk erat Okita
TBC
**BAPER SENDIRI SAYA..
π©π©
TERIMAKASIH ATAS DUKUNGANYA
__ADS_1
SAMPAI JUMPA BESOK**!