
Sore itu aku merasa tidak ada rasa semangat sama sekali. Ramadhan taun ini benar - benar membuatku mengerti arti kesabaran yang sesungguhnya. Aku mencoba sabar lagi dari sabar yang udah ada sebelumnya pada diriku. Aku dan Arman tiba di Waduk Sermo daerah Kulon Progo Yogyakarta. Namun kita disitu hanya lewat saja. Banyak papan wisata disana Aku dan Arman akhirnya memilih tempat wisata yang bernama Kali Biru. Tidak ada lagi pembahasan tentang weton Jawa itu disini.
"Ashar dulu yok Mas, abis itu baru lanjut ke sana(tempat spot foto)".
"Ayok, sendiri - sendiri apa jamaah nduk?"
"Sendiri - sendiri aja Mas". Aku baru selesai wudhu dia malah maen game di mushola. Lha gimana sih.
"Lah kok ra sholat Mas? (Lah kok nggak sholat Mas?)".
"Udah yo, aku udah sholat. Giliran kamu sana". Cepet banget sholatnya. Apa akunya yang lama wudhunya ya.?
"Allahuakbar". Baru mau jalan satu rakaat Arman mengangguku sholat dan sengaja bermain game di handphone, maen gamenya di depan aku sholat , Ni anak pondok kok kelakuannya kayak gini sih kayak anak kecil deh gumamku dalam hati. "Beb minggir aku mau sholat, nggak konsen aku kalau kamu di depanku." Dia nyengir santai dan berkata "Apasih beb".
"Bebbbb". Ku kibaskan sajadah di tubuhnya. Akhirnya dia pun minggir. Aku bingung sama Arman ini, udah tua tapi masih labil. Dia juga kekanak - kanakan. Huh,
Kita pun lanjut menuju spot foto, aku dan Arman kesorean datang jadi hanya bisa melihat sunsetnya saja dan foto di sebrang spot foto. Karena spot fotonya sudah ditutup di pukul 17.00 WIB. Pengunjung pun mulai sepi. Anak tangga yang banyak membuatku lelah dan duduk sejenak. Baru juga duduk sebentar dia berdiri tanpa berkata.
"Aaaaaa,, Masss pelan - pelannn. Ahahahhaha. Udah udah Mas turun Mas". Ku kira ada hal yang ingin Arman bicarakan lagi tentang weton Jawa itu. Ternyata dia berdiri untuk menggendongku. Aku baru merasakan sebahagia ini disaat Arman sudah mulai berubah. Semoga terus selalu bahagia seperti ini. Walau begitu aku tetep memohon agar puasaku diterima.
"Fufuufuu.. Mas kalau mau gendong bilang - bilang dulu dong. Ini yang digendong siapa yang ngos - ngosan siapa".
__ADS_1
"Hehe maaf Nduk, habisnya aku lihat kamu capek banget. Yaudah spontan aku gendong kamu hehhe".
"Iya Mas aku suka kamu yang kayak gini kok." Kataku jujur dan tersenyum, dia melihatku dan memeluku. Deg jantungku berdebarsangat jencang aku diam layaknya patung aku bahkan tidak menolak pelukannya , lalu diapun berkata sambil mengelus kepalaku "Maaf ya Nduk, aku selalu buat kamu sedih. Aku belum bisa menjadi yang kamu harapkan. Maaf juga Nduk, aku belum bisa menjadi laki - laki yang dewasa". Aku pun membalas pelukannya. Aku merasa sangat tenang didalam pelukannya. Kenapa disaat hubungan kami seperti ini Arman membuatku semakin mencintainya dikala aku sudah mau mundur dan mengikhlaskannya dengan yang lain. Pikirku
Arman melepaskan pelukannya dan berkata "Mau gendong lagi nggak?". "Kalau nggak yaudah". Dia pun berjalan duluan
"Mulai kan". Aku pun mengejarnya dan mnggelitikinya. Dia merasa kegelian, ehh dibalasnya aku digelitikin balik. Aku pun menjerit ketawa - tawa dan aku pun menyudahinya.
Tempat yang mulai sepi membuat kami bebas, Arman masih berjalan didepanku. Aku masih ngefoto pemandangan yang sama sekali aku belum lihat pemandangan seindah ini. Karena fokus melihat dan ngefoto pemandangan aku menabrak Arman yang sudah jongkok didepanku.
"Aduhhhhh, ngapain jongkok didepanku sih". Aku pun menaboknya karena aku hampir terjungkal
"Hahaha maaf deh jadi gendong lagi nggak? Ayok keburu kesemutan nih.".
"Udah Mas nggak usah sok kuat Hahaha..." Diapun menurunkanku. Dia menggandeng tanganku dan kadang merangkul bahuku.
Adzan maghrib sudah berkumandang. Kita pun bergegas mencari makanan untuk buka puasa, diperjalanan aku menanyakan rumahnya dimana karena selama ini aku belum dibawanya kerumahnya. "Mas, rumahnya Mas Arman yang mana Mas?". Tanyaku
"Mau mampir po?"
"Ya nggak apa - apa mumpung disini. Tapi ini udah jam 8 malam mas, gimana".
__ADS_1
"Iya juga sih, Mmm gini aja kamu mau bledek nggak(makanan khas Kulon Progo)?". Udah lama juga si aku nggak makan. Ini juga salah satu makanan kesukaanku hehe.
"Ohh bledek, boleh - boleh Mas". "Oiya Mas udah malam juga aku nggak enak kalau mau ke rumahmu jam segini Mas".
Mungkin dia nggak dengar karena angin kenceng banget. Dan aku juga nggak tanya - tanya lagi tentang rumahnya. Setelah menunggu lama karena tadi baru digoreng. Arman pun membayar.
"Beb kamu tau nggak perjodohan weton Jawa itu apa?". Whatsappku ke Sukma
"Apa itu beb, aku juga malah baru denger". Sukma aja nggak tau noh yang asli orang Jawa.
"Ngene beb, jare Mas perjodohan weton Jawa itu katanya kalau anak pertama sama anak pertama itu nggak boleh ada hubungan. Nanti ujungnya yang ada kalau udah berumah tangga bisa cerai gitu".
"Terus MasBeb mu percaya???".
"Hooh beb, Aku juga udah bilangin kalau itu tu cuma mitos, aku tanya bapakku aja bapakku nggak tau kok wkwkwk.. Dan lagi ya beb dia itu orang pondok lho, orang yang beragama masa percaya sama mitos kayak gitu??".
"Iya beb bner banget aku juga mau ngomong gitu. Kesel aku tuh beb, pengen ketemu ro Mas Armanmu aku pengen nonjok dia beb. Greget aku. Terus gimana kamunya beb?".
"Aku iseh bertahan beb sampe saiki (Aku masih bertahan beb sampai saat ini) ".
"Hufffttt,, kenapa ya kamu kayak gini terus kalau udah dapet. Semangat ya beb, moga aja Mas Armanmu itu cepet sadar. ". Benar apa kata Sukma dari dulu aku nggak tau apa sebabnya kenapa setelah aku dapat orang yang aku suka dan aku nyaman dan udah nerima dia apa adanya dia malah berubah.
__ADS_1
Aku pikir sudah tidak ada lagi pembahasan tentang weton Jawa itu, ternyata cerita tentang weton Jawa masih berlanjut, ada amarah yang timbul darinya sampai dia memblokir whatsapp ku. Kenapa lagi dia?? Mau cari masalah apa lagi? Disini kenapa aku yang lebih dewasa dari dia. Dan sebaliknya dia lebih kekanak - kanakan dari yang tak pernah aku kira. Aku pikir dia adalah Pria yang dewasa.
Terus setia dengan karya saya ya. Jangan lupa likenya dan terimakasih yang selalu mengelike dan setia membaca karya saya. Ditunggu terus episode berikutnya ya hehe๐๐