Cinta Bukan Hanya Kata

Cinta Bukan Hanya Kata
Kali Ke Dua


__ADS_3

"Andai dari dulu ngikut sarannya Bapakmu nduk, pasti aku udah dapat banyak keuntungan dari kemarin".Katanya Arman waktu itu.


"Haha, ya mau gimana lagi Mas, untuk ini masih bisa buat stand. Katanya ada lagi yang mau stand disini untung nggak jadi kan. Yaa susah juga sih ngladeni orang ngeyel". Kataku ngejek


"Haha yo bukane gitu, aku juga nggak enak sama Hima. Yaudah aku ngikut sarannya dulu. Ehh ternyata hampir salah langkah". Katanya sambil meniupkan asap rokoknya. Hmm yang katanya si dulu nggak ngerokok ya, tapi nggak mungkin nggak bisa ketebak. Orang perokok itu mesti bibirnya item gitu. Aku sih pura - pura percaya aja. Endingnya ketahuan juga.


Flashback

__ADS_1


Waktu itu aku diajak kerja sama untuk buat menu. Dari ngelist belanja sendiri, yaa walau duitnya dari situ. Sebut saja dia Mas Daris. Salah satu anak kuliahan di salah satu kampus di Jogja. Mas Daris berasal dari Jakarta. Dia disini untuk kuliah dan mencoba mendirikan bisnis dengan modalnya sendiri. Hebat batinku kala itu.


Tiba di Cafenya Mas Daris


"Eh sori ni Dar, ni temen gue yang waktu itu gue ceritain ama lu Dar yang jago masak itu dicafe gue". Kata Mas Johan yang sekerja dicafe denganku itu.


Dengan gagahnya Mas Daris menyapaku lembut

__ADS_1


"Ohh ya gpp Mas, hehe..". Kataku gugup


"Oiya Ka, lu, eh sori - sori Hahah. maksudku kamu bisa bikin menu nggak Ka, rencana mau buka Cafe lagi sih aku."


Bla bla bla.... Panjang cerita akhirnya aku mengiyakan, Hampir setiap hari aku ikut mengurus segala menagementnya. Tempat sudah ada cuman masih berserakan karena lama tidak terpakai, konon tempat ini dulu dipakai buat karaokean. Ada masalah dengan pemilik tempatnya. Karyawan semua mengundurkan diri dan pada akhirnya bangkrut sehingga tidak terpakai lagi tempat ini.


Seperti biasa kalau aku mau kemana atau mau pindah kerja aku pasti berkonsultasi. Eh bukan berkonsultasi emangnya baru sakit yak berkonsultasi wkwkwk. Maksudku tadi aku pasti bilang sama orangtuaku. Orangtuaku setuju aja, mungkin ini bisa jadi langkah awal kesuksesanku katanya. Namun orangtuaku bertanya lagi "Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu Ka? Karena kebutuhan masih banyak. Dan lagi kamu udah keluar dari Cafemu yang kemarin." kata Bapakku.

__ADS_1


Ada baiknya juga aku keluar dari Cafeku itu. Udah hampir 1,5 tahun tapi gaji belum naik padahal sudah tandatangan kontrak kerja, dan tertulis kalau ada cuti juga selama 12hari. Dan itupun juga nggak ada sama sekali aku cuti. Libur lima hari ke Pekalongan itu pun aku memintanya dua bulan sebelum hari liburku.


Alat - alat dan bahan juga belum lengkap aku pun diajaknya membeli beberapa alat dapur, bahan - bahan dapur, sampai angkut alat dari rumah Mas Daris ke tempat Cafe barunya. Setelah selesai aku pamit karena waktu udah nunjukin jarum tajamnya di pukul 21.00,, karena dari sore dan nggak baik juga lama - lama ditempat kost cowok. Ya kesana juga praktek sih. Aku pamit terus nengokin ke biasa tempatnya Arman. Settttt dari kejauhan terlihat Arman sedang memegang sebatang rokoknya. Mungkin sadar aku lihat dia. Yaaa, walau aku baru disebrang jalan agak jauh dari tempat dagangnya. Ku yakin itu sebatang rokok yang akan dinyalakan karena udah masuk didalam mulutnya. Terlihat Hima juga galagapan kaget.


__ADS_2