
Setelah 3 hari aku diam tidak mau bicara dengan Adi. Kali ini akhirnya aku bicara dengannya. Karena Mama terus saja mewanti - wanti jangan bertengkar lebih dari 3 hari, karena tidak baik.
"Kamu jangan kayak anak kecil Ri, kalo kamu terus diemin Adi kayak gini yaa gimana nanti kalo berumah tangga?" Mama terus saja mengomel.
"Iyaa iyaa Ma..." Jawabku sembari mengangguk.
"Kamu tuh keras kepala.."
Aku hanya diam dan tidak mau menjawab, karena aku tau jika aku menjawab pasti aku akan semakin di marahi.
"Aku mau makan dulu deh Ma... Laper."
"Tuhkan kamu kalo diajak ngomong sama Mama gitu pasti ngehindar.."
"Yaampun Maa ini beneran aku mau makan dulu, soalnya amu mau belajar habis ini."
"Yaudah sana makan." Jawab Mama yang masih cemberut.
Aku pun bergegas ke meja makan dan mengambil nasi dan lauk. Selama aku makan aku terus kepikiran Adi yang tidak menghubungiku sama sekali sudah 3 hari ini, bahkan rasanya aku masih kesal dengannya. HArusna kan dia merayuku agar aku tidak marah dan ngambek lagi dengannya atas kasus kucingku kemarin, tapi ini masih terus aktif di sosial media dengan kumpul bersama teman - temannya. Dan sudah selama ini berpacaran dia tida juga memfollow instagramku, aku bingung kenapa dia seperti sangat pricavy denganku?
"Kalo udah selesai makan, sebelum belajar coba kontak Adi.." Sahu Mama yang memecahkan lamunanku.
"Hmm iya Ma.." Jawabku singkat sembari membereskan alat makan di meja.
__ADS_1
***
Sebelum aku benar - benar mulai belajar, aku mengirimkan pesan singkat untuk Adi.
"Ini gak ada ya minta maaf sama Aku soal kejadian waktu itu?"
Selang waktu 10 menit, Adi membalas chatku.
"Iyaa Ri.. Maaf yaa Ka Adi salah. Kemarin tuh Ka Adi emang buru - buru banget jadi lupa mau ke makam kucing Riri." Jawab Adi seperti seakan menyesal.
Aku geram dalam hati saat membaca pesannya, yah untuk urusan temannya dia akan maju paling depan. Tapi dia seperti lari dari kesalahannya. Hebat sekali. Walaupun aku kesal, tapi di hati seperti ada yang menahan agar aku tidak marah dengannya.
"Yaa aku kan udah ingetin Ka Adi sebelum Ka Adi berangkat kemarin, tapi Ka Adi pergi gitu aja. Gimana aku gak marah."
"Iyaaa Ka Adi lupa, maafin Ka Adi yaa..."
Setelah itu aku fokus belajar untuk memperbaiki nilai - nilaiku yang kurang, karena aku akan ikut ujian minggu depan. Jadi aku sudah mulai mencicil materi. Aku sudah lebih lega sekarang karena sudah kembali baik dengan Adi, walaupun aku masih kesal membaca jawabannya tadi. Tapi Aku harus belajar menerima permintaan maafnya.
"Ri..." Panggil Mama dari depan.
"Kenapa Ma?" Tanyaku dari kamar.
"Kamu belajar sampai jam berapa?" Tanya Mama sembari membuka pintu kamarku.
__ADS_1
"Setengah jam lah paling Ma... Kenapa Ma?"
"Itu eyang putri lemes katanya, Bapak masih pulang sore. Kamu habis belajar tolong cek eyang yaa.."
"Lemes kenapa Ma?"
"Gak tau, itu lagi tiduran itu.. Makanya nanti cek yaa.. Mama udah telpon Bapak tadi. Bapak baru bisa cek nanti sore pas pulang.."
"Yaudah ini aku cek dulu deh... Nanti aku lanjutin lagi belajarnya malem." Jawabku langsung bergegas ke rumah eyang dengan Mama.
Setelah di dalam rumah eyang, aku langsung mengecek eyang dengan memeriksa berbagai macam pemeriksaan fisik dan beberapa hal aku tanyakan apa yang dirasakan eyang saat itu.
"Eyang apa yang dirasa?" Tanyaku pelan.
"Aku gapapa kok.." Jawab Eyang dengan suara lembut.
"Mama jangan bilang gapapa terus, kan biar tau sakitnya apaa.." Sahut Mama seperti panik.
"Aku mau tidur aja.. Capek." Jawab Eyang sembari memejamkan mata.
Aku pun berbisik ke Mama, "Yaudah biarin eyang istirahat dulu Ma.. Kecapean kali tadi habis masak. Mama tungguin disini aja.. Aku lanjut belajar disini, aku ambil buku sama laptop dulu."
"Yaudah.. Mama panggil Pakde Dimas dulu. Lagi di atas dia, kayaknya lagi tidur. Makanya gak denger kita ke rumah eyang." Jawab Mama.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk dan bergegas pulang ke rumah untuk mengambil beberapa buku catatan, modul dan laptop agar aku bisa belajar di rumah eyang sembari melihat keadaan eyang sampai nanti sore Bapak datang.
Walaupun Aku mahasiswi kedokteran, aku belum mahir dalam memeriksa dan mendiagnosis karena aku masih belum terjun langsung di rumah sakit. Jadi aku belum berani mengambil keputusan dan kesimpulan atas keadaan eyang putri saat itu. Jadi sembari menunggu Bapak pulang, Aku, Mama dan Pakde Dimas secara bergantian melihat keadaan Eyang setiap satu jam.