Cinta Beda Umur

Cinta Beda Umur
Kecurigaan Naori


__ADS_3

.


.


.


.


.


.


Okita menarik Risya hingga ia terjatuh, kesempatan itu di gunakan Okita untuk bisa merebahkan kepalanya di paha Risya, Risya terkejut. "Okita?!" teriaknya. "Tetaplah seperti ini, aku akan tidur" ucap Okita memejamkan matanya, dengan posisi seperti itu entah kenapa kegelisahan di hatinya mereda, itu membuatnya bisa tidur nyaman walau hanya sebentar.


🍁🍁🍁🍁🍁


Okita terbangun ketika surai panjang Risya mengenai wajahnya, Okita menatap Risya yang ternyata tengah tertidur. Okita menyentuh wajah Risya dan sedikit memainkan surainya "Aku tidak akan pernah melepaskanmu," ucap Okita dengan wajah yang dingin.


Okita bangkit dan merebahkan tubuh Risya, kemudian ia kembali berkutat pada pekerjaanya.


.....


.....


Merasa Risya sudah hampir bangun, Okita segera kembali merebahkan dirinya di samping Risya dan memeluk tubuh Risya. Risya terbangun. "Ughhh.. aku ketiduran?" ucap Risya pelan, ia menyadari kalau Okita tidur dengan posisi Okita memeluknya dari belakang, Risya menyingkirkan tangan Okita dan berniat untuk pulang ke apartemenya dulu.

__ADS_1


Namun tanganya kembali di tarik dan bahkan tubuhnya di peluk dengan erat oleh Okita. "Jangan tinggalkan aku!" ucap Okita berpura pura terganggu dalam tidurnya, dia hanya ingin Risya kembali memeluknya. Dan benar saja, Risya memeluknya juga.


"Tenanglah dan tidurlah yang nenyak, aku tidak akan meninggalkanmu..." ucap Risya masih memeluk tubuh Okita, Okita tersenyum.


Beberapa Menit Kemudian


Risya bangkit dan menatap Okita yang masih berpura-pura tidur. "Bagaimana caranya aku menyembuhkanmu..." ucap Risya pelan, Risya berjalan ke kamar mandi.


Okita bangkit dari tidurnya dan menatap kamar mandi sambil tersenyum, "Risya, aku hanya ingin bersamamu untuk waktu yang lama..." gumam Okita yang keluar dari kamar setelahnya.


Okita menelpone bawahanya dan meminta untuk mengantarkan beberapa baju wanita, sudah tentu itu untuk Risya. Okita lalu berduduk di sofa ruang tamunya, memang benar Risya lah yang membuatnya bisa terkena insomnia.


Saat kepergian Risya saat itu membuat Okita frustasi, dia sudah mencari Risya kemana-mana, dia juga saat itu masih dalam kekangan ayahnya yang tidak memperbolehkanya keluar kota. Kalau tetap ia lakukan itu, sudah di pastikan ayahnya akan mencarinya dengan berbagai cara. Bukan hanya itu, ayahnya juga bisa saja menjadikan adiknya untuk bisa memancing dirinya keluar dari tempat persembunyian.


Mengingat bahwa ayahnya tidak memperdulikan adiknya dan hanya menggunakan adiknya untuk mengekangnya dirinya. itu membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Maka dari itu Okita selalu memikirkan cara untuk menemukan Risya sampai-sampai dia tidak bisa tidur, itulah penyebabnya sekarang ia mengalami insomnia.


"Okita?" ucap Risya ketika mendapati Okita tengah duduk di sofa sambil menyesap teh miliknya, entah sejak kapan dia menyukai teh. Okita sedikit menoleh lalu tersenyum.


"Apa kamu lapar?" tanya Okita di kala menyesap teh miliknya, "Tidak sih, tapi kalau di ingat-ingat kamu juga belum makan tadi malam, bagaimana kalau aku masakan sesuatu?" tanya Risya menawarkan. "Boleh ..., aku juga sudah lama tidak merasakan masakanmu" ucap Okita tersenyum tipis. "Baiklah, aku akan memasakanya, tapi apa kamu ada alergi pada sesuatu?" tanya Risya yang tidak ingin dirinya membuat kesalahan.


"ada, aku alergi pada hati, tapi kamu tenang saja, bahan yang membuatku alergi tidak akan ku biarkan ada di penthouseku" ucap Okita kembali menyesap tehnya, "baiklah..." ucap Risya tersenyum tipis lalu pergi ke dapur.


"Di penthouse Okita sekarang, aku tidak melihat seorangpun pelayan, apa dia tinggal sendiri?" batin Risya bertanya tanya sambil mempersiapkan beberapa bahan, dia akan membuat Kari.


Sementara itu, Okita bejalan ke arah dapur dan duduk di sala satu kursi di sana sambik menatap Risya yang sedang fokus memasak. Terlintas di kepalanya suatu kalimat yang membuatnya tersenyum senyum "Risya sepertinya sudah pantas untuk menjadi istri yang baik".

__ADS_1


Belum selesai memasak, tiba-tiba Okita memeluknya dari belakang. "O Okita!" kejut Risya yang kini merasa tidak enak. "Risya, kamu semakin cantik" ucap Okita yang mencium aroma tubuh Risya dari tenguk Risya.


"Okita, ayolah.." ucap Risya merasa terganggu. "Baiklah.." Okita melepaskan pelukanya,"setelah makan kamu pergi bersamaku ya" ucap Okita menawarkan.


"Kemana?" tanya Risya agak curiga. "Kantorku, setelah itu terserah padamu mau jalan jalan kemana" ucap Okita tersenyum, "Baiklah.." ucap Risya melanjutkan acara masaknya. "Di ruang tamu sudah ku siapkan baju untukmu, mandi dan pakailah itu" ucap Okita menatap ke arah masakan Risya yang masih belum matang.


Selesai Makan


Risya dan Okita kini memasuki mobil, mereka akan pergi ke kantor. "Risya ya?" tanya seseorang yang berada di dalam kantor itu, wanita itu memiliki surai hitam pendek dan cantik, dia Naori. "Naori?" kejut Risya yang tidak menyangka teman setimnya itu bisa berada di kantor Okita.


"Oh, aku hanya mengantarkan barang milik suamiku, seperti biasa, dia sangat teledor!" ucap Naori yang menunjuk ke arah seorang laki laki bersurai biru gelap yang duduk di kursi yang letaknya sangat dekat dengan Naori.


Laki-laki itu menoleh ke arah Risya, sekarang dia terkejut. "Risya ya?" ucapnya menebak, "Kaminawa Taki? temanya Kevin ya" ucap Risya yang akhirnya ingat pada sosok laki-laki di depanya. Dia adalah Kaminawa Taki, laki-laki dengan surai biru tua dan mata onyx yang tajam, dia memakai kacamata hingga sekarang.


Risya jarang bertemu dengan Taki, paling hanya dua kali, itu pun karena Kevin yang sewaktu itu pernah mengajaknya makan bersama di kantin. "Kalian saling mengenal?!" kejut Naori tidak percaya.


"Ya, aku dan Taki kenal juga karena Kevin yang berteman dekat denganya" ucap Risya menujuk Taki. "Kau tahu Naori, sepupumu Kevin itu dulunya sangat menyukai Risya!" ucap Taki tertawa. Mereka tidak menyadari seorang laki-laki bersurai putih kini menebar aura gelap, siapa lagi kalau bukan Okita.


Dia tidak suka pada Kevin sejak dulu, dan sekarang mereka malah membicarakan hal tentang Kevin, Okita kesal. "Taki Kaminawa!" tegur Okita yang membuat seluruh ruangan terkejut, siapa yang tidak kenal dengan suara tegas itu, tentu mereka sangat mengenal suara bos mereka.


"Bos?!" kejut Taki yang langsung berdiri dan memberi hormat. "Apa kamu di perkenankan untuk bermalas malasan?, saya tidak menggajihmu untuk itu!" ucap Okita yang langsung menarik pergi tangan Risya. "Maaf tuan!, apa hubunganmu dengan Risya? setahuku Risya mempunyai pacar, dan itu bukan Anda," ucap Naori menatap Okita dengan berani.


"Entah cuman perasaanku, gadis surai hitam ini mirip dengan Risya" batin Okita terkejut. "Dia adal...-"ucap Okita terpotong, "Dia adalah sepupuku!" ucap Risya memotong, mendengar itu Okita tidak suka.


"Begitu ya ..., maafkan saya tuan, saya pikir Anda adalah perebut pacar orang lain" ucap Naori tersenyum polos. Dia ingat orang di depanya adalah orang yang pernah menculik Risya pada misi pertama mereka, saat itu tanpa pikir panjang Risya menyerang Okita dengan pistolnya, sangat terlihat kebencian di mata Risya saat itu. Jadi sangat tidak mingkin kalau mereka hanya sepupu.

__ADS_1


Mendengar penuturan Naori, Okita tidak senang. "Kurasa kamu tahu sesuatu.."


**TBC


__ADS_2