
Setelah kemarin Adi meminta izin langsung ke Mama dan Bapak untuk serius menikah denganku. Hari ini Adi menghubungiku bahwa Om Budi dan Tante Ratna akan datang ke rumah untuk meminta izin ingin menikahkan anaknya dengan aku.
"Bapak kapan yaa di rumah Ri?" Tanya Adi.
"Besok sore deh kayaknya Ka... Ada apa?" Balasku dengan cepat.
"Ka Adi telpon aja deh ya..."
"Oke.."
Adi pun langsung menelponku. "Halo Assalamualaikum.."
"Walaikumsalam Ka.." Jawabku pelan.
"Lagi gak sibuk kan?"
"Gak kok Ka..."
"Ini loh Ri.. Ka Adi kan nanya Bapak kapan ada di rumah. Soalnya Mama sama Papa mau ke rumah. Mau minta izin... Ka Adi juga ikut nanti."
"Ohhh.. Ya besok sore sih Bapak di rumah Ka... Hari ini gak pulang soalnya kan..."
"Yaudah nanti Ka Adi sampaikan ke Mama sama Papa, Bapak adanya besok sore ya.."
"Iyaa..."
"Duh deg deggan deh Ka Adi."
"Sama dong... Aku juga deg - deggan banget. Kemarin pas Ka Adi minta izin sendiri aja aku deg - deggan banget. Apalagi nanti antar orang tua.."
"Ihh apalagi saya kemarin basah semua tangan tauuuu.... Untuk bilang gitu tuh butuh persiapan dan mental yang kuat. Kalo gak mah gak kuat deh.."
"Hahaha iya yaa... Alhamdulillah loh kemarin lancar.. Deg - deggan parah yaaa padahal."
"Bukan mainnnn.."
"Yaudah nanti aku sampaikan ke Mama dan Bapak yaa kalo emang besok Om sama Tante jadi ke rumah. "
"Okee sayang.. Yaudah Ka Adi lanjut kerja yaa.."
"Okee sayangku.. Semangat ya.."
"Terima kasih sayang.. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Aku pun menutup telpon dari Adi dan langsung menyampaikan ke Mama berita dari Adi. Dan Alhamdulillah ternyata semua oke. Bapak bisa, lalu Om Budi dan Tante Ratna juga tidak ada halangan. Adi pulang kerja lebih cepat.
***
"Kamu bajunya harus rapih yaa Ri.. Jangan pakai daster." Kata Mama meledek.
"Yaampun hahaha.... Ma masa iya aku pake daster.. Ya gak lah aku pake baju bener." Jawabku sembari tertawa.
"Yaudah sana siapin dulu bajunya yang mau di pake nanti malem." Jawab Mama.
"Iyaa..." Jawabku singkat.
Aku pun segera ke kamar dan memilih baju yang aku pakai nanti malam. Yang pasti aku akan memakai baju yang rapih dan sopan. Tak lama setelah aku sibuk memilih baju, Bapak pulang.
"Assalamualaikum..." Salam Bapak masuk ke dalam rumah.
"Walaikumsalam.." Sapaku dan Mama serempak.
"Bapak bawa belanjaan nih. Masak sop yaa kita hari ini..." Sahut Bapak.
"Alhamdulillah.." Jawab Mama.
"Nanti Pak Budi sama Bu Ratna dateng jam berapa?" Tanya Bapak.
"Katanya sih nanti habis Maghrib Pak, pulang dari rumah Ka Ani." Jawabku.
__ADS_1
"Yaudah masih ada 3 jam lagi ya... Bapak mau tidur dulu.."
"Udah Sholat Ashar Pak?" Tanya Mama.
"Udah tadi aku ke Masjid dulu baru pulang." Kata Bapak sembari mencari handuk untuk siap mandi.
"Yaudah yuk Ri kita masak..." Sahut Mama.
"Oke.." Jawabku.
Hingga akhirnya habis Maghrb pun tiba. Om Budi, Tante Ratna dan Adi sudah datang sejak pukul 5 sore tadi. Setelah Maghrib mereka pun bertamu ke rumahku.
"Assalamualaikum.." Salam Om Budi, Tante Ratna dan Adi dari depan.
"Walaikumsalam.." Jawabku, Mama dan Bapak serempak dari dalam rumah.
Mereka pun masuk ke dalam rumah dan langsung di persilahkan untuk duduk.
"Masak apa Ri?" Tanya Tante Ratna.
"Masak sayur sop Tante.." Jawabku sembari tersenyum gugup.
"Ih seger dong.." Jawab Tante Ratna tersenyum.
"Mau minum apa Bu?" Tanya Mama.
"Gak usah repot - repot Mbak Lila..." Jawab Tante Ratna.
"Eh kan tamu, masa gak di suguhin air...." Kata Mama sibuk mencari cangkir.
"Tante.. Papa air putih aja.." Sahut Adi.
"Oh iya Ma.. Gaek bisanya air putih yang di masak. Gak bisa minum air galon.." Sahutku.
"Nah tuh Riri ngerti..." Timpal Adi.
"Oke okee... Tapi Adi sama Bu Ratna di buatin teh manis hangat yaa..." Sahut Mama.
Mama pun duduk kembali ke ruang tamu, Bapak sudah siap duduk di ruang tamu dengan baju rapih. Mereka masih bercanda dan basa basi membahas tanaman sampai akhirnya aku datang membawa baki dan 5 cangkir berisi teh manis hangat dan 1 gelas air putih hangat. Setelah itu aku duduk dan Om Budi langsung memulai pembicaraan.
"Langsung aja yaa... Bismillahirrahmanirahim...Jadi kemarin kan Adi sudah minta izin kesini untuk siap serius dengan Riri tahun depan. Nah hari ini kami selaku orangtua akan minta izin lagi untuk mendampingi anak kami meminta izin lagi serius menikahi Riri tahun depan. Dan juga kami akan menjelaskan tata cara budaya kami dalam tahap - tahap perkenalan sampai hari H." Jelas Om Budi dengan nada lembut.
Aku, Mama dan Bapak menyimak pembicaraan Om Budi sampai benar - benar selesai.
"Hari ini adalah tahap kedua, Kemarin saat Adi minta izin itu adalah tahap pertama. Nanti tahap berikutnya Adi membawa Riri ke Om Ilyas, lalu setelah Om Ilyas oke lanjut tahap berikutnya. Yaitu nanti ada perkenalan antara keluarga inti. Yaa inti saja yaa..." Sahut Tante Ratna.
"Jadi Riri setelah dari Om Ilyas bisa di tolak dong Bu?" Tanya Mama dengan wajah serius.
"Gak Mbak InsyaAllah.. Kan selama ini Riri sudah di perkenalkan dengan Om Ilyas.. Sudah beberapa kali juga bertemu. Jadi ini hanya tahapannya saja." Jawab Tante Ratna.
"Ohh tetap ada tahapan gitu yaa Bu walaupun sudah kenal." Jawab Mama.
"Iyaa Mbak.. Ini kan karena mau proses pernikahan, jadi mengikuti tata cara Minangnya seperti itu.." Jawab Tante Ratna.
Mama pun mengangguk mengartikan sudah paham betul maksud Om Budi dan Tante Ratna.
Setelah Om Budi dan Tante Ratna menjelaskan semuanya, mereka pun pamit pulang.
"Ri.. Kok seribet itu ya?" Tanya Mama.
"Yaa memang kan beda suku, kita Jawa mereka Minang." Jawabku.
"Bapak kurang sreg kalo prosesnya gini.." Sahut Bapak.
Aku terdiam saat mendengar Bapak bicara.
"Pak.. Namanya kita beda budaya wajar..." Sahut Mama.
"Tapi kan ini Riri yang mau di nikahkan? Tapi terkesannya kok Riri yang mau ngelamar Adi jadinya.." Jawab Bapak ketus.
"Memang kalau di adat Minang kan laki - laki yang dilamar Pak." Jawabku.
__ADS_1
"Lah iya tapi perjanjiannya gimana? Kamu udah pernah diskusi sama Adi?" Tanya Bapak.
"Sudah.. Adi waktu itu juga bilang sama Aku kalau sebenarnya dia tidak mau di beli. Maunya dia yang melamar aku karena sudah lama tinggal di Jakarta. Tadi sebenarnya kan hanya perkenalan ke Om Ilyas saja. Selanjutnya yaa orang tu calon pengantin yang mengurus semua Pak." Jelasku.
"Yaudah nanti gimananya deh... Yang penting kita juga kan Jawa Ri, harus tetap menganut budaya kita. Apalagi kamu anak satu - satunya." Sahut Bapak.
"Iyaa Pak... Nanti aku sama Adi juga mau diskusi lagi kok." Jawabku.
"Yaudah kamu nanti diskusi lagi dulu sama Adi yaa.." Sahut Mama.
Setelah hari itu, hariku penuh dengan ketegangan. Aku harus menjaga hati kedua orang tuaku dan juga menjaga hati kedua orang tua Adi. Seminggu setelah itu, Aku pun ke rumah Om Ilyas ditemani Adi. Adi pun bicara hanya bertiga saja, Dia, Om Ilyas dan istrinya. Aku pun disuruh tidak mendengar percakapan mereka. Setelah mereka bertiga selesai bicara, aku kembali di panggil Adi.
"Ini Om sudah bicara dengan Adi. Om sih sebenarnya setuju - setuju saja dengan pilihan Adi. Riri juga sudah beberapa kali bertemu dengan Om.. Jadi Om gak ada masalah untuk pilihan Adi. Untuk pendidikan Riri sudah sampai tahap mana?" Kata Om Ilyas.
"InsyaAllah tahun depan saya ujian masuk koass Om.." Jawabku pelan.
"Oh yasudah, tapi untuk acara ini tidak mengganggu pendidikan Riri kan?" Tanya Om Ilyas.
"InsyaAllah tidak Om." Jawabku lantang.
"Okee.. Jadi tahap sudah Om jelaskan ke Adi. Nanti mungkin biar Adi yang langsung jelaskan ke Riri supaya paham. Karena setelah ini banyak nih tahapnya yaa.. Karena kami budaya Minang sangat menghargai sekali namanya tata krama etika sebelum menikah." Jelas Om Ilyas dengan duduk santai.
Aku mengangguk, "Iya Om.."
"Yaudah itu aja.." Jawab Om Ilyas.
Karena hari sudah malam, aku dan Adi tidak lama di rumah om Ilyas. Tapi kali ini aku agak sedikit kecewa karena saat aku bertamu datang ke rumahnya, Om Ilyas sama sekali tidak menawarkan minum atau sekedar snack. Atau mungkin aku kurang diterima di keluarga Adi karena perbedaan suku?
Lalu aku dan Adi pamit dan di perjalanan aku hanya diam. Tak lama Adi mengajak bicara.
"Ri... Jadi nanti ada tahapnya lagi. Setelah ini Riri, Mama sama Bapak ke rumah Om Ilyas yang di Depok ya..." Jelas Adi.
"Aku bertiga aja gitu?" Tanyaku singkat.
"Yaiya bertiga aja... Tata caranya seperti itu. Nanti setelah itu baru Om Ilyas mengajak saudara - saudaranya ke rumah Riri untuk berkenalan dengan keluarga Riri. Kayak Pakde Bude Riri nanti."
"Oh gitu.. Terus? Ka Adi, Om Budi sama Tante Ratna?"
"Nah kita datengnya nanti pada saat acara meminang. Jadi setelah pertemuan nanti itu di bicarakan kelanjutannya.."
"Oh gitu ya.. Ribet juga yaa prosesnya. Panjang. Kalo jawa kan gak ribet, cuma perkenalan udah langsung tunangan, lamaran, midodareni terus akad dan resepsi. Selesai, kalo mau nambah acara ngunduh mantu." Jawabku agak kesal.
"Yaa sebenarnya gak ribet sih Ri.. Cuma emang ada tahap - tahapnya gitu, karena setelah ini kan Om Ilyas akan menyampaikan niat baik Ka Adi ke Riri sama saudara - saudara di kampung halaman. Nah nanti mereka akan bertanya siapa calon Ka Adi, asal dari mana segala macam itu nanti Om Ilyas yang menjelaskan, bukan Mama dan Papa Ka Adi."
"Oh gitu ya.. Yaudah nanti aku sampaiin ke Mama dan Bapak deh kalo kita bakal ke rumah Om Ilyas."
"Oke oke.."
Setelah pembicaraan itu aku hanya diam dan tidak mau membahasnya lagi, jujur aku sedikit kesal dengan tata cara ini. Aku berfikir kita semua sudah tinggal di Jakarta, apakah harus serumit itu caranya untuk sampai menikah?
***
Seminggu kemudian aku, Mama dan Bapak pun ke rumah Om Ilyas. Di perjalanan menuju rumah Om Ilyas, ban mobil Bapak di kanan belakang tiba - tiba bocor. Kami kaget saat mobil tiba - tiba melambat berat dan mendengar suara angin ban yang agak besar. Karena bocornya lumayan parah, akhirnya kami semua turun dari mobil dan Bapak mengurus dulu Ban mobil yang bocor. Aku izin dengan Adi bahwa aku agak terlambat datang ke rumah Om Ilyas karena ban mobil bapak bocor. Aku terdiam dan merenungi kejadian ini, saat aku mau memulai tahap serius dengan Adi tiba - tiba saja ada kejadian yang membuat aku bertanya - tanya.
Lalu setelah selesai, Aku, Mama dan Bapak pun jalan lagi menuju rumah Om Ilyas. Aku sudah siap membawakan macaroni schotel buatan Ka Amel yang super lezat. Sesampainya di rumah Om Ilyas, aku memperkenalkan Mama dan Bapak dengan Om Ilyas. Om Ilyas merespon dengan baik hari itu, bahkan mereka menghidangkan berbagai macam kue di meja. Aku sedikit lega saat itu karena Om Ilyas dan istrinya sangat senang menyambut Aku, Mama dan Bapak.
"Baik, jadi kemungkinan bulan depan saya dan saudara - saudara saya akan ke rumah Ibu dan Bapak ya." Tutup pembicaraan hari itu.
"Nanti di kabari saja Pak harinya, karena takutnya saya praktek." Jawab Bapak.
"Baik Pak, nanti saya sampaikan ke Adi." Jawab Om Ilyas.
Setelah selesai, Aku, Mama dan Bapak pun pulang. Selama di perjalanan Bapak hanya diam. Mama banyak mengoceh.
"Ini prosesnya ribet banget yaa Ri..." Kata Mama saat aku sedang melamun.
"Ya gitulah Minang Ma. Katanya tata caranya sih gitu." Jawabku pelan.
"Mudah - mudahan lancar deh." Jawab Mama.
"Amiin.." Jawabku.
__ADS_1
Bapak masih diam seperti tidak mau membahas. Aku tau Bapak sepertinya kurang suka dengan tata cara ini. Aku pun sama, tapi aku berusaha menghargai keluarga Adi. Karena mereka pun juga mau ikut tata cara kami nanti dari mulai malam midodareni sampai di resepsi. Semoga tidak berubah.