
Beberapa kali Fandi menghubungiku untuk sekedar curhat tentang cewek yang sedang dia dekati, bahkan sampai jadian. Walaupun aku tidak terlalu cepat membalas chatnya tapi aku hanya ingin menjadi baik - baik saja dengan mantan. Tapi aku masih tetap berkomunikasi dengan Adi, yaaa tapi aku tidak cerita dengannya kalau aku komunikasi dengan mantan. Karena itu hal yang tidak penting.
"Ri.. Lagi sibuk gak?" Tanya Adi di chat saat aku sedang belajar di kamar.
"Gak sih Ka. Aku lagi belajar aja ini. Ada apa?" Balasku dengan cepat.
"Ka Adi mau telpon Riri.."
"Oh ya boleh kok Ka.. Ini kakak dimana?"
"Di kantor."
Tak butuh waktu lama, Adi menelponku.
"Halo.. Assalamualaikum Ri.."
"Hmm Ya Ka.. Walaikumsalam."
Suara Adi di telpon sangat lembut dibandingkan suaraku.
"Masih belajar ya Ri?" Tanya Adi.
"Udah mau selesai sih sebenarnya.. Kenapa Ka?"
"Ka Adi mau cerita, nantikalo di rumah tautnya kemaleman."
"Mau cerita apa Ka?"
"Ka Di telpon gini gapapa ya? Soalnya kalo chat ribet.."
"Iya gapapa Ka..."
"Ini Ka Adi mau siap - siap pulang. Sambil yaa ngobrolnya..."
"Iyaa Ka..."
"Ini tuh yaa Ka Adi lagi banyak banget kan kerjaan, tapi bulan depan Ka Adi diajak ke hongkong sama temen Ka Adi. Tapi Ka Adi bingung izinnya gimana yaa ke tempat kerjaan."
"Emang pastinya kapan mau perginya Ka?"
"Yaa pertengahan bulan lah, sebelum bulan September."
"Ada jatah cuti gak Ka?"
"Ada... Tapi tinggal sehari jadwal cutinya. Nah kalo Ka Adi pergi ke Hongkong bulan depan ini, jadi tahun baruan Ka Adi di Jakarta aja gitu."
"Oh gitu. Hmmm gimana ya....."
"Kalo Ka Adi minta surat sakit bisa gak ya sama om?"
"Oh iyaa bisa sih, nanti aku tanya sama Bapak Ka. Izin berapa hari?"
__ADS_1
"Duh maaf yaa Allah terpaksa. Takut beneran sakit..."
"Ih gak lah mudah - mudahan. Kan sekali - kali yaa Ka refreshing."
"Iyaa lah Ka Adi pengen banget refreshing nih."
"Yaudah nanti aku bilang Bapak ya Ka... Butuh berapa hari?"
"3 hari aja Ri.. Ka Adi Kan berangkat Jum'at.. Izin dari hari Senin. Jadi 5 hari waktunya.."
"Oke deh.."
"Yaudah Ka Adi cuma mau bilang itu aja kok, nanti kalo bisa kabarin Ka Adi ya... Ini harus telpon karena kalo chat ribet kan ceritanya.."
"Iyaa oke Ka.."
"Yaudah kalo gitu.. Makasih yaa Ri.. Asslamualaikum."
"Iyaa sama - sama Ka... Walaikumsalam.. Hati - hati di jalan yaa Ka.."
"Iyaa makasih Ri.." Adi pun menutup telponnya.
Setelah itu, keesokan harinya aku segera saja menanyakan kepada Bapak tanpa berfikir. Aku seperti terhipnotis dengan suara Adi saat dia berbicara dan langsung saja aku menyetujuinya untuk membantunya kali itu. Apa mungkn karena aku mulai suka dengan dia? Ah aku saja masih ragu, apakah aku suka atau menganggap seperti teman atau kakak saja.
***
Sudah beberapa kali jika Adi meminta bantuanku, aku pasti langsung mengiyakan. Hari ini tiba saatnya dia berangkat ke Hongkong dengan salah satu temannya yang bernama Indro. Adi pernah bercerita denganku, bahwa Indro ini adalah sahabatnya sejak kuliah. Bahkan Adi sudah sangat dekat dengan keluarga Indro. Adi sudah mulai menceritakan teman dekatnya denganku, aku senang kalau Adi sudah mulai bercerita dengaan orang - orang terdekatnya. Terkadang saat kita sedang berbicara di dalam mobilnya, dia saelalu mengatakan suatu saat Aku akan dikenalkan dengan beberapa sahabatnya.
"Iyaa.. Riri masuk siang ya hari ini?" Tanya Adi sembari membuka lebar kaca jendela mobilnya.
"Iyaa Ka... Nanti siang, mau ngapain aku berangkat pagi - pagi. Males banget ahahaha..."
"Iya sih.."
"Nanti pesawatnya berangkat jam berapa Ka?"
"Ka Adi cuma setengah hari masuknya, nanti pesawat jam 5 sore. Pas lah sampai bandara udah 2 jam sebelum flight."
"Yaudah hati - hati yaa Ka...."
"Iyaa makasih yaa Ri.. Sampai ketemu minggu depan yaa Ri... Assalamualaikum..."
"Iyaa Ka... Walaikumsalam.. Hahaha oke deh.. Gak bisa nebeng deh kalo aku masuk jam 10an."
"Yaa minggu depan kan bisa..." Jawab Adi sembari tersenyum.
Aku hanya tertawa kecil, lalu Adi menjalankan mobilnya dengan perlahan sembari melambaikan tangan kepadaku.
Selama seminggu Adi tidak ada di rumah, aku jarang sekali chattingan dengannya. Mungkin dia sedang menikmati liburan disana. Aku agak sedikit sedih saat tidak bertemu dengannya. Tapi saat berangkat Adi menghubungiku via chat, dan saat sampai dia juga mengabariku.
Aku kebosanan menunggu chat dari Adi, bahkan aku sesekali mencari tau lewat sosial medianya. Tapi Adi mengunci sosial medianya, bahkan saat aku mencoba follow, dia tidak menerima permintaanku di sosial media. Aku tidak berani bertanya kenapa, bahkan aku hanya diam saja, seperti terkunci.
__ADS_1
***
"Wah udah jadi orang Hongkong nih kayaknya..." Sahutku saat Adi siap - siap.
"Hahaha... Ini oleh - oleh buat Riri yaa..." Adi memberikan oleh - olehnya kepadaku berupa permen cokelat dan gantungan tas.
"Terima kasih yaa Ka.." Jawabku tersenyum.
"Yuk berangkat..." Ajak Adi.
Aku pun masuk ke dalam mobilnya.
"Selama Ka Adi di Hongkong, mobil parkir dimana Ka?"
Adi sembari menyetir, "Yaa di parkiran Bandara... Kan aman."
"Gak di panasin dong seminggu?"
"Iyaa nih makanya agak ngeri Ka Adi sebenarnya."
"Bismillah yaa mudah - mudahan gapapa di jalan."
"Iyaa Amiiinn..."
Saat di pertengahan jalan, jalanan agak macet. Tiba - tiba aku melihat ada asap di kap depan kiri mobil Adi.
"Ka... Mobil Kakak ada asapnya." Sahutku.
Adi dengan wajah panik dan segera menepikan mobilnya ke kiri jalan.
"Turun dulu Ri.." Sahut Adi memintaku untuk segera turun dari mobilnya.
Adi segera membuka kap mobil depannya dan mengece mesinnya.
"Ri, Ka Adi ambil air dulu yaa.. Panas nih kayakya, karena udah lama gak di panasin."
"Aku aja yang ambil Ka, kakak coba telpon bengkel atau cek dulu mesin - mesinnya.
"Eh jangan, udah kita ambil bareng aja airnya. Ka Adi kunci dulu mobilnya."
Aku dan Adi pun segera mencari air untuk air karburatornya.
Setelah dapat air, Adi pun memasukkan airnya ke dalam karburator. Aku menunggu berdiri di samping mobil, tampak jelas di wajah Adi dia panik dan kebingungan. Berbeda dengan Bapak yang selalu sigap dan santai jika mobil mogok. Ah aku jadi membandingkan antara Bapak dengan Adi.
"Ri... Ka Adi udah telepon Papa. Ini kayaknya harus di bawa ke bengkel, kayaknya Riri harus tinggalin Ka Adi deh. Ini pasti bakal lama, nanti Ka Adi tukeran mobil sama Papa. Papa mau kesini sebentar lagi."
"Hm oke Ka, aku naik angkot aja ke depan yaa.. Aku sebentar lagi mulai kuliah soalnya. Gapapa kan?"
"Iyaa gapapa.. Maaf yaa, Ka Adi takutnya Riri telat nanti ke kampus kalo nunggu Ka Adi kelar ngurusin mobil. Yaudah hati - hati ya Ri..."
"Iyaa Ka.. Dahh.."
__ADS_1
Aku pun segera berlalu pergi meninggalkan Adi yang masih kebingungan dengan mobilnya.