
"Aunty Riri!! Sahut Ratu yang berlari keluar dari mobilnya dan langsung memelukku erat.
"Hai Princess.." Jawabku sembari memeluknya dan mengelus rambutnya.
"Duhh Ratuu... Jangan lari - lari gitu ah.." Teriak Ka Ani yang turun dari mobil.
Ratu pun melepaskan pelukannya dariku, lalu masuk ke dalam rumah Adi.
"Ih anak itu yaa..." Kata Ka Ani menggerutu.
"Udah lah Ka, jangan dilarang - larang terus itu anak. Nanti jadi manja dia.." Sahut Adi.
Aku hanya diam memperhatikan kehebohan itu, menurut ku memang terlalu berlebihan untuk orang tua melarang seperti itu. Memang anak - anak harus dibiasakan berlari, supaya jika dia jatuh dia bisa berdiri sendiri walaupun harus menangis. Yaa mungkin cara mendidik Ka Ani yang agak berbeda yaa...
"Apa kabar Ri?" Tanya Ka Ani tersenyum kepadaku.
"Alhamdulillah baik Ka.. Kakak?" Tanyaku balik dan tersenyum.
"Ahamdulillah baik juga.... Ka Ani masuk dulu yaa.." Kata Ka Ani lalu masuk ke dalam rumah Adi.
Aku pun mengangguk.
"Di.." Sahut Bang Ozzy yang baru saja selesai memarkirkan mobil.
"Mobil lo kenapa lagi Bang?" Tanya Adi.
"Biasa si Ani nyetirnya ugal - ugalan." Jawab Bang Ozzy sembari menggeleng - gelengkan kepala.
"Gak di bawa ke bengkel?" Tanya Adi.
"Nanti aja katanya, masih bisa di pake juga kok kemana - mana. Cuma bemper aja agak lepas..." Jawab Bang Ozzy.
"Lagian nyetirnya gimanasih si Ka Ani?" Tanya Adi heran.
Bang Ozzy hanya mengangkat bahu dan menggelengkan kepala.
Adi pun sibuk mengelilingi mobil Ka Ani dan Bang Ozzy untuk melihat apa saja yang rusak.
__ADS_1
"Yaudah gue masuk yaa..Ri... Di..." Jawab Bang Ozzy.
"Iyaa Bang.." Jawabku dan Adi serentak.
"Ada aja deh Ka Ani nih, kalo bawa mobil gak pernah bener. Ini biasanya nabrak trotoar dia. Sampe gini bemper belakang." Kata Adi dengan wajah kesal.
"Hahaha yaah namanya juga cewek Ka..." Jawabku sembari terkekeh.
"Nanti Riri kalo udah bisa bawa mobil jangan kayak Ka Ani yaa.. Ini kalo Papa tau bisa ngomel tau." Jawab Ka Adi agak berbisik.
"Yaa terus mau gimana? Ini nanti pasti kan Om liat Ka..." Jawabku.
"Tau deh, bisa gak mood nih si Papa hari ini kalo liat ini mobil."
Aku hanya diam dan tidak merespon apa - apa lagi.
"Uncle!!" Teriak Ratu dari dalam rumah Adi.
"Yes Princess??" Sahut Adi, lalu dia izin denganku. "Ri.. Ka Adi masuk dulu yaa.. Nanti kita ngobrol lagi." Lalu dia berlalu pergi dan masuk ke dalam rumah.
"Iyaa Ka... Aku juga mau istirahat dulu. Soalnya nanti kan mau begadang." Jawabku sembari tersenyum.
***
Malam pun tiba, waktu menunjukkan waktu 9 malam. Eyang sudah sibuk mempersiapkan pembakaran dan arang untuk bakar sate di depan teras rumahnya. Bude Tari, Pakde Roki, Ka Amel dan Wina juga sudah datang. Sayangnya keluarga Pakde Herdi tidak bisa ikut karena mereka tahun baru di rumahnya sendiri daerah pondok labu.
"Eyang.. Ini diletakkin dimana?" Tanya Wina saat membawa seloyang sate bumbu khas Madura.
"Sini sini.."Kata Eyang.
Aku pun menyiapkan meja, piring dan sendok untuk di pakai makan.
"Ri..." Panggil Adi yang baru saja keluar dari rumah.
"Kenapa Ka?" Jawabku sembari menghampirinya.
"Ini bantuin Mama dong bawa makanan yang mau di bakar di depan."
__ADS_1
"Okee.." Jawabku mengangguk dan langsung masuk ke dalam rumah Adi.
"Ri.. Yaampun disuruh Adi ya pasti?" Sahut Ka Ani yang sedang duduk di ruang tamu.
"Hahaha iya Ka.." Jawabku sembari tertawa kecil.
Aku pun segera membantu Tante Ratna dan Tante Risna.
"Tante gak bikin banyak - banyak Ri.. Cuma cumi ini aja sama udang. Maunya si Adi ini." Kata Tante Risna.
Aku hanya mengangguk dan membawa makanan yang akan di bakar ke depan.
Terlihat eyang sudah siap membakar sate di bantu dengan Wina dan Ka Amel. Aku pun segera menghampirinya dan membantunya juga. Adi juga ikut membantuku. Hari itu benar - benar menyenangkan kita semua berkumpul untuk menunggu waktu tahun berganti. Sampai waktu menunjukkan pukul 11 malam. Kami semua sudah selesai makan, Bude Tari dan Pakde Roky izin pamit karena ingin cepat istirahat. Wina dan Ka Amel pun ikut pulang diantar Pakde Dimas.
"Ri... Dari tadi gue liat Ka Adi kayaknya deket banget sama lo deh. Terus ponakannya juga nih si Ratu, nempel banget sama lo Ri.." Bisik Wina.
"Apasih sst... Yaa kan kita temenan dan bertetangga coy." Jawabku berbisik.
"Hmm lo gak mau cerita nih sama gue? Gue sepupu lo yang paling deket nih. Gue tau kalo lo lagi ada rasa atau gak yaa sama orang.. Awas lo yaa gak cerita - cerita sama gue...." Kata Wina meledek.
"Ihh iyaa nanti gue juga cerita kalo akhirnya gue sama Adi jadian Winnn..." Jawabku lagi.
"Nah kan.."
"Ihh sstt udah ah.. Gue bantuin eyang dulu beres - beres yaa.."
"Hmmmm bisa aja ngelesnya.. Yaudah gue balik yaa.."
"Okee.."
Bude Tari, Pakde Roky, Wina dan Ka Amel pun pulang. Aku dan Mama masih sibuk membantu eyang. Jangan tanya yaa Bapak kemana, yang pasti pekerjaan seorang dokter yang menyekolahkan anaknya kedokteran itu tidak libur di malam tahun baru. Bapak baru pulang besok tanggal 1 januari.
"Udah semua istirahat.. Gak usah sampai jam 12 malemm diluar..." Kata Om Budi.
"Iyaa capek.." Sahut eyang.
"Iyalaah..." Sahut Tante Ratna.
__ADS_1
Aku gelisah saat akan berpisah dengan Adi, karna daritadi aku ingin sekali bicara dari hati ke hati dengannya. Tapi mulut ini tak mampu untuk berbicara. Aku ingin jujur dengannya tentang perasaaku padanya dan aku ingin sekali tau isi hatinya. Karena aku merasa sikapnya seperti mengisyaratkan ada hati denganku.