Cinta Berbeda

Cinta Berbeda
Bab 68. Hari Baik


__ADS_3

Adi, Tante Ratna dan Om Budi sudah mengurus semuanya. Adi pun lega. Dia bercerita bahwa memang keluarganya tidak bisa apa - apa setelah tau keluarga Adi ada yang polisi. Karena memang anaknya itu mabuk saat itu. Setelah diselesaikan secara kekeluargaan Adi di marahi habis - habissan oleh Tante Ratna karena sudah menghubungi Bapak dan Mama bukan Tante Ratna dan Om Budi. 


"Ka Adi habis di marahi Andung.." Kata Adi saat datang main ke rumahku. 


"Kenapa lagi Ka?" Tanyaku serius.


"Yaa itu karena Ka Adi gak telpon Andung tapi malah telpon Mama Riri..." Jawab Adi lesu.


"Yaudah mungkin Andung khawatir makanya sampai marah gitu.." 


"Gak gitu sih Ri.. Ka Adi tuh kadang gak habis pikir deh sama Andung ya... Kalau Ka Adi pulang sampai malam tuh ngomongnya aneh - aneh. Kayak misalnya Ka Adi belum pulang jam 10 nanti di telponin, terus kalau gak diangkat nanti ngomelnya panjang pasti terus ngomongnya kalo ka Adi di bunuh orang di jalan gimana atau tabrakan. Coba deh bayangin jadi Ka Adi digituin sama Ibu sendiri... Kan omongan doa.." Keluh Adi.


"Yaudah sabar yaa sayang, cara khawatirnya Andung seperti itu sayang.." Jawabku sembari mengelus punggung Adi. 


Adi menghela nafas. 


"Ka Adi hari ini gak pergi?" 


"Gak kok.. Mau di rumah aja...Oiya jadi kita rencana mau tanggal 23 sama 24 November?" 


"Iyaa.. Akad tanggal 23 november nah nanti acara panggih sama resepsinya 24 di gedung yang berbeda. Akad kita di Masjid aja...Bapak udah kenal kan sama pengurus Masjid, bisa nanti. Nah gedungnya jadi ganti yaa Ka... Gak di hotel, yang kemarin itu." 


"Survey aja kali yaa.. Apa hari ini aja yaa kita survey?"


"Iya juga yaa Ka boleh."


"Tapi Riri udah nanya sama keluarga untuk wetonnya segala macem, kalau di jawa kan setau ka Adi gitu. Harus liat hari baik, tanggal sama weton." 


"Udah nanya sih sama Omnya Bapak. Dulu sebelum Bapak mau nikah sama Mama juga nanya sama beliau, udah sempet diskusi kesana sih waktu itu. Cuma dia nanyain Ka Adi, dia mau kenalan sama Ka Adi."


"Yaa boleh aja.. Kapan?"


"Bisanya kapan?" 


"Mau sekarang? Ayo.. Mumpung Ka Adi gak kemana - mana nih. Terus pulangnya kita ke gedung."


"Okee.. Aku bilang dulu sama Mama dan Bapak yaa.. Kita berdua aja kan? Rumahnya deket kok gak jauh."

__ADS_1


"Yaa udah, Ka Adi siap - siap dulu deh. Yaa jam 10 lah kita jalan..."


"Okee.."


Aku dan Adi pun bersiap - siap untuk pergi. Selama di perjalanan aku gugup sekali, aku tidak siap mendengar komentar soal Adi dari salah satu keluarga Bapak. 


"Assalamualaikum.." Salamku dan Adi saat sampai di depan rumahnya.


"Walaikumsalam..." Jawab orang dari dalam rumah.


"Misi Tante..." Jawabku. 


"Ehh Riri... Masuk sini Ri..." Kata Tante Anci istri Om Ariz.


"Om lagi di kebun belakang, sebentar tante panggilin yaa.." Tante Anci pun masuk ke dalam untuk memanggil Om Ariz.


Dari keluarga Bapak adalah Om Ariz, beliau adalah keluarga dari Bapaknya Bapak. Eyang Kung aku.


Tak lama Om Ariz keluar dari dalam. 


Aku pun salim dengan Om Ariz dan memperkenalkan Adi dengannya.


"Om, ini yang namanya Adi." Kata ku sembari menarik tangannya. 


"Adi Om..." Kata Adi sembari menjabat tangan Om Ariz. 


""Oh iya iya iya.. gimana gimana.. Kalian udah sampai mana nih persiapannya? Sudah lamaran kan kemarin?" Tanya Om Ariz yang lalu duduk di kursi tamu.


"Riri sama Adi mau minum apa?" Tanya Tante Anci.


"Apa aja tante.." Jawabku.


"Jadi gini Om, kita mau diskusi soal tanggal pernikahan." Sahut Adi.


"Ya gimana gimana? Si Riri waktu itu sudah kesini sama Bapak dan Mamanya. Terus yaa Om kan minta Riri ajak Adi kesini. Lebih enak kan kenal langsung dan ngobrol.. Kemarin Om kan raiso ke acara karena berhalangan. Lalu tetap tanggalnya segitu??" Kata Om Ariz dengan medok jawanya.


"Hmmm iya Om gapapa... Iyaa InsyaAllah tanggalnya gak berubah Om... Untuk hari baiknya aman kan yaa Om?" Tanyaku.

__ADS_1


"InsyaAllah baik, dari hari lahir Riri sama hari lahir Adi aman kok mau ambil tanggal segitu.. InsyaAllah lancar.." 


Tak lama Tante Anci keluar membawa minuman.


"Yuukk minum dulu.. Ada cemilan juga itu ayoo di makan..." Sahut Tante Anci.


"Terima kasih tante.." Jawabku dan Adi serempak.


"Iyaa cobain ya.. Tante sek mau masuk dulu sebentar.." 


"Iyaa tante.." Jawabku.


Setelah itu aku dan Adi berdiskusi dengan Om Ariz, tampak Om Ariz setuju dengan Adi. Bahkan tidak ada komentar sama sekali, atau mungkin sikap Adi yang tidak seperti saat bersama ku. Jika dia jalan bersamaku dia pasti bisa menjadi apa adanya, tapi jika dia bertemu dengan orang baru atau keluargaku dia bisa saja menjadi lebih berwibawa. 


"Yaudah Om gitu aja.. Nanti kalau aku minta saran sama Om bisa langsung WA Om yaa?" Tanyaku.


"Lahiya boleh lah.. Ini mau langsung pamit?" Tanya Om Ariz.


"Iyaa kebetulan mau sekalian survey gedung lagi nih Om, kita masih belum pasti ini mau gimana dan kemana Om. Tapi udah tag nama sih Om.." Jawab Adi. 


"Oh yasudah.. Semoga lancar yaaa." Jawab Om Ariz.


"Amiinn... Terima kasih yaa Om..." Jawabku dan Adi serempak.


"Salam buat Mama dan Bapak yaa Ri.." Sahut Tante Anci. 


"Iyaa Tante nanti di salamin." Jawabku. 


Aku dan Adi pun pamit, lalu jalan menuju gedung yang sudah kami hubungi di daerah kuningan. Sesampainya di gedung, aku dan Adi pun langsung mengurus dan rencana kasih DP terakhir minggu depan. Aku dan Adi pun setuju dan sudah saling bertukar nomer telpon dan meminta nomer rekening pengelola gedung. 


"Alhamdulillah yaa Ri semua udah selesai, tinggal urus vendor lainnya." Jawab Adi.


"Iyaa semoga lancar yaa Ka.." 


"Amiinn.." 


Aku sangat berharap setelah ini akan ada kemudahan dan keluarga Adi memberikan uang untuk mengurus semuanya karena Bapak sudah perjanjian dengan kedua orang tua Adi membayar acara 50% masing - masing. 

__ADS_1


__ADS_2