
Setelah selesai mengurus gedung, aku pun mulai mengurus catering dengan Mama. Karena Adi tidak bisa selalu menemaniku dan harus bekerja.
"Hari ini kita mau ke catering mana Ma?" Tanyaku saat sedang mencuci piring.
"Ada tuh yang enak dan harganya standar lahh.. Di daerah duren sawit.." Jawab Mama.
"Yaudah aku ikut aja.." Jawabku.
Lalu aku dan Mama pun berangkat jalan ke catering. Setelah sampai aku dan Mama berdiskusi dan sempat tester makanan yang ada.
"Nanti Ibu dan Mbaknya sudah oke bisa langsung DP kirim ke rekening kami. Itu proposal sudah kami share ke email Mbaknya untuk total harga cateringnya.." Jawab Mbak Catering hari itu.
Aku pun mengangguk.
"Ri.. Kamu kabarin Adi dulu." Kata Mama.
"Iya Ma.. Aku udah forward ke email Adi kok Ma.."
__ADS_1
"Kamu udah hubungin dia tapi?"
"Udah kok.."
"Udah di jawab?"
"Sabar Maa.. Ini dia lagi kerja kayaknya makanya bekum bales."
Tak lama Adi membalas pesanku.
"Udah oke tuh Ri, harganya gak terlalu mahal. Makanan udah aku percayain sama Riri dan Tante yaa.." Balas Adi.
"Iyaa Ri.. Udah bilang sama Mama?" Tanya Adi.
"Belum Ka.. Nanti kan Mama sama Bapak mau ketemu lagi sama Andung dan Gaek. Nanti malem lah kayaknya.."
"Yaudah nanti Ka Adi kasih tau juga yaa sama Mama itu harganya.."
__ADS_1
"Okee sayang."
***
Setelah dari catering, malamnya Mama dan Bapak ke rumah Andung dan Gaek lagi. Sejujurnya aku sedikit bingung, diawal Adi bilang kalau adat mereka sudah tidak memakai seperti jaman dulu, karena yang aku tau di Minang Pria di lamar wanita. Tapi kali ini aku seperti di bohongi oleh dia dan keluarganya, berkali - kali Bapak dan Mama selalu datang ke rumahnya. Bukannya harusnya keluarga Pria yang menghampiri Wanita. Apalagi aku berbudaya Jawa. Kali ini keluarga ikut campur tangan karena selama ini mereka hanya menuruti saja.
"Bapak sudah kasih tau biaya semua Ri, bahkan kita sudah DP gedung. Ini catering harus kita juga? Di rumah kita sudah keluar banyak loh kemarin.." Kata Bapak saat sudah pulang dari rumah Adi.
Aku terdiam dan aku merasa semuanya semakin runyam saja, keluarga Adi yang tidak sepeserpun memberikan kami uang mahar yang harusnya mereka berikan saat lamaran. Bahkan selalu di pertimbangkan dan selalu di diskusikan dengan keluarga. Sejujurnya aku sudah tidak tau lagi harus bagaimana. Karena di sisi lain aku sudah sayang dengan Adi dan keluarganya, tapi keluarga besarnya seperti terlalu ikut campur dan bahkan sampai masalah uang saja harus menunggu persetujuan dari Omnya. Ini di Jakarta bahkan bukan di Minang. Aku benar - benar kesal sampai rasanya ingin pergi saja dan berteriak sekeras - kerasnya, menangis.
"Kamu deh Ri yang ngomong sama Adi.." Sahut Mama.
"Yaa gimana yaa Ma.. Sekarang gini aja.. Aku sama Adi aja gak pernah diajak diskusi. Selalu cuma Andung dan Gaek sama Mama dan Bapak saja yang diskusi. Alasannya calon mempelai gak boleh repot urusan ini. Tapi kan kita juga harus ikut kasih saran.." Jawabku.
"Coba deh diskusi dulu sama Kakak - kakak Mama baiknya gimana. Supaya Pakde Herdi yang ngomong sama Adi nanti." Jawab Mama menahan air mata.
Sampai benar - benar membuat kedua orang tuaku menangis seperti itu membuat hatiku berat. Mama dan Bapak pun diskusi dengan keluarga Mama, jujur saat itu aku pun ingin menangis. Apalagi Pakde Herdi sudah turun tangan atas masalah ini sampai membuat keluargaku kecewa dengan keluarga Adi yang seperti ini.
__ADS_1
"Jadi kamu tuh sebenarnya gimana sih sama Adi perasaannya? Ini menikah tuh untuk jangka panjang loh Ri.. Ibadah seumur hidup. Kamu sudah yakin kah sebenarnya sama Adi?" Banyak pertanyaan yang langsung Pakde Herdi berikan.
Aku pun tidak kuasa menahan air mata sampai akhirnya aku meluapkan semuanya bahwa aku sudah tidak kuat jika keluarganya tidak mau memberikan uang sepeserpun untuk acara. Tidak mungkin hanya pihakku yang mengeluarkan uang. Bahkan sudah perjanjian akan 50% dan 50%. Alasan pertama, mereka tidak punya uang banyak untuk acara di gedung mewah, mereka sudah keluar hingga puluhan juta hanya untuk acara di rumah, karena sebelum Akad ada upacara penjemputan calon mempelai laki - laki dari salah satu pihak keluargaku. Itu yang keluarga Adi mau. Jadi mereka tetap mendekor mewah rumahnya dengan suasana Minang. Di saat malamnya midodareni juga di rumahku, belum lagi sebelumnya pengajian dan siraman. Sedangkan Adi yang sudah punya pekerjaan tetap dan bergelar S2 saja dia tidak punya tabungan sama sekali untuk menikahiku. Sampai membuat undangan dan souvenir saja harus meminjam Mily saat itu yang bahkan aku tidak tau jika Adi meminjam uang dengan Mily sebesar 1 sampai 2 juta dengan alasan untuk undangan nikah. Setiap hari hanya diskusi tanpa ada solusi. Setiap hari diskusi, padahal waktu sudah semakin dekat. Bahan untuk keluarga juga sudah mama beli semua. Tapi kami terkesannya menodong keluarganya untuk memberikan uang. Aku sangat kecewa dan tidak bisa berifikir jernih saat itu. Aku bingung.