
.
.
.
.
.
Katakan padaku apa itu artinya cinta?
aku sungguh tidak mengerti apa maumu
aku membencimu?
ah tidak...
aku mencintaimu..sangat mencintaimu
namun rasanya hatiku tidak ada artinya
di mata dan hatimu...
:)
(diary Risya)
.
.
__ADS_1
.
.
.
"**Risyaa apa kamu gila!!"ucap Michele segera menerjang tubuh Risya, namun sayang dirinya telah terlambat, Risya sempat menghabiskan gelas terakhir, dirinya sekarang mabuk berat, "ah Michele, kepalaku..pusing hik"ucap Risya di kala mabuk beratnya,"kamu mabuk!!?, astagaaa kenapa kamu minum cepat cepat bir tadi!!"ucap Michele marah, namun kemarahanya terhentikan ketika sebuah dering telpone nya berbunyi, ia harus mengangkatnya karena telpone itu dari orang tuanya, Risya pun kini di tinggal Michele sebentar
Risya yang kala itu tidak sadar berjalan oleng olengan keluar ruangan, namun Risya terkejut ketika mendapati Okita dan seorang gadis bersurai biru tua terlihat sedang bersama, bahkan mereka terlihat sedang bergembira, "O..Okita...Aku benci! hik"gumam Risya di kala mabuk beratnya, perlahan ia berjalan mendekat ke arah Okita dan gadis itu
ππππ**
Okita dan gadis itu kini tengah berbincang, posisinya gadis itu membelakangi Risya sehingga Risya tidak dapat melihat wajah sang gadis, Okita yang tadinya sedang menatap ke arah gadis bersurai biru tua itu mulai menyadari keberadaan Risya di belakangnya, Okita menyeringai
Risya yang tadinya berniat ingin menghampiri kedua pasangan itu langsung mengubah niatnya ketika melihat Okita menatapnya bahkan menyeringai padanya, "tidak!! aku ke sana ...sama saja dengan masuk ke lubang buaya.."batin Risya yang tengah mabuk memundurkan langkahnya, melihat itu Okita segera bertindak, ia membisikan sesuatu pada gadis bersurai biru tua itu sebelum mengejar Risya yang kini berbalik berjalan menjauh, dia tidak berlari karena tidak mau mengambil resiko terjatuh di kala pusing yang kini menerpa kepalanya.
Risya tersentak ketika tanganya di tarik dan tubuhnya di dorong menubruk dinding sisi bar,"jangan kabur.."ucap seseorang yang mekakukan itu pada Risya, sudah dapat di pastikan bahwa yang melakukan itu adalah Okita, suara musik kini menyamar di telinga Risya, bahkan suara Okita rasanya menjadi lebih nyaring daripada musik musik itu, tempat itu sedikit gelap menyebabkan wajah Okita sulit untuk di lihat
Risya tidak menurut ucapan Okita, itu membuat Okita sangat kesal, tanpa ba bi bu Okita menggendong Risya dengan entengnya keluar bar, itu membuat Risya terbelalak, sebenarnya itu bukan kali pertama dia di gendong Okita, tapi jika di tempat umum seperti bar ini, itu akan terlihat sangat aneh ketika tubuh Okita yang lebih pendek dari tubuh Risya menggendong nya dengan begitu entengnya
"Turunkan akuuuu!!!"terik Risya berontak dari gendongan Okita, Okita diam saja, ia segera memasukan Risya ke dalam mobil miliknya yang memang ada seorang supir sebagai pengemudinya, ia segera ikut masuk juga, "ke penthouse ku!"ucap Okita memerintah supirnya, Mobil pun segera di jalankan
"kamu mauu...membawakuu ke mana haaa..hik..datangi saja pacarmu bodohhh!!"ucap Risya memukul Okita, dia dalam keadaan mabuk, itu sebabnya pukulanya sama sekali tidak teratur, Okita segera bisa menangkis serangan itu dan memegangi ketua tangan Risya erat, "Lepaskan!!"ucap Risya berusaha menendang Okita, dengan sigap Okita kembali menghindarinya, "abilkan aku tali yang ada di bawah sana" ucap Okita memerintah supirnya dengan menunjuk kotak yang ada di dekat supir, supir pun segera menyerahkan talinya pada Okita
Alhasil tangan Risya sekarang di ikat di belakang punggung , "lepaskan aku!! berengsek kamu Okitaa!!"teriak Risya di samping kuping Okita yang kini menyilangkan tanganya di depan dada, sebenarnya Okita sedari tadi sudah mencoba sabar, namun kelakuan gadis di sampingnya inilah yang membuat kesabaranya menghilang entah kemana, Okita segera memerangkap Risya di bawahnya, tanpa ba bi bu dia langsung mencium bibir Risya kasar, mendapat perlakuan seperti itu membuat Risya tambah kesal, perutnya mual? tentu, tapi dia berusaha menahan dirinya agar tidak muntah, dan itu berhasil
ciuman itu tidak berakhir hingga akhirnya Okita merasa pasokan oksigenya berkurang, di situlah ia baru melepaskan Risya, jelas ciuman itu membuat libido nya naik, namun ia berusaha menahanya, "jangan berisik kalau kamu tidak mau aku melakukan hal yang lebih daripada ciuman!"ucap Okita penuh penekanan, "berengsek!!...dasar kamu brengsek,apa kamu pikir aku ini mainanmu ha? aku.. tidak mengerti!!, sebenarnya apa maumu!!"ucap Risya sedikit berteriak, namun yang lebih mengejutkan Okita sekarang adalah Risya yang menangis, "tidak aku hanya mengujimu"ucap Okita datar dan ingin tahu apa yang akan di lakukan Risya selanjutnya, "bodohh..hahaha..dasar bodoh!!"ucap Risya menendang pintu mobil dan berniat melompat, akal sehatnya sekarang benar benar hilang, pusing di kepalanya pun semakin menjadi jadi
Okita terkejut, dengan sigap ia menerjang tubuh Risya dan menariknya ke dalam pelukanya, Okita lalu segera mengunci pintu mobil, "lepaskan aku!!!"teriak Risya berontak, untungnya tanganya sekarang masih terikat, itu memudahkan Okita dalam menghentikan aksi Risya tanpa pemberontakan, "apa kamu gila ha!!"ucap Okita mampu membuat air mata Risya kembali mengalir, "kamu tidak mengerti Okita!! kamu tidak mengerti!"teriak Risya penuh emosi
"apa yang tidak aku mengerti darimu? jangan bodoh, masa kamu mau bunuh diri dengan melompat ke luar mobil saat mobil melaju dalam kecepatan yang cukup tinggi?"ucap Okita sedikit berteriak, Risya kini menangis, posisinya sekarang Risya sedang di peluk erat dari belakang oleh Okita
__ADS_1
Risya kemudian menunduk, "aku....mencintaimu Okita.. kamu tidak akan mengerti bukan?..hik ak-"ucap Risya yang kemudian kehilangan kesadaran sepenuhnya, dia pingsan
"Risya?!"kejut Okita setelah melihat ketidaksadaran Risya, "astaga kamu minum berapa banyak sih"ucap Okita lagi kini membenarkan posisi agar Risya berbaring di pangkuanya, "dia mencintaiku...,apa itu benar?"gumam Okita sembari menyentuh kulit wajah Risya, supir yang mengantar Okita hanya bisa diam melihat pemandangan di belakangnya melalui kaca yang mengarah ke tempat duduk bagian belakang, Okita menyadari itu, "apa yang kamu lihat! fokus ke jalan!!"ucap Okita tegas sehingga membuat sang supir mengeluarkan keringat dingin
beberapa jam kemudian~
saat itu Risya tengah berbaring tak sadarkan diri di sebuah kasur king size berwarna putih angsa, kesadaranya mulai pulih, tapi tidak kepalanya yang masih sangat terasa pusing, Risya membuka matanya perlahan dan menusuri tiap inci dari ruangan itu, Risya terkejut ketika menyadari ruangan itu adalah kamar Okita, "kenapa aku bisa sampai ke sini..akhh"batin Risya yang kemudian merasakan sakit di kepalanya, Risya mencoba bangkit tapi tidak berhasil, kali ini bukan karena keadaan tubuhnya, tapi karena selingkar tangan yang memeluknya erat dari samping, Risya segera menoleh ketika menyadari itu
ia begitu terkejut ketika melihat wajah Okita begitu dekat dengan wajahnya, ini kali pertama Risya melihat wajah Okita yang sedang tertidur, Risya memilih pasrah di dalam pelukan Okita, dia sama sekali tidak punya tenaga untuk berontak, tapi yang membuatnya bingung adalah bagai mana dia bisa sampai di kamar Okita?, "seingatku malam itu aku meminum 6 gelas bir, Michele memarahiku dan...aku....astagaa aku lupaa semuanyaa, semoga aku tidak melakukan hal yang tidak tidak pada Okita atau yang lainya"batin Risya penuh rasa malu
Okita menyadari ada pergerakan di sekitarnya, dia mun membuka mata dan melihat Risya yang sudah sadar memandangi langit langit kamar Okita, Risya menoleh ke arah Okita, Okita yang menyadari hal itu segera menutup matanya kembali, "Lihatlah, segitu brengseknya wajahmu itu!.."gumam Risya seakan berbicara sendiri, gumaman itu dapat di dengar Okita dengan jelas, "brengsek? hahh sudah berapa kali aku hari ini aku mendangar kata itu dari mulutmu.."batin Okita kesal, dia masih berpura pura tidur
"kenapa aku bisa jatuh cinta pada bocah iblis sepertimu?"gumam Risya kembali, "astagaa apa yang ku katakan sih.. aku tidak mencintaimu!! aku membencimu!! sangat sangat membencimu!! kau dengar aku ha!"gumam Risya lagi mendorong dorong pangkal hidung Okita dengan jari telunjuknya, "apa apaan gadis ini!!"batin Okita kesal, tapi di hatinya tersimpan rasa senang karena akhirnya ia tahu perasaan Risya padanya
"haa...aku lelah sekali.. sangat lelah.."ucap Risya pelan lalu menutup matanya dengan kedua tanganya,
"jadi kamu ingin aku berhenti?"ucap Okita sudah tidak tahan berpura pura, Risya segera menoleh dan mendapati Okita menatap matanya dengan sangat dalam.
***Tbc
SAMPAI SINI DULU YA
MAMPIR JUGA KE CERITAKU
Love you without limits
VOTE,LIKE,RATE,AND COMENT
PASTI AKU BALAS DENGAN JUMLAH YANG SESUAI
TERIMA KASIH BANYAK
__ADS_1
SEE YOU THE NEXT CHAPTER***