Cinta Beda Umur

Cinta Beda Umur
Rencana Kaoru?


__ADS_3

.


.


.


.


.


"Kalau ke bar, aku juga ikut ya!" ucap Yuki menggandeng lengan Risya, "apa benar mereka sudah dewasa? rasanya masih mirip anak-anak" batin Risya menatap kedepan, kink lenganya benar benar di peluk oleh dua orang, dia berada di tengah tengahnya.


"Ayo ke bar!" teriak Michele terdengan oleh satu ruangan. "Memalukan!" gumam Risya menutup wajahnya sebelah, "benar-benar memalukan" gumamnya lagi.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Risya benar-benar di bawa oleh Yuki dan Michele ke bar.


"Bagaimana kalau kita minum Sake bersama?" ucap Michele menawarkan dengan pandangan mata yang berbinar-binar. "Haa, kalian ini" ucap Risya kesal. "Kak Risya, hanya untuk kali ini ya, Minum sake!" ucap Yuki membujuk dengan mata poppy eyes nya.


"Baiklah..." ucap Risya tidak tahan dengan bujukan Yuki. Yuki tersenyum jahil.


"Bagaimana jika kita ciptakan game seperti dulu?" tanya Michele menawarkan, Risya terkejut, dia tahu dirinya tidak pandai bermain, sudah dapat di pastikan jika dia akan kalah dalam permainan itu.


"Kali ini jangan menolak Risya!" ucap Michele dengan Yuki secara bersamaan menatap Risya dengan intens, Risya pasrah.


Permainan berakhir dengan dia yang kalah telak harus meminum 5 gelas sake, itu gila. Michele 2 gelas dan Yuki 3 gelas.


Seperti biasa, Risya tidak pernah pandai dalam meminum minuman berjenis akohol, dia akan langsung mambuk jika coba coba, daya tahan minumnya hanya mencapai 2 gelas lebih, selebihnya dapat di pastikan dia sudah tidak dapat mengendalikan dirinya lagi.


Sebelum dia meminum gelas ketiga. Okita tiba-tiba datang dan menarik tangan Risya yang hampir saja meminum sake itu. Untuk mencegah dari Risya yang sepertinya ketagihan sake, Okita meminum gelas keempat yang ada di tangan Risya.


"Pulang!" tegas Okita menatap tajam wajah Risya yang memerah. "Aku tidak mabuk Okita" ucap Risya memegangi kepalanya. "Ohh?" ucap Okita menarik tangan Risya dan membuat Risya menubruk tubuhnya, "lalu apa warna merah padam yang ada di wajahmu itu jika bukan mabuk?" tanya Okita masih dalam posisi Risya yang berada di dada bidangnya.

__ADS_1


"Itu ..." ucap Risya memejamkan matanya, "aku pusing, sudah ya aku mau pulang" ucap Risya bersandar di tubuh Okita, Okita menghela nafas berat.


"Kau habis ke salon? kenapa tiba-tiba mengganti gaya rambut?" tanya Okita masih dalam posisi yang sama. "Ya, Michele yang melakukan ini" ucap Risya menunjuk Michele yang ada di sofa merah di dekat mereka.


"He, maafkan aku ya Okita. Sudah lama aku ingin sekali mengganti gaya rambut Risya menjadi seperti itu. Coba kamu lihat, dia cantik kan?" tanya Michele tersenyum menggoda, dia sengaja membuat Risya mabuk dan menelpone Okita ke sini, itu semua sudah di rencanakan olehnya dan Yuki.


Okita menatao wajah Risya, dan entah kenapa sekarang jantungnya berdetak kencang. "Dia benar-benar cantik dengan penampilan seperti ini." batin Okita menatap wajah Risya yang bersandar pada dadanya.


"Hehe, hasil salonku Okita. Bagaimana menurutmu? bagus kan?" ucap Yuki meminta pendapat Okita. "Apa ini permanen?" tanya Okita membelai rambut Risya. "Tenang saja, itu permanen. Bahkan jika dia berkeramas beberapa kalipun gelombang dan warna rambutnya tidak akan pudar ataupun menghilang asalkan di sisir dengan baik. Salon kami memakai alat-alat yang canggih. jadi kamu yenang saja Okita, itu tidak akan merusak rambut Risya." ucap Yuki menjelaskan


"Hn" ucap Okita yang beranjak pergi dengan membantu Risya berjalan keluar bar. "Pasangan yang serasi" ucap Yuki tersenyum, "Perasaanmu sudah menghilang ya pada Okita?" tanya Michele heran pada Yuki. Yuki tersenyum. "Aku punya seseorang yang lebih berharga daripada dirinya, soal cinta aku yakin, cintaku tak sedalam kak Risya" ucap Yuki tersenyum.


Michele mengerti.


Penthouse Okita.


Okita membaringkan Risya di kasurnya dan lalu berbaring di samping Risya. Okita terus menatap wajah Risya.


Risya terlihat gelisah, Melihat itu Okita segera bertanya "ada apa?" tanyanya.


"Tunggu di sini" ucap Okita yang pergi menuruni ranjang dan keluar kamar setelahnya. Namun, selang waktu beberapa menit, Okita kembali dengan membawa makanan yang barusaja ia beli dari luar.


"Ayo makan, apa kamu merasa pusing?" tanya Okita yang tahu betul efek dari meminum akohol. Okita mendekat dan mendudukan Risya sambil menyandarkan kepala Risya kedadanya. "Pusing?" tanya Okita lagi, Risya mengangguk.


"Tapi kamu harus makan dulu, apa perlu mandi air dingin dulu agar kesadaranmu pulih?" tanya Okita menyarankan, dia tidak ingin memaksa Risya saat ini.


Risya mengangguk dan mengambil nampan berisi makanan yamg di bawa Okita. "Biar aku suapi" ucap Okita mengambil sendok yang ada di tangan Risya lalu menyandarkan Risya ke sisi ranjang.


Risya memakan itu, setelah selesai Risya tidur. Melihat itu Okita kembali tersenyum. Okita membawa kembali nampan itu, namun di tengah jalan dia merasakan kepalanya yang agak pusing.


"Ekhh jangan sekarang!" Okita menelpone seseorang untuk menjemputnya dan akhirnya dia pergi meninggalkan Risya sendirian di rumah bersama kunci penthous cadanganya yang ia letakan di atas lemari kecil di samping ranjang Risya.


"Maaf ya" gumam Okita mengecup kening Risya sebelum akhirnya pergi.

__ADS_1


PAGI HARI


Risya terbangun dan menyadari dirinya tidak sedang berada di dalam bar, itu kamar Okita.


"Apa kemarin malam Okita yang membawaku, lalu di mana dia?" pikir Risya tidak menemukan Okita di sampingnya. Dia pun memutuskan untuk keluar, mencari tahu tentang keberadaan Okita, namun nihil tidak ada satupun petunjuk kecuali kertas dan kunci cadangan Okita yang ada di atas lemari kecil.


catatan itu bertuliskan.


*Risya, aku pergi sebentar.


jangan tunggu aku, bekerja saja dan pulanglah dengan aman ke penthouseku.


ingat ya* ...


Risya menurut dan segera pulang ke apartemenya untuk mengambil seragam kepolisianya, hari ini dia akan mendapat sebuah misi menangkap bandar narkotika.


Kepolisian


"Naori, Risya. Kalian di panggil ketua" ucap Rin yang menuntun keduanya ke ruang khusus tim mereka.


"Baiklah, semua telah berkumpul. Jadi kita akan me..-" ucap Rin segera terpotong oleh ucapan Kaoru, "Cuku!" ucapnya lantang, Rin tidak mengerti apa kesalahanya hingga Kaoru menghentikan penjelasanya.


"Biar aku yang memimpin rapat kali ini" ucap Kaoru tersenyum. Kini seluruh orang di ruangan itu terkejut, pasalnya Kaoru jarang sekali tersenyum dan mau melakukan hal hal merepotkan seperti memimpin rapat kali ini.


"Baiklah, misi kita kali ini adalah menangkap bandar narokotika yang ada di jalam Aikatteru 23 nomor 4, di duga di jalan sempit itulah bandar narkotika di jalankan secara rahasia. Aku ingin kalian sedikit menjalankan drama bersama mereka bagaimana?" tanya Kaoru melirik Risya yang kini bertambah cantik dengan gaya rambut kelombang yang di ikatnya.


"Drama?" tanya Rin tidak mengerti. "Kita akan sedikit buat keributan di sana hingga orang orang sana keluar, jika kita hanya menyusup kedalam. itu akan jadi kurang seru" ucap Kaoru tersenyum jahil sambil sesekali melirik Risya dan Rin. "apa kalian setuju?"


**TBC


SAMPAI SINI DULU YA


MAAF NIH UNTUK ANUNYA...

__ADS_1


HAHH POKOKNYA MAAF YA


TERIMAKASIH**...


__ADS_2