Cinta Berbeda

Cinta Berbeda
Bab 73. Kehidupan Ku Setelah Putus


__ADS_3

Setelah semuanya berakhir, Adi benar - benar tidak lagi menghubungiku. Bahkan saat Tante Ratna memintaku untuk ke rumahnya mengambil bahan baju yang tidak jadi di pakai saja, Bapak dan Mama tidak mau berlama - lama dan basa - basi lagi dengan mereka. Sungguh menyakitkan untuk kedua orang tuaku karena anaknya seperti tidak di hargai dengan keluarganya saat itu. 


"Terima kasih yaa Pak Dokter sudah mau ke rumah.." Jawab Tante Ratna.


"Ya Bu sama - sama.." Bapak tanpa menoleh kearah Tante Ratna dan langsung masuk ke dalam mobil saat setelah menemaniku ke rumah Adi. 


"Mampir dulu... Gaek lagi pergi karena ada perlu." Jawab Tante Ratna.


"Gak usah Bu, kami langsung pulang saja.." Sahut Mama.


"Mari tante.." Jawabku sembari tersenyum.


"Oh yaudah kalo gitu.. Iyaa hati - hati.." 

__ADS_1


Yaa rumah Adi saat itu masih satu kompleks denganku. Aku tidak paham kenapa dia berani mengakhiri hubungan di saat rumahnya saat itu masih sangat dekat denganku. Bahkan bisa saja setiap hari kami berpapasan. 


"Gak usah lagi yaa Ri main kesini.." Kata Bapak.


Aku mengangguk.


"Jangan gitu Pak, siapa tau kan mereka jodoh. Mau gimana pun rintangannya kalo jodoh mah yaa jodoh aja Pak. Kayak kita dulu gimana?" Sahut Mama. 


***


Selang waktu satu bulan kemudian aku lulus masuk koas, yaa aku menjadi dokter muda. Setelah Wisuda yang aku berharapnya Adi akan datang, tapi dia tidak datang dan beralasan karena kerjaan. Padahal waktu itu dia sudah berjanji akan datang walaupun kita sudah tidak berpacaran lagi. Akhirnya aku benar - benar lost contact dengan Adi sampai akhirnya aku di lantik menjadi dokter muda pun Adi tidak tau. Setelah aku Janji Dokter Muda, aku mulai sibuk di rumah sakit. Bagian pertama ku saat itu adalah Anak, jatuh bangun mentalku saat pertama kali masuk menjadi koas di bagian yang sulit. Anak sangat sulit di pahami jika sakit, belum lagi setiap pemberian obat harus tau dulu usia dan berat badannya. Karena tidak boleh sampai kurang dosis ataupun kelebihan dosis obat. Apalagi saat itu sedang ada KLB Demam Berdarah pada Anak - anak. Pasien menumpuk di bangsal. Bahkan aku hanya bisa tidur paling lama 5 jam sehari. Rumah sakit pun keliling, tidak hanya di Rumah Sakit Kampus, tapi juga di daerah Cikini dan daerah Cibinong. Terkadang saat aku sedang diam sendiri aku mengingat Adi dan melihat foto - foto kita waktu dulu yang masih ku simpah di ponsel dan laptop. Psikisku sangat goyah sekali. Bahkan aku tidak menerima siapapun laki - laki yang mau mendekatiku. Aku sudah benar - benar merasa tidak ada lagi yang bisa menggantikan Adi saat itu. Tidak ada lagi laki - laki yang bisa mengerti aku saat itu. Rasanya sudah malas memikirkan laki - laki yang normal maupun yang gay. Sama saja. 


"Ri... Lo udah buat tugas?" Tanya Lisa yang mengejutkanku saat sedang melamun.

__ADS_1


"Eh.. Udah kok. Dikit lagi selesai.. Lo udah?"


"Belum nih, bantuin dong." 


"Ih kan banyak itu materi bisa ambil dari jurnal sama buku yaa Lis."


"Iyasih.. Bantuin gue dong. Kasus gue susahh.."


Aku pun membantu LIsa untuk mengerjakan tugasnya. Untungnya tugas banyak, jadi bisa membuatku lupa dengan Adi karena aku sibuk. Mungkin jika aku tidak sibuk setiap hari aku akan menangis mengingatnya terus menerus. 


***


Awal tahun 2019, Aku masih saja mengingat Adi. Bahkan saat aku sedang sendiri aku masih saja menangis. Sampai aku trauma menjalin hubungan yang sukunya sama dengan Adi saat itu. Hari - hariku saat itu hanya disibukkan dengan belajar, mengurus pasien dan fokus untuk selesai menjadi dokter. Supaya suatu saat aku akan punya uang sendiri dan tidak meminta uang dengan orang tuaku untuk pernikahanku. Dan aku ingin mencari laki - laki yang sudah siap financial biaya pernikahan, bukan seperti Adi yaa walaupun dia sudah S2 tapi uang tabungan untuk nikah saja tidak ada sama sekali, masih minta dengan orang tuanya saat itu. 

__ADS_1


__ADS_2