Cinta Berbeda

Cinta Berbeda
Bab 72. Selesai


__ADS_3

Bulan November tahun 2018, kelam bagiku. Di saat aku sedang berjuang lulus agar menjadi dokter muda, tapi pernikahanku gagal. Rencana hanyalah rencana. Kali ini aku benar - benar hancur rasanya. Tempatku mengadu saat itu hanyalah Allah SWT.  4 tahun aku bertahan dengan Adi terasa sia - sia. Aku bertahan hanya untuk menyembuhkannya dan membuat dia kembali suka dengan perempuan gagal semuanya., kacau dan berantakan. Setelah dari pihak keluarga Adi membatalkan acara begitu saja, aku pun menghubungi Adi untuk bertemu dan bicara berdua saja. Tapi Adi selalu menghindar,  bahkan diskusi untuk tetap bersama pun dia tidak mau berusaha lagi. Apa gunanya 4 tahun ini? Aku pikir Adi benar - benar sayang denganku walaupun aku tau perasaan nafsunya hanya untuk laki - laki. Atau mungkin aku hanya sebagai orang yang menutupi ketidaknormalannya sebagai kaum pelangi? Aku merasa sedih sekali, aku merasa sia - sia. Aku selalu teringat saat - saat bersama dengannya, tertawa, menangis, bernyanyi bersama di dalam mobil, saling curhat. Bahkan Adi selalu khawatir denganku jika aku belum sampai rumah hingga malam tiba. Ratu ponakan Adi yang sudah sangat dekat denganku, bahkan dia sudah sangat menyayangiku. Aku seperti sudah mempunyai anak yang cantik dan pintar. Keluarga kecil Adi seperti Mama, Papa dan Kakaknya yang sudah sangat menerimaku dulu semua hancur begitu saja hanya karena mereka tidak mau memberikan uang ke pihak keluargaku. 


"Aku mau ketemu sama Kakak." Aku mengirimkan pesan singkat untuk Adi.


"Kapan?" Balas Adi cepat. 


"Ka Adi bisanya kapan? Aku besok mau ngurus surat - surat buat wisuda ke kampus." 


"Oh gitu.. Yaudah di pom bensin yang biasa Ka Adi isi bensin aja yaa Ri.." 


"Hmm oke.."


"Oh iya Ri, Ka Adi kan minggu depan mau Singapura. Terus Ka Adi mau minta surat sakit sama Om bisa gak ya?" 


"Berapa hari?"


"3 hari doang kok Ri. Soalnya kalo Ka Adi izin di potong uang Ka Adi nanti dari kantor. Jadi kalo kasih surat sakit kan gak, karena taunya sakit."


"Berangkat Jum'at?"


"Berangkatnya dari Kamis Malam Ri. Pulangnya hari senin. Jadi Ka Adi izin Jum'at, Sabtu dan Senin." 


"Yaudah nanti aku coba ambil surat sakitnya buat Ka Adi yaa.."


Betapa bodohnya aku masih mau membantunya untuk berbohong dengan kantornya 


***


Saat aku meminta Bapak untuk membuatkan surat sakit, Bapak pun juga masih mau memberikannya untuk Adi. Aku salut dengan Bapak, walaupun sudah menyakiti hati anaknya pun Bapak masih mau berbaik hati. Padahal tidak sopan sekali bahkan dia memintanya melaluiku tidak langsung datang ke rumahku. Ah bodohnya..

__ADS_1


Keesokan harinya aku membawakan suratnya dan dengan hati yang berdebar bahkan rasanya ingin marah sekali saat itu. Tapi ternyata saat bertemu dengan Adi, perasaan itu hilang...


Saat aku sampai di pom bensin, aku melihat Adi sudah menunggu di dalam mobil. Dan aku pun segera menghampirinya dan mengetuk kaca mobilnya. Adi pun segera membuka pintu mobilnya.


"Hai, apa kabar?" Tanya Adi seperti basa basi.


"Hai juga Ka... Ya Alhamdulillah baik."


Aku tersenyum dan menahan air mata.


"Ini Ka.." Aku memberikan surat sakit dari Bapak untuknya.


"Terima kasih yaa.." Jawab Adi tersenyum.


"Sehat - sehat yaa Ka.." 


Aku menangis. Ya aku tidak bisa menahan air mata lagi saat Adi memelukku. Adi terkejut dan segera mengelus punggungku dengan lembut.


"Eh kok nangis? Udah yaa udah.. Mungkin memang kita belum jodoh yaa Ri." 


Aku pun memeluk erat Adi. Rasanya tidak mau lepas.


"Eh kalo nangis jelek tau. Ini malu loh nanti diliat orang, nanti dikiranya Ka Adi ngapainin Riri lagi." 


Lalu kami saling melepaskan pelukan. 


"Aku gak tau kenapa semuanya jadi kayak gini Ka.." Jawabku sembari menghapus air mataku.


"Udah udah.. Toh kita masih bisa jadi adik kakak kan?" Jawab Adi sembari mengusap air mataku. 

__ADS_1


Aku mengangguk dan menghela nafas. 


"Eh ini udah jam berapa? Riri gak telat?" Tanya Adi sembari melihat jam.


"Yaudah aku duluan ya Ka.." Jawabku sembari menyalakan mesin motor.


"Iyaa hati - hati yaa Ri. Makasih yaa..." Jawab Adi sembari melambaikan tangan.


Aku pun berlalu pergi meninggalkan Adi. Di perjalanan aku menangis, benar - benar membuatku kacau. Saat itu aku memang sedang mengurus wisudaku, tapi aku belum bisa masuk menjadi dokter muda karena ujianku ada yang mengulang. Saat ujian waktu itu, aku sedang stress - stressnya mengurus pernikahan yang hanya jalan di tempat. Sampai belajar pun tidak fokus. 


Sesampai di kampus, aku mengurus surat semuanya. Lalu aku pun menghubungi Adi lagi.


"Ka.. Emang kita gak bisa sama - sama lagi ya?" Tanyaku. 


"Om udah ketemu sama Bapak kan? Mama Papa juga jadinya gak setuju kalo Ka Adi sama Riri.. Daripada Ka Adi di coret dari Kartu Keluarga.. Lebih baik kita berteman saja yaa Ri.." Balas Adi.


Sangat menyakitkan membaca pesannya. Bagaimana bisa hubungan yang sudah sangat dekat selama 4 tahun bisa hancur dan membenci hanya dalam sekejap. Aku sedih tidak bisa menuruti keinginan almarhumah eyang putri, padahale yang ingin sekali jika aku bisa menikah dengan Adi. Nyatanya itu semua hanya mimpi. 


"Yaaa aku kan gak bisa segampang itu move on ka.. Emang kalo kita tetep sama - sama juga gak bisa Ka?"


Aku seperti pengemis. Aku bodoh sekali saat itu, hanya karena aku sayang sekali dengannya sampai memohon seperti tidak ada harga dirinya sebagai perempuan. 


"Ri... Kalo kita tetep sama - sama gak akan ada ujungnya. Kan Riri kalo mau cerita apa - apa masih bisa ke Ka Adi. Atau Ka Adi menghilang aja yaa supaya Riri bisa move on?"


"Yaa jangan gitu juga lah Ka.. Aku butuh proses ka untuk bener - bener lupain Ka Adi..."


"Yaudah, pelan - pelan yaaa... Tetep semangat!! Kan sebentar lagi masuk koas. Jadi harus lebih fokus yaa.." 


Adi masih saja tetap menyemangatiku, lagi - lagi aku menangis tidak karuan saat itu. Benar - benar menyakitkan harus berakhir seperti ini. 

__ADS_1


__ADS_2