
Pukul 5 sore Bapak pulang dari tempat prakteknya, dengan cepa Bapak berlari ke rumah eyang dan mengecek tekanan darah, nadi dan mendengarkan suara jantung, paru - paru dan seluruh lapangan perut.
"Gimana Pak?" Tanya Mama.
"Mama di rawat ya?" Tanya Bapak pelan.
"Aku kenapa emangnya?" Tanya Eyang ke Bapak.
"Gapapa biar di cek semuanya yaa.. Rontgen, cek darah lengkap yaa.. Terakhir kontrol kapan?" Kata Bapak.
"Baru seminggu yang lalu kok..." Jawab Eyang sembari mengingat - ingat.
"Yaudah nanti ke rumah sakit aja yaa.." Jawab Bapak lagi.
"Tapi aku gapapa kan Mas Ardy?" Yaa Eyang memanggil Bapak dengan sebutan Mas.
"Yaa di cek aja dulu semuanya yaa Ma.." Sahut Mama.
"Yaudah aku anterin, kasian Mas Ardy capek tuh baru pulang jaga." Sahut Pakde Dimas.
Bapak pun pulang ke rumah dan mandi bebersih, Aku dan Mama menyiapkan perlengkapan eyang untuk di bawa ke rumah sakit. Mama sudah menghubungi semua Kakak - kakak Mama, Bude Tari dan Pakde Herdi bahwa keadaan eyang agak mengkhawatirkan sampai harus di bawa ke rumah sakit.
Aku berusaha sigap saat eyang butuh sesuatu, Mama yang menyiapkan segala surat - surat untuk periksa di rumah sakit dan segala obat -obatan yan eyang konsumsi. Pakde Dimas siap memanaskan mobil dan Bapak pun sudah siap bergegas keluar dari rumah untuk menemani ke rumah sakit.
"Ini sama Mas Herdi disuruh ke rumah sakit cinere aja.." Sahut Mama.
"Yaa jauh dong kesana.. Kita yang deket aja di Halim, biasa Mama kontrol. Kan ada dokternya disana..." Jawab Pakde Dimas.
"Aku ke Halim aja, kalo ke Cinere kejauhan La..." Sahut Eyang Putri dari dalam mobil.
"Yaudah aku bilang yaa sama Mas Herdi Ma.." Jawab Mama.
"Udah aku aja yang bilang sini.." Kata Eyang dengan lemas.
Eyang pun menelpon Pakde Herdi dan meminta agar eyang di rawat dekat rumah saja, karena kalau ke Cinere terlalu jauh. Tapi Pakde Herdi minta eyang di Rumah Sakit Cinere karena dekat dengan rumah Pakde Herdi.
"Yaudah nanti kalo sekiranya di Halim kurang lengkap alat - alat medisnya. Kesini aja ya Ma.." Terdengar suara Pakde Herdi dari telpon genggam eyang putri yang di loadspeaker.
"Iyaa Her...." Jawab eyang singkat.
"Yaudah nanti Aku nyusul kesana ya Ma.. Mama sama Lila, Mas Ardy, Mas Dimas dan Riri dulu yaa.." Jawab Pakde Herdi.
"Iyaa kamu nanti hati - hati yaa Her.. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Setelah eyang putri mematikan telponnya, Aku, Mama, Bapak dan Pakde Dimas pun segera berangkat dan mengunci pintu rumah.
***
Ternyata eyang putri terlalu lelah beraktifitas memasak di rumah, sehingga membuat eyang menjadi drop di usianya yang sudah tidak muda lagi. Menurut dokter eyang tidak perlu di rawat inap. Tapi kali ini Pakde Herdi meminta eyang putri untuk intensif tidur di rumahnya, jadi kalau terjadi apa - apa lagi eyang langsung di bawa ke rumah sakit cinere yang dekat dari rumah Pakde Herdi. Akhirnya eyang putri mau menginap disana, walaupun sebenarnya eyang lebih senang tinggal di rumah sendiri.
"Eyang gak lama kok nginep di Pondok Labu..." Jawab Eyang sembari mengelus kepalaku.
"Gapapa eyang nginep disana yaa, biar gantian. Kalo disana kan banyak orang dan yang nemenin juga ada.." Jawabku.
"Nanti main ke Pondok Labu ya.." Kata Eyang sembari tersenyum.
"Iyaa eyang, InsyaAllah aku sama Mama nanti main ke Pondok Labu ya..." Jawabku.
Beberapa tahun lalu, eyang juga sempat dirawat di rumah sakit saat aku sedang mengurus skripsi. Saat itu yang aku tau eyang terkena serangan stroke ringan, jujur aku sempat kaget saat itu. Bahkan eyang sempat lupa dengan anak mantu dan juga cucu - cucunya. Tapi syukur hanya seminggu dirawat di rumah sakit, lalu eyang pulang dan hanya kontrol seperti biasa. Tapi kali ini aku lihat eyang putri berbeda. Aku tidak tau rasanya berbeda sekali.
"Yaudah kita pulang yaa Ma..." Sahut Bapak.
"Terima kasih yaa Mas Ardy.." Jawab Eyang.
"Udah Mama gak usah mikirin macem - macem, yang penting eyang sehat." Jawab Eyang dengan mata berkaca - kaca.
Eyang putri tersenyum dan pergi di jemput Pakde Herdi.
***
Setelah 2 hari eyang putri menginap di rumah Pakde Herdi, aku dan Mama pun kesana untuk berkunjung dan melihat keadaan eyang. Begitu senangnya eyang saat aku dan Mama datang. Matanya berbinar - binar dan masih saja bibirnya tetap merah dengan lipstiknya.
"Ih eyang ini cuma kita aja kok pake lipstik..." Ledek Ku.
"Biarin... Kamu gak sama Adi kesini?" Tanya Eyang.
"Gak eyang, dia kan kerja... Tapi dia titip salam kok. Katanya eyang cepet pulang ke rumah.. Dia kangen sama masakan eyang..." Jawabku.
"Hahahaha si Adi nih bisa aja bercandanya..." Kata Eyang sembari tertawa.
"Mama udah makan?" Tanya Mama.
"Udah tadi kok, ini makanya aku mau tiduran. Tadi malem aku mimpiin Papa.." Kata Eyang sembari melihat ke langit - langit sembari tiduran.
"Mimpi apa? Iya tadi Mas Herdi bilang sama Aku Mama sampai jatuh dari tempat tidur, katanya mimpi diajak nari sama Papa?" Sahut Mama.
"Iyaa Papa ngajak aku dansa... Mama gak sadar jadinya malah jatuh dari tempat tidur. Habisnya kayak beneran ada Papa.." Kata Eyang sembari tersenyum.
"Eyang kangen yaa sama eyang kung?" Tanyaku.
Eyang Putri hanya tersenyum.
"Di doain aja yaa Ma.." Sahut Mama.
"Riri...Lila.." Sahut Pakde Herdi masuk ke kamar.
__ADS_1
"Pakde..." Jawabku sembari salim.
"Nginep disini?" Tanya Pakde Herdi.
"Gak Pakde, besok aku masuk." Jawabku.
"Besok berangkat dari sini aja ke kampusnya..." Kata Pakde Herdi.
Aku dan Mama hanya saling pandang.
"Di rumah kosong Mas Herdi. Mas Ardy gak pulang soalnya..." Jawab Mama.
"Oh yasudah... Mas Dimas di rumah kan?" Tanya Pakde Herdi.
Aku dan Mama mengangguk.
"Iyaa nginep sini tidur sama aku...." Sahut Eyang Putri.
"Nanti yaa kalo aku besoknya libur.." Jawabku.
Eyang Putri sepertinya sedih saat aku menolak menginap. Tapi aku berusaha merayu eyang.
"Aku pulang malem deh sama Mama, biar nemenin eyang dulu."
"Eyang cuma 2 hari kok disini. Habis itu pulang.." Jawab eyang.
"Iyaa yang penting eyang sehat dulu ya..."
Setelah sampai malam menemani eyang putri, aku dan Mama pun pulang. Di perjalanan aku sempat melamun karena melihat keadaan eyang putri saat itu. Aku merasa eyang putri sudah lain dan berbeda. Mama sempat bercerita denganku saat sebelum eyang kemarin di bawa ke rumah sakit, eyang sudah malas untuk Sholat. Yang biasanya eyang sangat rajin beribadah dan tidak pernah lupa untuk dzikir, ini bahkan bacaan sholat pun sudah lupa. Mama menangis sendiri saat itu tanpa aku tau. Karena tadi eyang cerita mimpi almarhum eyang kung, mama pun cerita kemarin pun eyang bilang rindu dengan eyang kung dan saat bilang itu eyang meneteskan air mata. Mama pun menangis juga. Aku menahan tangis saat mendengar cerita Mama, aku berharap eyang putri baik - baik saja.
Karena aku sempat melamun, saat aku menyetir sempat menyerempet mobil lain dan sempat adu cek cok di pinggir jalan. Sekitar 15 menit, aku dan Mama pergi tidak mau ribut panjang. Karena si pengemudi tersebut juga tidak mau disalahkan.
"Kamu bengong ya nak?" Tanya Mama.
"Gak kok Ma.." Aku berbohong.
Sesampai di rumah, Pakde Dimas sudah menunggu di depan dan melihat kaca depan mobil tergores dan plat nomer yang lepas. Pakde Dimas menggeleng - gelengkan kepala.
"Kamu udah malem gini maksa pulang sih.." Sahut Pakde Dimas.
Aku dan Mama hanya diam dan masuk ke dalam rumah. Perasaanku benar - benar kalut saat itu, perasaan tidak enak.
***
Keesokan harinya aku ke kampus dengan Adi, di perjalanan Aku banyak diam. Tapi Adi terus menanyakan kabar eyang putri disana. Aku menjawab dengan menahan air mata.
"Ri.. Semalem kok bisa nyerempet sih?" Tanya Adi.
"Iyaa udah ngantuk aku kayaknya deh." Jawabku.
"Udah ngantuk maksa pulang.. Untung gak ada apa - apa."
"Kenapa Ri?"
"Gapapa. Aku kepikiran eyang terus."
"Di doain ya..."
"Eyang bisa sehat lagi gak ya Ka?"
"InsyaAllah... Makanya doain dong."
"Kalo itu mah pasti aku doain Ka.."
"Yaudah jangan di pikirin terus yaa.. Sekarang fokus dulu ujiannya yaa.."
Aku hanya mengangguk.
Benar saja, sorenya saat aku sampai rumah. Mama di kabari Pakde Herdi bahwa eyang putri lemas lagi dan harus dirawat di rumah sakit. Malamnya aku, Mama, Pakde Dimas, Bude Tari dan Wina ke Rumah Sakit. Bapak masih ada jadwal praktek, sedangkan Ka Amel dan Pakde Roki di rumah. Karena Pakde Roki juga kurang sehat saat itu. Di perjalanan Mama teus saja dzikir, aku pun terus berdoa dalam hati agar eyang baik - baik saja. Perjalanan ke Rumah Sakit kurang lebih 1 jam karena agak macet di perjalanan. Sesampai di rumah sakit, kami semua langsung mencari ruangan. Karena eyang sudah masuk rawat inap. Tak lama Pakde Herdi menghampiri kami dan memberitahukan bahwa eyang masuk ruangan ICU. Karena keadaan eyang yang tidak memungkinkan untuk masuk rawat inap biasa, karena harus secara intensif di pantau oleh para dokter dan perawat.
"Gue takut banget Ri..." Kata Wina dengan wajah sedih.
"Berdoa...." Jawabku.
Mama, Bude Tari, Pakde Herdi dan Pakde Dimas di panggil dokter untuk bicara dengan semua anak - anaknya. Aku dan Wina menunggu di depan. Aku melihat eyang dari luar masih sadar dan saat aku lihat layar pemeriksaan semua masih dalam batas normal.
Tak lama, Mama, Bude Tari, Pakde Herdi dan Pakde Dimas keluar dari ruangan ICU.
"Riri sama Wina mau masuk ke dalam liat Eyang?" Tanya Bude Tari.
"Mauuu..." Jawab Wina dengan cepat.
Aku hanya mengangguk cepat.
Aku dan Wina pun masuk ke dalam ruangan ICU dan memakai baju steril. Saat aku dan Wina masuk ke dalam ruangan ICU, eyang sudah melihat aku dan Wina. Eyang tersenyum.
"Eh cucu - cucu eyang...." Sambut eyang putri.
Wina menahan air mata, aku lihat matanya berkaca - kaca. Aku berusaha tersenyum.
"Adi mana RI?" Tanya Eyang lembut.
"Adi kerja Eyang, dia kan pulangnya malem." Jawabku pelan.
"Suruh kesini dia..." Jawab Eyang.
"Iya eyang, besok yaa..." Jawabku meyakinkan eyang.
__ADS_1
Yaa.. Eyang masih saja menanyakan Adi. Dari tatapan eyang seperti berharap aku dan Adi segera serius.
"Ri... Udah yuk.. Sebentar lagi waktu jenguknya selesai." Bisik Wina.
Aku mengangguk, lalu berbisik ke eyang untuk izin keluar dari ruangan ICU.
"Eyang.. Aku sama Wina keluar yaa. Eyang istirahat...." Kata ku sembari memegang tangan eyang.
Eyang hanya mengangguk dan tersenyum.
***
Semalaman kami menginap di rumah sakit, tapi besoknya aku, Wina, Mama, Bude Tari, Pakde Dimas pulang dulu ke rumah. Karena Pakde Roki harus di temani Bude Tari. Rencananya malamnya aku, Mama, Pakde Dimas dan Bapak akan ke rumah sakit lagi. Dan ternyata Om Budi dan Tante Ratna juga mau ikut menjenguk eyang. Adi juga akan menyusul.
"Ri... Menurut Riri keadan eyang gimana?" Tanta Adi mengirimkan pesan.
"Keadaannya sih kalo menurut aku gak seperti biasanya Ka..Kemarin sih anak - anaknya udah disuruh kumpul sama dokter dan di jelasin. Tapi Mama belum cerita sama Aku." Balasku cepat.
"Semoga eyang baik - baik aja ya..." Jawab Adi berharap.
"Amiiinnn... Doain yaa Ka..."
"Pasti Ka Adi doain. Nanti Kalo udah mau sampai Ka Adi kabarin ya..."
"Iyaa sayang.."
"Nanti Riir nginep kan di rumah sakit sama Mama dan Bapak?"
"Iyaa.. Sama Pakde Dimas juga. Jadi nanti Om Budi sama Tante Ratna ikut kita pulangnya sama Ka Adi ya..."
"Iyaa sayang.."
Sorenya Aku, Mama, Bapak, Pakde Dimas, Om Budi dan Tante Ratna berangkat ke Rumah Sakit habis Maghrib. Di perjalanan kami banyak berdiskusi tentang penyakit eyang putri. Bapak sangat khawatir karena tekanan darah eyang yang sangat tinggi saat di monitor ICU. Karena aku sempat memberikan info ke bapak hasil tanda - tanda vital di monitor. Dan ternyata Mama sudah bicara dengan bapak soal kesehatan eyang, bahwa eyang mengalami gangguan di jantungnya saat itu. Aku sedikit terkejut karena selama ini eyang putri tidak pernah punya masalah jantung tapi paru - paru yaitu asma. Sepanjang perjalanan kami terur berdiskusi sampai di rumah sakit satu per satu masuk ke ruangan ICU. Karena tidak boleh banyak orang untuk masuk ke ruangan ICU dan minimal 2 orang. Saat aku masuk ke ruangan ICU eyang sudah seperti melamun melihat ke atas.
"Eyang..." Panggilku pelan.
Eyang menoleh kearahku, "Adi kesini jam berapa?"
"Sebentar lagi yaa eyang... Dia masih di jalan."
"Tadi Mama Papanya udah ngobrol sama eyang.." Jawab eyang dengan nada lemah.
"Iyaa... Seneng dong yaaa ngobrol sama Andung dan Gaek..." Aku tersenyum.
Eyang hanya tersenyum kecil.
"Eyang, Adi udah di depan. Aku suruh masuk yaa.." Aku sembari melihat ponsel.
"Mana dia?" Tanya Eyang semangat.
Adi pun masuk ke ruangan ICU lalu salim dengan eyang.
"Assalamualaikum eyang..." Sambut Adi.
"Walaikumsalam. Pulang kerja langsung kesini ya? Kasihan capek pasti." Jawab Eyang Putri.
Aku pun izin keluar supaya bergantian dengan Adi. Aku hanya ingin memberikan waktu Adi dengan Eyang untuk bicara.
Setelah selesai bicara Adi keluar ruangan ICU sembari menghela nafas.
"Jujur Ka Adi sedih liat keadaan Eyang sekarang. Yang biasanya energik dan berisik sekarang jadi lemah gitu di ruangan ICU." Kata Adi dengan nada pelan.
"Doain aja yaa Ka yang terbaik buat Eyang.."
***
Keesokan harinya aku bangun pagi dan lihat keadaan eyang putri, masuk ke ruangan ICU melihat Mama sedang membacakan yasin untuk eyang. Eyang pun menoleh melihat kearah ku.
"Ri.. Baju - baju eyang kemana?" Tanya Eyang pelan.
"Itu Eyang.." Jawabku sembari menunjuk ke arah lemari.
"Aku cuma 3 hari kok disini, habis itu pulang." Jawab Eyang.
"Iyaa yang penting eyang sembuh dulu yaa.." Sahut Mama.
Eyang hanya diam dan tersenyum. Aku berharap kata - kata eyang tadi benar, hanya 3 hari di rawat lalu pulang ke rumah. Karena kami semua sudah menantikan eyang sembuh.
"Ri, biar eyang istirahat kita keluar dulu ya.." Bisik Mama.
Aku hanya mengangguk dan mengikuti perintah Mama.
Setelah itu, besok paginya keadaan eyang drop. Semua anak - anak eyang ikut diskusi dengan dokter ICU. Perasaanku semakin tidak tenang saat itu. Benar - benar tidak bisa tidur.
"Ri... Eyang tuh udah kepengen banget liat kamu sama Adi nikah. Beberapa kali kalau eyang nginep di rumah Bude tuh ceritanya Kamu sama Adi terus.." Sahut Bude Tari saat Aku, Mama dan WIna berkumpul.
"Iyaa Bude, tapi ini kan aku masih proses mau masuk koass. Bapak maunya kan aku minimal jadi dokter muda dulu." Jawabku pelan.
"Yaa kan udah sedikit lagi..." Jawab Bude Tari.
Aku merasa di tekan dimana - mana saat itu, sejujurnya aku siap untuk menikah tapi aku belum siap dapat tekanan dari keluarga Adi dan juga keadaan Adi yang gay.
Malamnya aku, Mama, Bapak, Pakde Roki, Wina dan Ka Amel harus pulang. Karena Bude Tari memang tidak bisa jika menginap di Rumah Sakit karena Pakde Roki yang kurang sehat. Sedangkan Bapak malam itu juga harus jaga klinik mengganti dokter jaga lainnya yang berhalangan.
Keesokan harinya setelah Subuh, kami dapat kabar lagi kalau eyang putri semakin drop. Kemarin pun saat dokter memberikan pernyataan tentang kondisi eyang putri tidak memungkinkan lagi untuk bertahan. Saat keadaan eyang putri semakin menurun, semua alat sudah di pasang karena eyang sudah tidak bisa makan dan minum secara sadar. Aku benar - benar diam dan tidak bisa berkata - kata lagi. Sampai akhirnya Setelah Subuh sekitar pukul 6 pagi, Eyang putri meninggal dunia. Hancur sekali hati ku saat tau eyang meninggal. Eyang belum sempat melihat cucu - cucunya menikah, benar saja kata eyang, hanya 3 hari saja eyang di rawat lalu eyang akan pulang. Itu kata - kata yang tidak akan pernah aku lupakan.
***
__ADS_1
Tidak hanya itu, selang satu bulan. Pakde Roki meninggal. Semakin hancur hati ini rasanya melihat Pakde Roki pergi untuk selama - lamanya. Kuburan eyang putri masih basah saat itu dan Pakde Roki menyusul pergi. Wina begitu terpukul saat sang Ayah meninggal dunia. Pesan terakhir Pakde Roki, beliau menitipkan kedua anak - anaknya ke Bapak dan Bapak menyanggupinya. Tahun itu begitu pilu untukku. Hari duka bertubi - tubi aku rasakan. Di bulan Maret lalu Bulan April, yang pasti tidak akan pernah aku lupakan tahun 2017.