Cinta Berbeda

Cinta Berbeda
Bab 67. Celaka


__ADS_3

Hari ini Adi pulang larut malam sekali karena ada acara dari kantornya, dia sudah memberitahukanku. Aku agak khawatir sebenarnya jika dia pulang terlalu larut malam, aku tau dia suka minum alkohol dengan teman - teman dekatnya. Walaupun aku diam tapi terkadang aku khawatir dengan keadaannya. Aku hanya menemani saja jika dia minum alkohol dengan teman - temannya dan terkadang dia merokok juga. Aku berusaha membuat dia berubah, tapi mungkin memang agak sulit untuk merubah seseorang yang sudah lama punya trauma masa lalu dari keluarga dan faktor lingkungan teman - temannya selama dia berkuliah di Bandung untuk taubat. Aku sudah niat ingin merubahnya ke jalan yang benar walaupun aku juga bukan orang yang suci dan baik tapi setidaknya aku ingin menyelamatkan satu orang dari penyakit menular seksua. Untuk orang - orang yang penyuka sesama jenis sudah pasti akan mengalami penyakit itu, apalagi untuk sesama laki - laki. Ah untuk membayangkannya saja aku sudah ngeri. 


"Ka Adi hari ini mau karaoke sama temen - temen kantor yaa Ri.." 


"Iyaa Ka.. Pulang jam berapa?" Balasku cepat.


"Kayaknya pulangnya bisa tengah malam deh.. Tapi udah bilang kok sama Andung di kantor ada acara jadi pulangnya tengah malam." 


"Oh yaudah.. Nanti kabar - kabarin aja yaa... Aku belum tidur kok.."


"Iyaa sayang.. Nanti Ka Adi kabarin kalo udah pulang yaa.." 


"Oke.." 


Selang beberapa jam, Adi mengabariku kalau dia sudah mengantuk dan di paksa minum alkohol oleh teman - temannya. 


"Ri.. Gimana yaa Ka Adi mau pulang ini.." Kata Adi di pesan singkatnya. 


"Terus? Ka Adi minum ya?" Balasku dengan cepat.


"Iyaa sedikit kok tapi.. Cuma Ka Adi udah ngantuk banget. Kalo Ka Adi pulang dalam keadaan banyak minum nanti ketauan sama Mama bahaya." 


"Yaudah atau Ka Adi mau telponan sama Aku?" 


Adi tidak membalas pesanku dengan cepat saat itu, sehingga membuatku ketiduran. Tiba - tiba saat aku sedang nyenyak tidur. Aku mendengar sayup - sayup suara pintu kamar di buka dan Mama masuk ke kamar membangunkanku. 


"Ri...Ri.... Bangun RIiiiii... Itu Adi telpon kamu gak?" Teriak Mama.


Aku pun terbangun dan membuka ponsel, ternyata sudah 10 kali panggilan tidak terjawab dari Adi. 


"Iya kan? Udah ayo siap - siap.." Kata Mama.


"Eh kenapa Ma?"


"Bapak udah siap di depan.. Adi itu ditabrak sama orang. Dia gak berani telpon Bapak sama Ibunya. Makanya telpon Mama sama Bapak. Bapak sampai lompat dari tempat tidur tadi.." Jawab Mama dengan panik.

__ADS_1


"Hah? Ya Allah si Adi. Yaudah aku siap - siap dulu ambil jaket." Aku bersiap - siap mengambil jaket, tas kecil dan dompet.


Pukul setengah 3 pagi aku, Mama dan Bapak jalan ke arah Rumah Sakit Duren Sawit. Dari cerita Mama, Adi tidak tau ada orang yang menabraknya dari samping. Sepertinya begal yang berusaha mengerjai Adi, dia naik motor dengan kencang dan seperti membawa senjata tajam. Karena orang itu pingsan akhirnya Adi bertanggung jawab membawanya ke Rumah Sakit karena Adi di kepung oleh warga sekitar. Selama di perjalanan Adi terus menghubungiku, aku mengangkat telpon dan dia selalu bertanya "Udah dimana? Ka Adi panik." 


Sesampai di Rumah Sakit aku memberitau Adi dan mematikan telponnya lalu dia langsung menghampiriku dan memelukku dengan erat.


"Ri.... I love you so much.. I Love You so Much...." Dengan nada gemetar dan aku terkejut dia mengeluarkan kata - kata itu saat sedang seperti ini.


"I..Iyaa Ka Oke.... Iyaa tenang yaa... Sekarang pasiennya dimana?" Aku tidak membalas kata - kata i love younya karenya aku terlalu kaget dan tidak dapat mencerna dengan baik saat Adi mengatakan itu. 


Adi pun melepaskan pelukannya, "Ada di IGD..." Jawabnya sembari berjalan mengantarkanku, Mama dan Bapak ke IGD untuk melihat keadaan pasiennya. 


Bapak pun melihat dengan seksama pasiennya. Aku sempat melihat sebentar dan memang gayanya seperti preman begal, sepertinya Adi mau di kerjai. Tapi untungnya Adi langsung menelpon Mama.


"Kayaknya dia teler deh Ri... Habis banyak minum. Mulutnya bau banget alkohol." Bisik Adi. 


"Kayaknya sih begal dari gayanya Ka.. Itu dari tadi dia tidur gitu gumam - gumam?" Tanyaku dengan suara agak pelan.


"Iyaa kayak gitu.." Jawab Adi sembari mengangguk.


"Udah di tangani sama dokter disini kan?" Tanya Bapak. 


"Udah Om.. Keluarganya udah di hubungi pihak rumah sakit juga. Dari tadi dokter juga ngajak ngomong dia, yaa gitu keadaannya." Jawab Adi.


"Itu dia habis minum kayaknya. Kayak pura - pura itu dia. Mobil mu gimana?" Kata Bapak sembari melihat keadaan mobil Adi. 


"Ban depan pecah om, pas saya anter dia ke Rumah Sakit udah gini. Udah bodo amat deh saya sama mobil tadi, yang penting yang nabrak gak kenapa - kenapa." Jawab Adi lemas.


"Oh iya ini.. Terus gimana?" Kata Bapak.


"Ini tunggu keluarganya dulu, kayaknya sih mau proses ke polisi. Cuma yaa jelas dari pemeriksaan dia yang salah. Cuma kan yaa namanya mobil tabrakan sama motor, tetep yang kalah mobil. Kita yang salah..." 


"Itu keluarganya dateng.." Bisikku ke Mama, Bapak dan Adi.


Aku melihat keluarganya histeris dan mencari siapa pelakunya. Adi dengan memasang wajah garang dan menghampiri mereka. Bapak dan Adi berbicara dengan keluarganya. Aku hanya melihat dari jauh mereka berbicara, sepertinya keluarganya ada yang sedikit emosi dan ada juga yang menenangkan karena mengakui bahwa si pasien salah mengendarai motor ngebut, tidak pakai helm dan sepertinya sedang mabuk. Setelah selesai bicara, Bapak dan Adi kembali melihat keadaan mobil.

__ADS_1


"Ini kamu ada ban cadangan gak Di?" Tanya Bapak.


"Ada kok Om.." Jawab Adi sembari membuka bagasi mobil.


"Yaudah sementara kamu ganti dulu bannya pakai ban cadangan, Supaya nanti aman pulangnya." Jawab Bapak.


"Mobil mau di urus dulu di kepolisian Om. Harus di bawa dulu kan ke kepolisian." 


"Oh iyaa yaudah gapapa ganti aja dulu Di.." 


Aku melihat Adi sibuk mengganti ban mobil dan Bapak ikut membantunya. Aku sangat senang saat melihat itu, Bapak dan Adi jadi semakin dekat. 


***


Waktu sudah menunjukkan waktu pukul 5 pagi, setelah kami semua sholat subuh kami pun bersiap - siap. Adi sudah di hubungi Tante Ratna karena Adi belum di rumah. Akhirnya Aku, Mama, Bapak dan Adi pun pulang dengan mobil kami. Mobil Adi masih harus di urus dulu, sehingga harus di tinggal sementara di Rumah Sakit. Selama di perjalanan Adi sangat ketakutan.


"Ka Adi takut banget Andung sama Gaek marah." Jawab Adi sembari menggenggam tanganku dengan erat. 


"Tenang yaa Ka... InsyaAllah gak pake marah." Jawabku sembari berbisik.


"Nanti biar Tante sama Om yang jelasin ke Mama sama Papa yaa Di..." Sahut Mama. 


"Terima kasih yaa Tante... Om.." Jawab Adi pelan.


"Iyaa.. Nanti pelan - pelan lah kita jelasin." Jawab Bapak.


Sesampai di rumah Adi, kami pun sudah di tunggu Tante Ratna dan Om Budi di depan halaman. Wajah Adi sangat ketakutan seperti anak kecil yang akan di marahi oleh orang tuanya. Aku kasihan melihatnya. Lalu Mama dan Bapak pun menjelaskannya pelan - pelan sampai suasana yang menegang menjadi lebih tenang. 


"Tapi saya minta maaf yaa pak dokter, harusnya Adi menghubungi saya atau Pak Budi bukan Pak Dokter." Jawab Tante Ratna.


"Gapapa Buu.. Kan kita akan jadi keluarga nantinya.." Jawab Bapak sembari tersenyum.


"Terima kasih yaa Pak..." Jawab Om Budi.


Aku, Mama dan Bapak pun pamit pulang. Setelah ini Adi, Om Budi dan Tante Ratna yang mengurus semuanya. Semoga semuanya baik - baik saja dan di selesaikan secara kekeluargaan. 

__ADS_1


__ADS_2