
Hari ini aku sedang asik bermain bersama kucing - kucingku. Karena aku libur jadi aku bisa santai - santai. Tiba - tiba aku mendengar suara mobil Adi yang keluar dari rumahnya, aku pun keluar pagar dan menghampirinya.
"Hai.." Sapaku yang menhampirinya dari jendela mobilnya.
Tampak Adi terkejut di dalam mobil saat sedang asik memainkan ponselnya.
"Ih ngagetin aja sihh.." Sahut Adi sembari mengelus dada.
"Hahaha maaf yaa sayang... Hari ini Ka Adi pulang malem?" Aku sembari tertawa lepas.
"Iyaa dong pastinya, sejak kapan saya pulang sore?"
"Hahaha kali aja gitu."
"Kenapa gitu emangnya?"
"Gapapa..."
"Yaudah Ka Adi berangkat yaa..."
Adi pun berangkat meninggalkanku, tapi saat mobil Adi melaju aku mendengar suara mengeong dari bawah mobilnya. Aku kaget bukan main karena ternyata kucingku tersenggol ban mobil Adi. Aku pun terkejut dan mencari - cari kucingku yang kesakitan. Aku berteriak histeris saat melihat kucingku lemas, karena keadaannya kucingku masih berusia 3 bulan saat itu. Mama panik bukan main melihat aku menjerit dan menangis keras.
"Riri... Jangan gini... Mama telepon Adi yaa..." Jawab Mama dengan panik.
Mama pun menelpon Adi dan ternyata setelah 10 menit kemudian Adi datang dengan wajah ketakutan.
"Ri.. Kenapa?" Tanya Adi lembut.
"Ini kucingnya kelindes kamu Di, lemes gini dia.. Tapi masih nafas." Jawab Mama dengan nafas cepat.
"Ka Adi gak tau.. Maaf yaa Ri.. Coba di obati dulu." Jawab Adi seperti merasa bersalah.
Aku masih terus menangis dan meratapi kucingku yang sudah lemas.
"Udah Adi berangkat aja, nanti terlambat ke kantor. Tuh Ri, Adi sampai balik lagi loh.." Sahut Mama.
"Udah gapapa Ka.. Kakak kan gak sengaja.. Ini aku.. usahain obatin dulu.." Jawabku sambil menangis tersedu - sedu.
"Yaudah Ka Adi berangkat yaa.. Nanti kabar - kabarin Ka Adi perkembangan kucingnya ya..." Jawab Adi sembari mengelus kucingku dengan lembut.
Adi pun berangkat dengan wajah sedih dan aku masih terus menangis.
__ADS_1
"Udah dong Ri.. Jangan nangis terus. Udah udah.." Sahut Mama.
Aku pun bangun dan menempatkan kucingku di kandang untuk observasi dan memberikan madu. Tapi saat itu aku lihat kucingku sudah lemas. Karena yang ku lihat kakinya seperti patah.
***
Keesokan harinya, kucingku akhirnya mati. Aku benar - benar sedih, aku segera mengabari Adi bahwa kucingku akhirnya mati. Memang aku salah, tidak membawa kucingku ke dokter hewan saat itu. Karena aku merasa bisa mengobatinya sendiri. Tapi ternyata tidak berhasil. Adi kala itu sudah aku suruh untuk menguburkannya dengan bajunya karena dia yang melindas, walaupun tidak sengaja. Aku sudah meminta baju Adi ke Tante Ratna, lalu Bapak dan Pakde Dimas membantu mengubur kucingku dengan membungkusnya dengan baju Adi.
"Udah jangan nangis terus Ri... Ikhlasin.." Kata Bapak setelah menguburkan kucingku.
Aku hanya menahan tangis keras saat makan sudah di kuburkan.
Aku pun masuk ke dalam rumah dan duduk terdiam karena masih sangat sedih. Tak lama aku mendengar suara mobil Adi keluar dari rumahnya. Aku sudah memberitahukan bahwa akhirnya kucingku mati dan sudah di kubur, dan mengingatkan Adi untuk melihat ke makamnya. Tapi ternyata Adi ingkar, dia pergi tidak mampir ke rumah untuk sekedar melihat makam kucingku. Aku benar - benar kesal dan marah, aku menghubunginya dengan penuh amarah. Baru kali ini aku marah dengan Adi.
"Aku udah bilang kan.. Liat dulu itu makam kucingnya. Kalo kenapa - kenapa aku gak urus." Isi pesanku ke Adi.
Adi pun membalas pesanku, "Ya Ka Adi udah telat banget ini, nanti aja deh ya.."
Segampang itu dia membalas pesanku, aku benar - benar kesal. Aku mendiamkannya sampai keesokan harinya dia masuk kerja.
"Ri... Kamu jangan gitu dong. Kamu ini gak ke kampus?" Tanya Mama ke kamarku.
"Gak Ma.. Hari ini aku di rumah." Jawabku singkat.
"Assalamualaikum.." Sahut Adi dari luar.
"Walaikumsalam.." Jawab Mama dari dalam.
Aku masih terus di dalam kamar dan mengunci pintu kamarku.
"Ri.." Teriak Mama dari depan kamar.
"Udah biarin aja, aku males keluar." Jawabku dari dalam kamar.
"Ri.. Kamu tuh jangan gitu dong.." Jawab Mama sembari mengetuk pintu.
"Tante udah gapapa.. Ini Adi langsung berangkat yaa.." Sahut Adi dari luar.
"Maaf yaa Adi.. Riri tuh orangnya keras.." Kata Mama.
"Iyaa gapapa Tante, dia masih kesel mungkin sama Adi." Jawab Adi tenang.
__ADS_1
"Ya gitu lah.." Jawab Mama lagi.
"Riii.. Ka Adi berangkat yaa.." Teriak Adi dari luar.
"Kemarin Bapaknya sama Pakde Dimas yang kuburin. Ini sekarang Bapaknya lagi ke pasien." Aku mendengar suara Mama yang masih ngobrol dengan Adi walaupun agak samar pelan suaranya.
Setelah itu aku sudah tidak lagi mendengar pembicaraan mereka. Setelah akhirnya Adi berangkat, aku pun baru membuka pintu kamar. Mama langsung datang menghampiriku.
"Ri.. Kamu kok gitu sih sama Adi. Dia cerita tadi sama Mama kalo kemarin dia itu harus jemput temennya ke bandara, dan dia udah kesiangan. Makanya gak sempet liat makam kucingmu.
"Hmm.."
"Jangan gitu Ri.. Kasihan tadi dia loh mukanya kayak sedih sama panik gitu karena kamu marah sama dia..." Rayu Mama.
Aku hanya diam dan tidak menghiraukan.
"Ri.."
"Iya iya ma.. Udah nanti aja. Aku masih kesel sama dia, masalahnya dia gak makamin. Harusnya kemarin pagi tuh dia kuburin dulu baru berangkat. Ini kan gak."
"Yaudah kan dia capek Ri.."
"Baak juga capek ya Ma.. Gak usah di belain lah."
"Riri kok gitu sih sama Mama?"
"Udah deh Riri mau sepedahan aja.. Gak mau bahas Adi." Jawabku langsung bersiap bersepeda sendiri.
"Kamu tuh ya dikasih tau orang tua..." Sahut Mama sembari berteriak.
Tapi aku tetap pergi tidak menghiraukan Mama. Eyang Putri tiba - tiba datang masuk ke dalam halaman rumah.
"Mau kemana cucu Eyang??" Tanya Eyang sembari tersenyum khas dengan lipstik merahnya.
"Aku mau olahraga dulu yaa eyang.." Jawabku pelan.
"Hati - hati.. Gak usah jauh - jauh.." Jawab Eyang.
"Iyaa... Assalamualaikum..." Aku langsung meluncur dari rumahku dengan sepedaku.
"Walaikumsalam.." Jawab Eyang.
__ADS_1
Sudah hari ke-3 aku masih saja mendiamkan Adi. Benar - benar Adi juga tidak menghubungiku sama sekali. Aku kesal sekali rasanya Adi bahkan tidak minta maaf dan mencariku sama sekali. Dan Mama masih saja terus merayuku untuk bicara dengan Adi. Tapi aku tetap diam.