
H-satu bulan, masih saja menggantung. Semua masih DP. Bahkan pembayaran semua masih 20%. Padahal harusnya jika sudah mendekati hari H sudah bisa terbayarkan 70 sampai 80%, tapi ini tidak. Bahkan aku pun diajak makan dengan Andung dan Gaek saat itu. Yang membuatku sakit hati, mereka tidak akan mengirimkan uang karena biasanya uang di kirim H-1 akad. Bagaimana bisa uang dikirim H-1 akad? Sedangkan untuk gedung, vendor, catering sudah minta pelunasan H- satu minggu. Aku jadi ragu untuk melanjutkan lagi. Ah aku sudah pasrah sekali saat itu. Aku pun berdoa terus meminta Allah untuk menunjukkan baiknya bagaimana.
"Ri.. Bisa telpon?" Kata Adi mengirimkan pesan singkat untukku.
"Ya Ka.. Bisa." Balasku cepat.
Tak lama Adi langsung menelponku.
"Assalamualaikum.." Kata Adi dari telpon.
"Walaikumsalam. Kenapa Ka?" Jawabku lemas.
"Ini Bapak mau ngajak ketemu Ka Adi besok. Mama udah cerita semua sama Ka Adi."
"Yaudah coba ngobrol dulu sama Bapak ya Ka.."
"Kalo acara di mundurin tahun depan gimana?" Tanya Adi pelan.
"Tanggalnya?"
"Nah itu nanti di omongin dulu sama Bapak. Makanya ini Ka Adi nanya dulu sama Riri."
"Yaudah coba yaa.. Nanti aku lihat - lihat tanggal sama weton."
"Ini Mama tuh kayaknya tersinggung sama ucapan tante deh Ri."
"Andung tersinggung sama Mama?"
"Iyaa... Gak tau lah Ka Adi pasrah aja. Papa udah marah - marah aja sama Ka Adi kemarin."
__ADS_1
"Ya gimana ya Ka.. Ini kan masalahnya uang ya Ka... Sampai sekarang keluarga Ka Adi belum kasih uang sepeserpun loh.. Padahal kalo Ka Adi kasih tuh semua udah beres, tinggal aku sama Mama yang urus. Ka Adi tau kan aku tuh gak akan nyari yang diluar budget." Jawabku agak emosi.
"Ka Adi udah bilang gitu sama Mama, kasih lah uangnya dulu. Tapi tetep aja kan kembali lagi ke Om Ri. Mama sama Papa gak bisa kasih uang tanpa persetujuan Om Ilyas."
Aku menghela nafas, rasanya ingin marah. Selalu yang di bahas Omnya. Iya Omnya selalu berkuasa. Padahal jelas itu bukan uangnya, tapi uang orang tua Adi! Ah menyebalkan.
"Yaudah nanti Kakak coba ngobrol dulu aja sama Bapak yaa.. Kabarin.." Jawabku dengan nada lembut.
"Yaudah kalo gitu yaa.. Doain.. Assalamualaikum.." Jawab Adi.
"Iyaa Ka.. Walaikumsalam.." Aku pun menutup telpon dari Adi.
***
Malamnya, Adi mengabariku bahwa dia sudah bertemu dengan Bapak.
"Iyaa bisa Ka.. Sebentar, aku masuk kamar dulu yaa... Ada Mama soalnya.." Balasku sangat cepat.
"Oke.. Kalo udah kabarin."
Aku pun segera bergegas ke kamar dan mengunci pintu kamar, agar Mama tidak bisa masuk ke kamar dan mendengar pembicaraanku dengan Adi.
"Udah Ka.." Balasku.
Adi pun langsung menelponku selang waktu 2 menit.
"Halo Assalamualaikum.."
"Iya Ka Walaikumsalam.."
__ADS_1
"Hmm ini gimana ya Ri.. Ka Adi bingung.." Jawab Adi gemetar.
"Bingung gimana Ka? Tadi ngobrol apa aja sama Bapak?" Tanyaku pelan.
"Bapak tuh nanya gimana Ka Adi ke Riri.. Ya Ka Adi bilang Ka Adi bener - bener mau serius sama Riri. Lalu Bapak tanya ini gimana untuk acara karena Andung dan Gaek belum kasih uang sepeserpun katanya.. Tapi kan yaa mereka udah keluar uang untuk dekor acara di rumah yaa.. Dan Om Ilyas juga sudah bicara via WA sama bapak. Lalu Bapak bilang gak akan sanggup kalo akan menikahkan Riri dan Ka Adi bulan November besok, karena keuangan sedang kurang. Banyak pengeluaran untuk bangun ruangan sebelah itu yaa buat klinik katanya dan untuk biaya kuliah Riri. Katanya Riri sedang banyak keluar biaya karena mau koas. Jadi gimana ya?"
Aku lemas saat mendengar Adi bicara, apalagi nada bicara Adi seperti sangat emosi. Aku pun berusaha tenang dan tidak menangis saat merespon Adi.
"Jadi kalo dari Ka Adi maunya gimana?"
"Ka Adi ya kembalikan ke keluarga Ri... Kalo kayak gini Ka Adi gak bisa ikutin kemauan Ka Adi... Yaaa Ka Adi sih maunya kita tetep sama - sama."
"Ka Adi ragu ya?"
"Yaa sekarang gini, kalo gak ada jalan keluarnya buat apa kita tetep lanjutin Ri?"
Aku menghela nafas dan menahan air mata.
"Yaudah besok lagi deh di bahas, mungkin nanti Bapak mau ngobrol dulu sama Om Ilyas yaa..."
"Yaudah kalo gitu. Semoga ada jalan terbaik buat kita yaa Ri.."
"Iyaa Amiin yaa Ka..."
"Assalamualaikum.."
"Walaikumsalam Ka.." Aku pun langsung menutup telpon.
Rasanya sakit sekali saat Adi ragu, bagaimana bisa dia seorang laki - laki yang harusnya memperjuangkan tapi dia seperti mau menyerah karena masalah uang. Harusnya dia bisa memberikan solusi agar aku dan dia tetap bersama dan sampai jadi menikah.
__ADS_1