
"Kayaknya minggu depan kita harus udah cari - cari gedung deh.." Kata Adi saat perjalanan pulang dari ngegym.
"Boleh..." Jawabku singkat sembari mengangguk.
"Kita cari yang di tengah yaa Ri... Supaya temen - temen Ka Adi, Saudara - saudara juga yang di Depok jadi gak terlalu jauh. Kalo kita acara di Bekasi kejauhan." Kata Adi mengatur.
"He'em... Iya iya. Tengah - tengah.." Jawabku sembari mengangguk cepat.
"Kita list deh gedung - gedungnya yaa.."
"Iyaa ini aku lagi liat - liat gedung yang di daerah Jakarta Selatan..." Jawabku sembari melihat layar ipad.
"Baju udah di pikirin mau gimana?" Tanya Adi.
"Aku sih udah pikirin Akad adat Minang, Resepsi Adat Jogja. Gimana?"
"Hmm boleh..."
"Oke... Aku masih liat - liat ini warna bajunya yaa.. Eh kalo baju minangnya warna biru silver gimana?"
"Boleh tuh bagus... Ka Adi juga suka... Terus nanti kita temanya klasik banget yaa kita.. Lucu gak?"
"Iyaaa aku setuju Ka.."
"Okee.. Nanti cari yaaa."
Aku mengangguk sembari melihat layar ipad.
***
Seminggu kemudian aku dan Adi mencari gedung. Dari hotel sampai ke gedung dari yang budget besar sampai budget kecil. Karena kami sejujurnya masih bergantung uang orang tua, aku kecewa Adi belum ada uang tabungan sama sekali untuk menikah denganku. Bahkan beberapa kali Adi meminjam uang denganku.
"Duh kalo bukan karena agama Ka Adi gak bakal nikah.." Kata Adi saat terakhir kami mencari gedung.
__ADS_1
Aku terkejut dan sakit hati mendengar perkataannya, tapi mulut ini tidak bisa bicara dan marah dengannya. Aku hanya bisa diam dan memendam rasa kesal di hati.
"Ini jadi nanti kita jelasin ke Mama sama Bapak ya.. Murah loh ini kalo pilih yang gedungnya lebih kecil. Di tanggal segini..." Kata Adi sembari membolak balik brosur gedung yang sudah di jelaskan oleh WO di gedung terebut.
Aku mengangguk.
"Yaudah, udah jam segini... Kita pulang aja deh. Kita jelasin ke Mama dan Bapak." Kata Adi semangat.
Lalu aku dan Adi pun pulang. Sesampai di rumah Aku dan Adi banyak menjelaskan beberapa gedung yang akan jadi plan untuk kami menikah tahun depan. Tapi yang paling excited adalah Adi. Untuk di hotel dia menjelaskan mendetail dan sangat menggebu - gebu.
"Kalo menurut Adi sih lebih prefer yang hotel yaa Om Tante, supaya nanti keluarga bia tinggal istirahat kalo capek acara."
Bapak terus membolak balikkan brosur dan sembari mengangguk - angguk.
"Terus kalo menurut Adi untuk biayanya lebih pas yang mana?" Tanya Mama.
"Yaa kalo menurut Adi sih yang hotel itu udah murah yaa Tante, udah sama penginapan untuk pengantin, orang tua pengantin, dan kalau untuk keluarga nanti mereka pesen aja sendir gitu. Kita gak usah keluar uang lagi untuk mereka." Jawab Adi.
"Terus kalau hotel DPnya berapa DI?" Tanya Bapak.
"Sepuluh Juta aja kok Om... Itu udah akan di tag tanggal langsung. Karena kan tanggal yang kita mau mumpung kosong Om, kalau bisa langsung DP aja.." Jawab Adi seperti menyuruh Bapak untuk memberikan DP ke gedung yang dia mau.
"Gede juga ya..." Sahut Bapak.
"Itu udah include sama catering juga kok Om.. Jadi kita gak usah nyari - nyari lagi cateringnya. Tinggal tester aja mau pilih paket yang mana..." Jelas Adi.
"Ini untuk ballroom yang kecil yaa. Karena yang besar udah ada yang pesen untuk tanggal segitu." Sahutku.
"Udah ngomong sama Mama dan Papa?" Tanya Mama.
"Yaa belum.. Ini makanya Adi sampaiin ke Om dan Tante dulu. Supaya Om DP aja dulu..." Kata Adi seperti menyuruh.
Jujur aku tersentak saat Adi mengatakan hal itu. Bagaimana bisa dia minta Bapak yang DP segitu banyaknya sedangkan Bapak saja masih mengeluarkan biaya kuliahku saat itu. Bukannya harusnya Adi yang berusaha mencari uang segitu untuk DP?
__ADS_1
"Nanti kita diskusi dulu deh yaa Di. Kan ini juga kalian belum lamaran.. Om sama Tante juga belum ketemu lagi sama orang tua Adi.. Mungkin nanti yaa setelah lamaran bisa kita diskusikan." Sahut Bapak.
"Yaa atau nanti kita cari yang di tengah tetep gedungnya tapi gak harus di hotel itu ya Ka..." Sahutku.
"Hmmm yaudah nanti diskusi dulu yaa Om sama Mama dan Papa.." Jawab Adi dengan wajah sedikit kecewa.
Setelah diskusi itu, Adi pun pulang. Saat aku menemani dia ke depan, dia menunjukkan wajah sedih.
"Padahal kalo DP dulu yaa Bapak. Mama sama Papa mah ikut aja tau Ri." Kata Adi.
"Yaa tapi kan kita belum lamaran Ka.. Mungkin pamali kali langsung DP gedung. Udah kalo rejeki kita InsyaAllah itu tempat buat acara kita nanti. Kan gak ada yang tau rejeki orang mau nikah ya Ka.." Jawabku untuk menenangkan hatinya.
"Amiiiinn. Iya juga sih yaa.. Yaudah deh. Ka Adi pulang ya.. Assalamualaikum." Jawab Adi lalu pamit.
"Iyaa Walaikumsalam.. Hati - hati ya... Salam buat Mama sama Papa." Jawabku.
Aku pun masuk ke dalam rumah dan langsung di sidang dengan Mama dan Bapak.
"Ri.. Ini kok Adi kesannya suruh Bapak yang DP gitu ya?" Tanya Bapak dengan wajah agak kesal.
"Maksud Adi sementara mungkin Bapak DP dulu supaya gak ada yang ngetag tanggal segitu." Jawabku seperti membela Adi.
"Iyaa Bapak nih jangan berprasangka dulu. Kan bener maksud Adi... Nanti kalo udah lamaran baru orang tua Adi kasih uangnya, kan keganti yang udah Bapak DP ke gedung." Sahut Mama.
"Yaa tapi kan kamu sama Adi belum lamaran. Jadi kalo bisa tuh nanti saja.. Setelah lamaran baru deh mulai DP dari mulai gedung, catering dan lain - lainnya. Kalau sekarang mau survey gedung yaa gapapa... Tapi untuk DP yaa nanti dulu. Bapak sama Mama aja belum diskusi lagi sama Pak Budi dan Bu Ratna." Jawab Bapak.
"Iyaa tadi aku udah bilang juga sama Adi." Jawabku.
"Yaudah nanti setelah lamaran tuh baru enak karena sudah ada tahap - tahap acaranya setelah itu apa saja.." Jawab Bapak bijak.
Aku hanya mengangguk dan Mama juga.
Memang betul kata Bapak, karena aku dan Adi saja belum lamaran. Lalu belum ada diskusi antara orang tua. Jadi mungkin setelah lamaran baru mulai semuanya.
__ADS_1