
Setelah kepergian eyang putri untuk selama - lamanya lalu di susul kepergian Pakde Roki untuk selama - lamanya membuat aku semakin terpuruk. Belum lagi aku yang masih berjuang dengan nilai - nilaiku agar aku cepat koass.
"Kita gimana ya Ka setelah eyang gak ada?" Tanyaku saat di perjalanan ke kampus.
"Riri maunya kapan? Ini sebentar lagi ujian kan?" Tanya Adi.
"InsyaAllah tahun depan aku baru bisa ujian. Terus lulus dokter muda."
"Berarti bisa ya tahun depan kita nikah?" Tanya Adi tanpa basa basi.
Aku merasa Adi sedang melamarku tetapi seperti lebih ke spontan tanpa ada kata romantis.
"Hmm InsyaAllah yaa Ka.. Namanya menikah kan ibadah ya Ka.. InsyaAllah dilancarkan semuanya.."
"Amiiin aamiiinnn.."
Aku bahagia sekaligus masih berduka karena keluargaku berkurang bertubi - tubi. Tapi rasa sesal juga ada di dada. Seharusnya aku menikah saat eyang putri dan pakde Roki masih hidup. Tapi itu sudah kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Aku tidak boleh menyesalinya.
***
"Gue mau cerita sama lo Myth." Aku menghubungi Mytha karena aku bingung harus cerita kemana soal ini.
"Cerita apa Ri?" Balas Mytha di chat.
"Tadi pagi si Adi ngajak gue nikah."
"Lah kan emang dia udah serius sama kamu toh?"
"Iya tapi kan tadinya belum jelas mau nikahnya kapan Myth."
"Terus terus?"
"Yaa aku bingung sejujurnya.. Karena kan ini posisinya aku baru berduka yaa. Eyang Putri meninggal, Papanya Wina juga nyusul. Air mata aku masih basah tapi ini Adi udah mau nikahin aku aja."
"Kenapa kamu malah mikir karena kamu habis berduka jadinya kamu bingung pas mau dinikahi sama Adi? Aku gak ngerti.."
"Aku tuh nyesel kenapa Adi baru mau nikahi aku disaat Eyang gak ada gitu loh."
"Eh kamu gak boleh tau ngomong gitu Ri... Itu udah takdir Allah Eyang Putri meninggal."
"Iyaa sih.. Tapi kemarin tuh Bude Tari bilang pas sebelum eyang masih di ICU dalam keadaan sadar, Eyang pengen liat aku nikah sama Adi. Mau menyaksikan... Itu sih yang buat aku nyesel."
"Oh Bude Tari bilang gitu sama kamu?"
"Iya... Aku jadi kepikiran. Eh ini tiba - tiba setelah eyang meninggal aku kayak sedih aja eyang gak bisa menyaksikan langsung kalo aku nikah sama Adi."
"Yaudah udah jalan Allah Ri... Kamu gak boleh menyesali ya.."
"Iyaa Myth... Semoga hubungan Aku sama Adi yang terbaik yaa ini.."
"Amiin.. Aku doain yang terbaik aja pokoknya yaa buat kalian."
"Makasih yaa Myth."
Perasaanku berbeda memang saat Mytha dan Pran mengenal Adi, aku tau mereka seperti kurang klik dengan pilihanku ini. Karena mereka yang selalu aku ceritakan bahwa Adi seorang gay. Tapi mereka sangat menghargai pilihanku. Aku tidak tau apakah keluargaku tau Adi adalah seorang gay, mungkin terlihat kasat mata yang jeli akan tau gerak - gerik Adi yang berbeda dengan lelaki kebanyakan. Gayanya lebih lemah gemulai dan lebih senang menghabiskan waktunya di tempat gym. Itu sudah jelas sekali jika seseorang paham jika dia bukan lelaki normal. Tapi aku berusaha yakin untuk memilihnya karena aku sayang dengan keluarganya walaupun banyak masalah di dalamnya. Aku bersedia menjadi obat dan terapi untuknya jika memang dia mau serius berubah menjadi laki - laki normal.
***
"Ma.. Adi kemarin ngajak aku nikah." Jawabku saat aku dan Mama sedang duduk berdua di depan TV.
__ADS_1
"Hah? Serius kamu?" Tanya Mama dengan nada senang.
"Lah iya serius. Masa bercanda aku..."
"Terus kamu jawab apa? Jangan bilang mau selesai dokter dulu??"
"Gak gitu Ma.. Yaa Aku bilang Bismillah InsyaAllah semoga semuanya dipermudah gitu. Pendidikan sama hubungan kita."
"Alhamdulillah.. Terus kapan?"
"Yaa nanti dia izin dulu sama Mama Bapak terus mungkin ada pertemuan - pertemuan berikutnya.."
"Udah diomongin?"
"Ya belum.. Adi cuma bilang siap gak nikah tahun depan? Gitu.. Ya aku bilang InsyaAllah. Bismillah semuanya lancar dari pendidikan sama acara aku sama dia."
"Harusnya kamu jangan bertele - tele gitu dong. Kalo yakin yaa bilang aja iya InsyaAllah aku siap Ka. Gitu."
"Yaa kan aku juga mau semuanya lancar Ma.. Namanya orang mau nikah kan rejekinya dari mana aja.."
"Ya iyasih. Yaudah minimal kamu harus udah planning sama dia."
"Iyaa Ma..."
"Aku udah ada rencana kok mau gimana dan prosesnya apa aja Ma.. Nanti baru diskusi sama Adi."
"Yaudah kamu pokoknya harus yakin dulu Ri... Ini menikah loh, urusannya adalah ibadah seumur hidup."
"Iyaa InsyaAllah aku yakin sama pilihanku. Bismillah aja.."
"Alhamdulillah."
***
"Assalamualaikum Om.. Tante..." Sapa Adi saat Bapak sedang menyirami tanaman.
"Walaikumsalam Di, masuk." Jawab Bapak dengan ramah.
Adi masuk dan duduk di kursi tamu, Mama sigap dengan pakaian rapih.
"Pak, udah dulu dong siram tanamannya. Ini ada Adi mau ngomong serius." Sahut Mama dari dalam ruang tamu.
"Iyaa iya.." Jawab Bapak lalu mematikan kran air dan masuk untuk ganti celana panjang.
"Ih si Tante nih, biarin aja. Kita santai aja.. Ini Adi juga gak lama yaa.. Mau ngajak Riri pergi sekalian." Jawab Adi.
"Biarin aja, si Om tuh cuek banget sih orangnya." Jawab Mama.
Bapak pun datang menghampiri ke ruang tamu.
"Ka Adi mau minum apa?" Tanyaku.
"Yaampun udah kayak tamu jauh aja.. Rumah sebelahan juga." Jawab Adi dengan canda.
"Gapapa kan harus di suguhin dong." Sahut Mama.
Adi tertawa kecil, "Apa aja deh.." Jawab Adi.
"Yaudah aku bikinin dulu yaa." Aku langsung kearah dapur.
__ADS_1
"Sehat om?" Tanya Adi saat pembukaan pembicaraan.
"Alhamdulillah... Kenapa nih?" Tanya Bapak langsung to the point.
"Gini Om.. Hubungan Adi sama Riri kan udah lumayan lama. Udah tahunan... Adi niat mau serius sama Riri." Jawab Adi agak terbata seperti gugup.
Bapak mengangguk. Aku datang membawakan teh manis hangat 4 cangkir. Dan aku melihat maata Bapak seperti berkaca - kaca. Entah Bapak terharu senang atau sedih saat Adi melamarku ke rumah.
"Gimana Pak?" Tanya Mama.
Bapak menghela nafas.
"Rencananya Adi mau menikahi Riri tahun depan Om..." Lanjut Adi.
"Yaa kalo Adi sudah mantap dan siap untuk menikahi Riri dan Ririnya juga sudah menerima Om hanya bisa merestui kalian dan mendo'akan saja..." Jawab Bapak pelan.
"Kalo Tante ikut Om aja dan gimana Riri bersedia atau tidak menikah dengan Adi." Sahut Mama.
Aku tersenyum, "InsyaAllah aku terima lamaran Adi." Jawabku pelan.
"Alhamdulillah.." Jawab Adi sembari mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Jadi untuk rencana acara dan lain sebagainya Om dan Tante serahkan ke Adi dan Riri ya..." Jawab Mama.
"Kalo itu nanti ada tahapnya Tante, karena kita kan dari suku budaya yang berbeda jauh yaa Om.. Tante. Nanti setelah ini Adi akan bilang sama Mama dan Papa kalau Adi serius mau menikahi Riri tahun depan. Nah nanti Papa sama Mama izin lagi ke rumah sama Adi. Terus nanti ada tahap Riri akan Adi bawa ke rumah Om Ilyas papanya si kembar. Karena di budaya kami, Om itu di tuakan. Yaa paling tinggi gitu lah derajatnya. Karena beliau nanti wali Adi selain Papa. Karena kan Adi garis keturunan Mama. Kalo di Minang anak garis keturunan Ibu." Jelas Adi.
"Oh yaudah nanti kita ikuti aja prosedurnya dan nanti ada adat jawa ada juga adat minang yaa.." Jawab Mama.
"Iya Tante... Nanti bisa di bicarakan lagi." Jawab Adi.
"Yaudah.." Jawabku pelan.
"Yaudah Om Tante, itu aja yang mau Adi sampaikan. Mungkin untuk tahap selanjutnya nanti yaa Om dan Tante." Kata Adi.
"Di minum dulu tehnya." Sahut Bapak.
"Oh iyaa Om.." Adi menyeruput teh sedikit demi sedikit sampai di sisakan seperempat cangkir. "Om.. Tante... Adi mau ngajak Riri jalan hari ini ya..." Lanjut Adi setelah selesai menyeruput tehnya.
"Jangan malem - malem pulangnya.." Sahut Bapak.
"Iyaa Om siap.." Jawab Adi lalu salim tangan Mama dan Bapak.
"Berangkat yaa Ma.. Pak..." Jawabku sembari salim Mama dan Bapak.
"Mama sama Papa pergi ya Di?" Tanya Mama.
"Iyaa Tante, pergi ke rumah sodara yang di depok. Tapi Adi gak ikut, males. Makanya ini ajak Riri pergi aja.." Jawab Adi.
"Ih kok males?" Tanya Mama.
"Males denger pertanyaan Tante. Kapan nih? Jadi gimana sama Riri...?? Gitu gitu tante. Makanya Adi menghindari itu, Mama sama Papa udah paham lah. Jadi Mama sama Papa pergi sama Ka Ani sekeluarga aja. Paling nanti kalo Adi ditanya kemana bilang pergi sama Adi." Jawab Adi panjang lebar.
Mama hanya tertawa.
"Yaudah pergi yaa Tante.. Om.. Assalamualaikum." Salam Adi.
"Assalamualaikum.." Salamku.
"Walaikumsalam." Jawab Mama dan Bapak serempak.
__ADS_1
Bagian pertama sudah terlewati, Adi minta izin Mama dan Bapak akan menikahiku tahun depan. Aku semakin meyakinkan hati untuk siap menikah dengan Adi. Masih banyak tahap berikutnya yang harus aku dan Adi lewati. Aku tidak tau apakah Aku dan Adi sanggup melewatinya atau kami akan menyerah?