
Beberapa kali saat ingin membeli seserahan Adi selalu beralasan. Bukan hanya beralasan saja, terkadang dia lupa atau mungkin dia pura - pura lupa saat itu. Dia benar - benar banyak bicara saja. Janji akan memberikanku seserahan ini itu tetapi tidak pernah dia tepati, gayanya selangit padahal dia bukan apa - apa. Aku benar - benar kesal saat Adi sudah mulai tidak jelas.
"Ri.. Hubungan lo sama Adi gimana sih sebenarnya?" Tanya Wina agak kesal.
"Boleh gak usah nanya - nanya dulu Win? Gue lagi pusing banget asli." Jawabku ketus.
"Hmm yaudah yaudah.. Gitu aja marah. Inget kata almarhum bokap gue kan Ri? Adi tuh bukan laki - laki normal. Aneh dia tuh.. Gue sama nyokap gue aja liatnya beda. Maaf kata ya.. Kayak bencong." Jawab Wina pelan.
"Hmm.. Udah ah gue pusing. Mau belajar aja buat ujian.. Bye.." Jawabku lalu pergi meninggalkan Wina.
"Ih bener - bener lo yaa Ri." Jawab Wina kesal.
Aku benar - benar tidak mau bercerita dengan siapapun tentang Adi saat itu. Aku hanya ingin menguncinya rapat - rapat. Sampai akhirnya, Aku, Mama dan Bapak harus benar - benar bicara bertiga saja di dalam rumah tanpa ada yang tau.
"Ri.. Kita ngobrol dulu yuk bertiga.." Sahut Bapak saat baru pulang dari jaga klinik.
Aku dan Mama pun siap - siap duduk di depan ruangan TV. Hatiku terasa berat jika diajak berdiskusi dengan Bapak saat - saat ini. Rasanya aku mau menghindar dan lari saja.
__ADS_1
"Bapak mau ngobrol soal kamu sama Adi.." Kata Bapak membuka pembicaraan.
Aku diam siap menunggu Bapak bicara. Aku menghela nafas.
Mama tampak serius dan seperti ketakutan, "Ada apa sih Pak?" Tanya Mama dengan wajah tegang.
"Bapak sudah bertemu dengan Omnya Adi, Om Ilyas. Tadi bapak sudah ngobrol dengan beliau. Lalu sepertinya beliau tidak setuju jika acara di mundur.. Gini gini.. Ri.. Kamu itu dari awal sama Adi bagaimana? Bapak sama Mama kan belum tau ceritanya dari awal gimana kalian ini akhirnya bisa mau nikah.."
Aku terdiam.
"Jadi maksudnya gimana Pak? Ini batal?" Sahut Mama dengan wajah emosi dan mata sudah berkaca - kaca.
"Jadi gini Pak, diawal kan memang kayak aku disuruh Mama dan Almarhumah Eyang Putri untuk berkenalan dengan Adi. Tadinya aku gak mau Pak, karena aku udah kayak aneh liat Adi. Kayak beda aja.. Terus ada waktu dimana Tante Ratna itu nyuruh Adi nganterin aku ke kampus. Aku tau itu Tante Ratna sengaja supaya aku deket sama anaknya. Sampai akhirnya kita sering bareng dan ternyata kita saling cocok Pak. Dan aku ngerasa memang Tante Ratna suka sama aku.. Makanya Adinya juga klop sama aku." Jelasku dengan gemetar.
"Jadi ini semua Mamanya kan yang mau? Bukan anaknya?" Tanya Bapak dengan wajah seperti sudah tau.
"Loh tapi selama ini Adinya terlihat memang bener sayang sama Riri kok Pak." Sahut Mama.
__ADS_1
"Iyaa tapi kan diawal karena ibunya.." Jawab Bapak.
"Jadi gini Ma.. Pak.. Memang saat diawal Adi deket sama Aku itu dia tuh langsung ditanya sama orang tuanya, gimana saat kenal sama aku. Ternyata Adi juga nyaman sama aku, dia suka juga sama Aku. Nah akhirnya lah aku sama Adi komitmen, sampai beberapa tahun dan tahun lalu dia minta serius makanya dia minta izin sama Mama dan Bapak.. Karena... Mamanya yang minta sebenarnya." Jelasku.
Bapak menggangguk dan tersenyum sinis.
"Terus ini jadinya gimana Pak? Kita tuh malu loh sama tetangga, keluarga. Ya Allah udah DP gedung, Catering, Souvenir, Undangan. Udah beli bahan buat keluarga, bahkan sudah di bagi - bagi ke keluarga Pak.. Ya Allah kasihan anak kita Pak.." Sahut Mama sembari menangis.
Aku pun ikut menangis saat melihat Mama menangis tersedu - sedu.
Yaa yang pasti, aku, Mama dan Bapak akan sangat malu karena rencana pernikahan gagal hanya karena pihak laki - laki tidak mau sama sekali memberikan uang. Sulit rasanya untuk mereka memberikan uang. Bahkan semua DP dari Bapak. Tega.
"Daripada nantinya gak baik untuk Riri, lebih baik kita malu sekarang La. Anak satu - satunya loh.. Belum jodohnya.." Jawab Bapak dengan mata berkaca - kaca.
Mama terus menangis tersedu - sedu dengan penyesalan. Aku menahan air mata agar terlihat kuat dan tegar.
"Ri.. Sekarang kamu fokus aja ujian yaa. Sebentar lagi kamu mau ujian terus wisuda Sarjana Kedokteran. Mungkin memang jalannya kamu harus selesaikan sekolahmu dulu Ri. Dan kalaupun kalian jodoh pasti akan kembali lagi kok.." Sahut Bapak sembari mengelus pundakku.
__ADS_1
"Ya Allah nak, yang kuat ya nak.." Sahut Mama sembari mengelus kepalaku.
Aku ingat sekali hari itu, dadaku terasa sangat sesak, kepalaku terasa berat, pikiranku sudah kacau. Di saat aku mau ujian masuk ke koas, aku harus diberikan ujian sebesar ini dari Allah. Ini adalah jawaban doaku setiap malam, aku tidak jadi menikah dengan Adi.