
Hal yang selalu aku pikirkan adalah Adi. Ya Adi selalu ada di kepalaku. Tapi aku tidak mau terus - terussan memikirkannya sampai kuliahku menjadi terbengkalai. Apalagi dia selalu mendukung kuliahku agar aku cepat selesai menjadi dokter. Kali ini aku sudah masuk di persiapan skripsi. Untuk semua fakultas, skripsi adalah ujian akhir. Tapi tidak untuk kedokteran. Masih ada lagi ujian setelah skripsi. Skripsi hanyalah sebuah formalitas sebagian untuk nilai akhir kita mendapat gelar Sarjana Kedokteran.
"Modulnya udah dapet semua belum?" Tanya Mily ke Aku, Sera, Fily, Tami, Sissy, Viana, Yanti, Aira dan Resty.
"Gue belum!" Sahut Fily.
"Lah ini punya lo di gue dodol!" Jawab Mily dengan nada tinggi.
"Hus hus jangan berantem dulu deh ah.." Ledek Sera.
"Tau nih Mily bacot." Sahut Fily.
"Udah deh gue gak ikut - ikutan kalo ini." Jawabku sembari menggeleng - gelengkan kepala.
Yang lain hanya diam dan ikut tertawa melihat Mily dan Fily yang selalu tidak akur.
"Duduk sini Mil.." Kata Sera yang sudah menyiapkan tempat duduk untuk Mily.
Mily pun duduk.
Kami semua dengan fokus mendengarkan pengarahan untuk skripsi dan juga kami akan langsung di bagi dengan siapa kita dibimbing.
"Deg deggan gue ih.." Sahut Sera.
"Deg deggan kenapa?" Tanya Tami.
__ADS_1
"Takut gue dapet pembimbing yang gak enak..." Jawab Tami sembari mengepal tangan.
"Jangan mikir jelek dulu Seraaa.. Positif Thinking." Sahutku.
"Iyaa semoga kita semua dapet pembimbing yang baik.." Sahut Sissy.
"Amiiiiinnn.." Jawab kami semua serempak.
***
Setelah selesai pengarahan untuk skripsi dan pembagian pembimbing skripsi, aku mulai mencari kontak dokter yang akan membimbingku dalam menyusun skripsi.
"Gue mau telpon dokternya dulu yaa.." Sahutku saat mereka semua sedang sibuk mencari nomer dokter pembimbing.
"Eh..Oh iyaa.. Ini nama lo sama gue satu pembimbing." Jawabku sembari menoleh kearahnya.
"Iyaa.. Udah dapet nomernya?"
"Udah kok. Ini aku mau telpon dokternya."
"Oh mau lo aja yang hubungin dokternya?"
"Iyaa gue aja yaa..."
Aku pun segera menghubunginya tapi tidak menelpon hanya mengirimkan SMS. Dan tidak butuh waktu lama, dokternya pun langsung menelponku dan langsung memintaku dan temanku untuk mencari tema apa yang mau di bahas di skripsi dan menentukan waktu untuk bertemu.
__ADS_1
"Gimana Ri?" Tanya teman satu bimbingan skripsiku, namanya Zira.
"Kata dokternya kita tentuin dulu mau bikin tentang apa, terus kita nanti janjian sama beliau." Jawabku.
"Oh gitu.. Yaudah nanti kabar - kabarin gue yaa Ri mau ketemu sama dokternya kapan. Gue mau cari - cari dulu untuk judul Gue mau bahas apa di skripsi."
"Okee deh Zir, nanti gue Line lo ya."
"Okee.. Makasih yaa Ri.."
"Iyaa sama - sama Zira."
Setelah aku tau dapat pembimbing, aku langsung mengabari Adi untuk bercerita bahwa aku mendapatkan pembimbing yang baik dan beliau adalah dokter spesialis orthopedi atau bahasa awamnya spesialis bedah tulang.
"Ka... Aku udah dapet pembimbing skripsinya. Doain aku yaa.." Aku mengirimkan pesan singkat untuk Adi.
"Alhamdulillah.. Tinggal cari judul dong?" Balas Adi dengan cepat.
"Iya nih Ka.. Doain aku yaa..." Balasku lagi.
"Iyaaa pasti Ka Adi doain kok. Semangt yaa negrjain skripsinya..."
"Iyaa terima kasih sayang..."
Aku berusaha menceritakan hal yang penting kepada Adi agar Adi juga mau bercerita dan terbuka denganku suatu saat nanti.
__ADS_1