
.
.
.
.
.
Risya terkejut, "Kenapa kamu menjadi semesum ini setelah menikah!" ucap Risya sedikit berteriak dengan wajah yang benar-banar memerah sempurna.
"Oh jangan lupa, setelah ini kita akan mengadakan pesta pernikahan" ucap Okita dengan seringainya
ππΊππΊππΊππΊ
Kini Risya dan Okita telah sampai pada sebuah toko baju pernikahan, ya tepatnya mereka akan memilih baju untuk gaun pesta pernikahanya nanti.
"Okita.. aku tidak yakin dengan ini. Aku bahkan belum memberi tahu orang tuaku" ucap Risya menatap gaun-gaun yang ada di hadapanya. "Memangnya kenapa?" ucap Okita merangkul pinggang Risya tiba-tiba.
"Kalau kamu mau memberitahu orang tuamu hari ini, kita masih sempat membawa mereka untuk acara besok" ucap Okita tenang. "Tapi.. apakah mungkin ada pesawat untuk ke sana di jam begini. Setahuku pesawat untuk ke sana sudah berangkat dari 2 jam yang lalu" ucap Risya mengingat-ngingat.
"Siapa bilang kita akan memakai pesawat umum? aku punya pesawat pribadi, kenapa tidak pakai itu saja?" ucap Okita memegangi dagu Risya agar wajah mereka bertatapan.
Risya menghela nafas berat. "Baiklah, baiklah tuan Ceo." ucap Risya menekan kata 'Ceo' sabil mendorong dada Okita agar tubuh Okita menjauh darinya. "Aku harus menelpone orang tuaku dulu" ucap Risya berjalan menjauh dari Okita.
"Entah kenapa aku punya perasaan kalau kamu bisa saja akan meninggalkanku nanti" batin Okita menatap punggung Risya yang berjalan menjauh darinya sambil memegangi ponsel di samping telinganya.
....
"Ya kakak?" jawab suara di seberang sana. "Itu aku.. emm hari ini aku akan kesana, beritahu ayah dan ibu untuk berada di rumah ya, ada sesuatu yang mau aku bicarakan pada mereka" ucap Risya agak gugup.
terdengar sedikit suara tawa Sugi di seberang sana, "Haha, aku tahu kak. Emila dan Rem yang mengatakanya padaku kalau kak Okita akan menikahimu, jadi aku memberitahu orang tua kita terlebih dahulu. Kalau kakak memang ingin ke sini, aku akan menyuruh mereka untuk menyambut kakak ipar di rumah" ucap Sugi dengan suara tawa khasnya.
__ADS_1
Risya terkejut, "Jangan bilang kalau kamu yang membantunya untuk mendapatkan segala informasi tentangku dan membantunyaengurus surat nikahku?" ucap Risya menebak.
"Kakak memang pintar. Kan aku sudah bilang, aku lebih setuju kakak dengan kakak ipar" ucap Sugi masih tertawa.
"Baiklah, aku akan ke rumah hari ini. Emm.. Sugi apa kamu bertemu Key di sana?" tanya Risya yang tiba-tiba menanyakan keberadaaan Key. Mau bagaimana pun, dia belum memberitahu Key tentang pernikahanya, dia merasa bersalah atas itu.
"Ohh kak key.. itu... em, tidak apa kak, aku akan mengurusnya. Kakak baik-baik saja dengan kakak ipar ya, jangan membuatnya marah" ucap Sugi lagi.
"Benar-benar adik yang menjengkelkan. Bahkan kamu lebih mendukung Okita daripada aku. Sebenarnya Okita itu siapamu sih?!" ucap Risya sedikit kesal.
"Eh kakak, bukankah kamu sudah tahu?, aku mentukai Emilia, jadi apa salahnya kalau aku juga mendukung kakak iparku?" ucap Sugi yang segera di tutup telpone oleh Risya.
Risya menghela nafas berat. Namun dirinya menangkap sebuah sosok dalam keramaian yang menatapnya tajam, tunggu, itu Key. "Key..." ucap Risya terdiam melihat sosok itu.
Key terlihat membuka mulutnya seperti mengatakan sesuatu pada Risya dan akhirnya berbalik menjauh, itu membuat Risya sontak ingin mengejarnya.
Namun, lagi-lagi Okita menahanya dengan menangkap tanganya kali ini. "Kamu mau kemana? kita belum selesai memilih gaun, setelah itu kita akan pergi bertemu ayah dan ibu mertuaku" ucap Okita menatap Risya.
Risya terdiam masih memandang sosok yang audah menghilang dsri pandanganya. "Siapa yang kamu lihat?" tanya Okita yang membuat Risya terkejut. "Tidak, aku hanya.. melihat sosok yang begitu familiar bagiku, mungkin itu teman kuliahku" ucap Risya tersenyum tipis lalu mengikuti Okita ke arah dalam toko baju.
......
Risya kini telah sampai di sebuah lestoran ternama bersama Okita. Risya memesan makanan, tapi kemudian dia kembali melihat sosok yang menyerupai Key menatapnya dari balik dinding.
Tidak menunggu lama, Risya segera berdiri "Aku ketoilet sebentar ya" ucap Risya tersenyum tipis lalu berjalan ke arah toilet. "Baiklah.." ucap Okita menyesap teh yang ada di depanya.
Sebelum menuju tempat toilet, Risya menatap sosok yang bersandar pada dinding lorong menuju toilet. Risya sudah mengetahui sosok itu. Itu key dengan jaket yang tudung kepalanya menutupi rambut miliknya.
Begitu Risya datang, Key menoleh dan menatap Risya dengan tatapan yang sama. "Key.." lirih Risya memanggil nama Key ketika jarak mereka sudah mencapai 3 meter.
"Kenapa?" tanya Key menundukan kepalanya, Risya merasa bersalah atas itu. Mau bagaimanapun hubunganya dan Key masih belum ada kata putus, apalagi Risya telah berjanji akan mengadakan acara pertunangan setelah ini. Tapi apa yang terjadi? Risya malah menikah dengan Okita. Itu benar-benar membuat Key kecewa.
"Key, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku.. tidak bermaksud menghianatimu. Tapi, Okita membutuhkanku, dia harus sembuh Key!" ucap Risya merasa bersalah. "Apa perlu kalian menikah? melihatmu bermesra-mesraan saja sudah membuatku sakit. Lalu apa sekarang? kamu dan dia menikah!?" ucap Key berjalan mendekat.
__ADS_1
"Risya! aku tidak suka di permainkan!" ucap Key marah. "Key.. aku... Baiklah, aku tahu kamu marah padaku. Kurasa hubungan kita hanya akan sampai di sini saja. Aku tidak ingin membuatmu lebih sakit dari ini, apalagi sekarang aku telah berstatus bersuami. Maafkan aku Key" ucap Risya berbalik dan mengusap air mata yang hampir jatuh dari pelupuk matanya.
"Tidak!" teriak Key mencengkram tangan Risya kuat. Untungnya tempat itu adalah lorong-lorong yang sepi, dengan begitu dapat di pastikan kalau teriakan Key tidak akan mengundang perhatian orang-orang.
"Key! lepaskan!" ucap Risya mencoba melepaskan cengkraman Key. Cengkraman itu cukup kuat, membuat Risya agak keksusahan untuk melepaskan tanganya dari genggaman Key. Namun, mau bagaimanapun juga, cengkraman Key saat ini tidak bisa di bandingkan dengan kekuatan Okita.
Risya berhasil melepaskan tanganya dari tangan Key. Dapat di lihat akibat cengkraman itu, tangan Risya tampak memerah. Risya memegang lenganya yang memerah itu sambil memandang Key terkejut.
"Key! kenapa kamu menjadi kasar seperti ini?" tanya Risya menatap Key kecewa. "Itu salahmu! jika bukan karena kamu yang menghianatiku seperti ini, aku tidak akan berubah!" ucap Key kini mencengkram kedua bahu Risya.
Key terkejut di kala wajahnya merasakan hantaman yang begitu kuat hingga menjatuhkanya ke lantai. "Jangan sentuh istriku!" ucapnya dengan suara yang mengerikan.
"O.. Okita?" ucap Risya ikut terkejut dengan keberadaan Okita yang tiba-tiba berada di depanya. Key mengusap samping bibirnya yang terdapat darah di sana. "Hehh hahahaha ha" tawa Key keras.
"Istrimu? apa kamu sadar apa yang kamu katakan?" tanya Key menatap tajam Okita, begitupun Okita yang ikut menatap Key dengan tatapan membunuhnya. "Kamu telah berani mengambil wanitaku! maka aku juga tidak akan segan lagi melawanmu tuan Hanji! mari kita lihat siapa yang akan bertahan kali ini" ucap Key dengan tatapan sengit.
"Aku tidak takut padamu! kamu juga tidak akan bisa menang melawanku!" ucap Okita yakin. "Begitukah? bagaimana kalau kita buktikan saja, dab untukmu Risya.. aku bertaruh kamu sendiri yang akan datang padaku nanti!" ucap Key menatap Risya dengan senyim devilnya.
"Dia bukan Key yang aku kenal" batin Risya merasa tidak nyaman ketika melihat senyuman yang di tunjukan Key padanya. "Aku tidak akan menyerah!" ucap Key pergi setelahnya.
Kepergian Key membuat Risya merasa tidak nyaman, apalagi dengan Okita yang masih terdiam memunggunginya. Okita segera berbalik dan memeluk Risya erat. "Aku tidak akan melepaskanmu! berjanjilah kamu tidak akan meninggalkanku karena dia! Risya! aku mencintaimu istriku" ucap Okita sedikit lirih.
Bahkan detak jantung Okita dapat dengan jelas Risya rasakan dalam posisi itu. "Tidak, ada apa denganya" batin Risya ketika merasakan detak jantung Okita tidak normal, bukanya berdetak cepat, tetapi berdetak dengan sangat lemah. "Okita?! apa yang terjadi padamu?!" ucap Risya memegangi kedua bahu Okita.
"Aku.. aku hanya merasa pusing" ucap Okita memegangi kepalanya lalu menatap Risya dengan senyum di bibirnya, "Aku baik-baik saja, ayo kita makan siang" ucap Okita menggenggam tangan Risya.
Sedangkan Risya hanya diam. Dia melihat kalau wajah Okita tampak pucat, apalagi dengan detak jantungnya yang sangat lemah. "Okita... " gumam Risya lirih menatap punggung Okita yang masih menggenggam tangan Risya dan menariknya ke arah meja mereka.
**TBC
SAMPAI SINI DULU YA
BILANG SAJA JIKA EPISODE INI KURANG MEMUASKAN, THOR AKAN LEBIH BERUSAHA MEMPERBAIKINYA LAGI
__ADS_1
JAA NEE**