
Sedikit ku ceritakan tentang keluarga kecil Adi saat awal aku mengenal keluarga Adi sampai beberapa lama dekat dengan Adi. Sebelum aku mengenal dekat dengan Adi, aku sudah lebih dulu kenal dan dekat dengan orang tua Adi. Penilaianku di awal, Tante Ratna orang yang ramah dan baik dan Om Budi orang yang cuek dan terlihat arogan tapi beliau baik denganku.
"Ri... makan disini aja ya... Tante udah masak." Tante Ratna masuk tiba - tiba ke kamar tempat Ratu dan aku bermain.
"Oh iya tante terima kasih..." Jawabku sambil tersenyum.
Tante Ratna pun keluar dari kamar dan kembali ke dapur.
"Aunty Riri..." Panggil Ratu saat aku sedang sibuk memainkan ponsel.
"What are you doing?" Tanya Ratu dengan mata melotot.
"Hmmm nothing..." Jawabku singkat, lalu langsung mematikan ponsel dan fokus main dengan Ratu lagi.
"Ri..." Tante Ratna memanggilku lagi sembari membuka pintu kamar.
"Ihh Andung nih..." Sahut Ratu menggerutu.
"Makan dulu yuk, udah mateng masakan Tante." Ajak Tante Ratna.
"Oh iya tante..." Aku pun berdiri dan izin dengan Ratu untuk makan sebentar, "Princess... Aunty Riri makan dulu yaa sebentar."
"Ikut..." Kata Ratu yang mengikuti keluar kamar.
"Duduk sini Ri, Tante udah siapin piringnya. Itu nasinya ambil di rice cooker atas ya Ri...." Sahut Tante Ratna saat aku keluar kamar.
"Sini Ri makan dulu." Sahut Om Budi sembari mengambil lauk di meja makan.
"Iya Om... Iya Tante..." Jawabku sembari mengambil piring yang sudah di siapkan.
Aku pun mengambil nasi lalu duduk di meja makan bersama mereka. Tampak lauk pauk yang di hidangkan ada ikan asam pedas dan kacang panjang.
"Tante gak banyak masaknya Ri..." Sahut Tante Ratna saat semua sedang menyantap makanan.
__ADS_1
"Andung... Ratu mau susu." Kata Ratu merayu Tante Ratna yang sedang makan.
"Yaudah Andung buatin dulu ya nak, habis itu Ratu tidur ya... Kasihan Aunty Riri capek nak..." Jawab Tante Ratna dengan nada pelan.
"Hmmm okelah, tapi susunya 2 botol yaa...." Jawab Ratu dengan negosiasi.
Tante Ratna pun langsung membuatkan susu untuk Ratu. Tampak terlihat lusuh dan lelah saat menyiapkam susu untuk Ratu. Saat aku belum selesai makan, Om Budi yang menemani Ratu di kamar.
"Besok Ratu ada mbaknya nih." Sahut Tante Ratna saat aku beberes merapihkan meja makan.
"Oh ya Tante?" Tanyaku kaku.
"Iya.... Mamanya yang mau... Katanya biar Tante gak terlalu capek Ri..." Jawab Tante Ratna.
Saat Tante Ratna menceritakan hal itu aku merasa agak bangga dengan Ka Ani, walaupun dia wanita karir, dia masih tetap peduli dengan orang tuanya dan setiap weekend mereka sering jalan bersama atau family time.
***
"Adi sering loh cerita soal kamu Ri..." Terlihat meyakinkan dan serius.
Aku hanya tersipu malu dan tersenyum kecil.
Kalau Bang Ozzy, tidak terlalu banyak bicara denganku. Bahkan cenderung cuek dan santai gayanya. Tapi seperti suami yang care dan sayang dengan istrinya.
"Si Adi gimana orangnya Ri?" Tanya Ka Ani saat aku sedang duduk berdua di depan TV.
"Yaaa baik kok Ka...." Jawabku sembari mengangguk - angguk.
"Kalo dia aneh - aneh marahin aja Ri... Keseringan nongkrong dia tiap weekend. Mama suka cerita sama Kakak." Kata Ka Ani dengan nada pelan supaya tidak terdengar yang lainnya.
"Hahaha oh gitu yaa Ka.." Jawabku singkat.
Aku bingung saat itu karena posisiku tidak jelas dengan Adi, bahkan dia tidak pernah menyatakan perasaannya denganku.
__ADS_1
"Ri... Besok bareng Ka Adi gak?" Tanya Adi yang baru keluar dari kamarnya.
Yaa suasana kali ini saat Ka Ani, Bang Ozy dan Ratu berkunjung ke rumah Mama Papanya. Karena saat itu Ratu memanggilku, aku jadi harus datang menghampirinya dan bermain dengannya di rumah Adi.
"Gak tau deh Ka, belom ada info masuk jam berapa Ka." Jawabku pelan.
"Riri kalo gak sama Adi berangkat naik apa?" Tanya Ka Ani.
"Aku naik angkot kok Ka..." Jawabku santai.
"Ih kok berani sih Ri naik angkot? Gak naik taksi aja?" Tanya Ka Ani dengan mata mendelik.
"Hahaha udah biasa kok Ka..." Jawabku sambil terkekeh.
"Ih bahaya Ri.. Nanti kalo ada orang jahat gimana? Ada penculik, pencuri, preman. Duh macem - macem deh." Sahut Ka Ani khawatir.
Aku agak terkejut mendengar pernyataan Ka Ani yang begitu menakutkan, padahal sejak SMA aku sudah naik kendaraan umum seperti angkot. Bahkan walaupun aku anak tunggal, kedua orang tuaku tidak pernah memanjakanku seperti tidak boleh baik angkot atau ojek.
"Yaa aku kalo gak naik angkot yaa sama Mama atau Bapak kok Ka..." Jawabku.
"Naik mobil kan?" Tanya Ka Ani lagi.
"Kalo sama Mama naik motor Ka, kalo sama Bapak kadang naik mobil kalo mau sekalian jaga di klinik, tapi kalo gak ya naik motor." Jawabku.
"Yaampun naik motor? Ih Kakak gak berani Ri, takut jatuh. Mama sama Papa juga gak ngebolehin Kakak sama Adi tuh naik motor dari dulu. Karena Papa dulu pernah jatuh dari motor." Jawab Ka Ani dengan heboh.
"Insya Allah gak jatuh Ka, walaupun dulu aku pernah jatuh dari motor hahaha.. Tapi ya enak naik motor bisa nyelip - nyelip soalnya Ka..." Jawabku dengan tawa.
"Tuhkan ih, hati - hati loh Ri..." Jawab Ka Ani lagi.
"Yaudah lah Ka, Riri udah biasa juga..." Sahut Adi.
Setelah itu Ka Ani diam tidak lagi bicara. Sejujurnya kali ini aku kurang cocok dengan Ka Ani, terlalu berlebihan. Apa memang aku harus naik mobildan taksi supaya menghindari maut? Kan gak juga. Apalagi posisiku saat itu masih mahasiswi yang tidak banyak uang. Jadi lebih baik uangnya buat makan atau di tabung daripada harus naik taksi setiap hari dan itu pasti akan memakan biaya yang banyak. Belum lagi sekolah kedokteran yang mahal, mana mungkin aku meminta lagi uang jajan yang lebih.
__ADS_1