
Kali ini aku akan berbagi dengan para pembaca. Seperti yang sudah aku ceritakan dari Bab - bab sebelumnya, bahwa aku tau sebenarnya Adi adalah seorang gay. Aku seorang Mahasiswa Kedokteran yang mempelajari tubuh manusia, gender, masalah penyakit, gejala, faktor resiko dan ciri - ciri seseorang dari psikologinya. Mungkin untuk mata awam pun tau dari tingkah Adi dia berbeda dari laki - laki normal pada umumnya. Sejujurnya aku memang benar sayang tulus dengan Adi saat mulai mengenalnya dan keluarganya, dia termasuk laki - laki yang sangat mengerti perempuan. Yaa mungkin karena dia lebih dekat banyak teman perempuan daripada laki - laki jadi dia pasti sangat membuatku nyaman. Beberapa kali aku meyakinkan diri untuk tetap mau bertahan dengannya karena keadaan dia yang seperti itu. Tapi aku selalu melihat ke keluarganya yang baik dan ponakannya yang sepertinya kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ka Ani selaku ibu dari Ratu yang selalu sibuk sehari - harinya menjadi wanita karier, berangkat pagi - pagi buta dan pulang malam sekali. Bang Ozzy pun selaku Ayahnya Ratu sibuk sendiri terkadang dinas ke luar kota. Yang menurutku keluarganya sangat toxic, di depan terlihat baik tapi di dalamnya sangat kacau. Banyak teriakkan dan kemarahan. Semenjak aku berpacaran dengan Adi, aku sudah jarang sekali curhat dengan Wina ataupun dengan Syani, dua sepupuku yang paling dekat. Aku sangat memendam sekali karena aku tidak mau mereka tau bahwa aku berpacaran dengan seorang gay. Apalagi mereka berdua adalah seorang Mahasiswa Psikologi, yang pastinya peka. Aku hanya bisa memendam dan bercerita dengan sahabat terdekatku saja. Aku tidak mau keluargaku tau bahwa aku sebenarnya menutupi aib Adi. Segitunya aku menutupi siapa Adi dari Mama, Bapak, Almarhumah Eyang Putri, dan juga semua saudara - saudaraku. Padahal dari almarhum Pakde Roki sudah perasa sekali, beliau selalu memasang wajah kesal jika melihat Adi dan beliau juga sudah mengingatkanku tidak dengan Adi karena tidak seperti lelaki sejati. Tapi aku selalu tidak mau menggubris kata - kata Pakde Roki karena aku sebenarnya sudah tau tapi aku diam. Biar aku saja yang menyimpan semua pilihanku.
__ADS_1
Lalu setelah masuk ke hubungan yang lebih serius, sejujurnya aku agak ragu. Tapi aku berusaha meyakinkan diri untuk mau menerima segala kekurangannya. Setiap hari aku selalu memikirkan itu sampai akhirnya berat badanku turun drastis, semua keluarga selalu menanyakan, "Riri kurus ya sekarang?"
__ADS_1
"Riri kurusan ya?"
__ADS_1
Banyak kata - kata yang membuat aku berfikir dan sejujurnya aku membalas kata - kata itu hanya dengan tawa dan senyum bahkan aku mengatakan bahwa aku kurus karena skripsi. Padahal selain itu tekanan batin yang aku rasakan saat bersama Adi. Aku tidak tau kenapa sampai akhirnya aku bertahan dengan Adi, bahkan menerima lamarannya dan dia serius denganku. Aku berfikir dia akan berubah menjadi normal. Menjadi laki - laki seutuhnya dan bertaubat dan akhirnya dia mau menikahiku. Tapi ternyata aku salah, ada kata - kata yang membuatku bahwa sebenarnya dia tidak pernah tulus menyayangiku saat itu, bahkan sejak awal kami berpacaran. Teganya dia mengatakan dia tidak akan mau menikah jika bukan karena agama. Berarti secara tidak langsung aku hanya dijadikan patung saja setelah dia nikahi? Hanya untuk status saja. Menurutku menikah adalah ibadah yang sangat sakral, tidak bisa dianggap main - main tapi sepertinya dia menganggap menikah itu hanya sebagai status saja. Aku terus berdoa dan meminta petunjuk dari Yang Maha Kuasa untuk dapat diberikan kemudahan dan diberikan jalan yang terbaik untuk hubunganku dan Adi saat itu. Aku berserah dan pasrah akan bagaimana nantinya, karena aku sudah berani menerima lamarannya dan sudah mulai memulai dengan Adi. Jadi aku harus menerima konsekuensinya walaupun hati ini mengganjal dan setengah hati.
__ADS_1