
"Gimana beb?". Kata Vina.
"Kita nyusul ke Siska aja yuk, biar nanti juga nggak cari - carian pas sampe disana, pokoknya berangkat bareng pulang bareng hehe". Kataku sok sok an wkkw
"Ohh yaudah kalau gitu Mbak Eka nggak apa - apa, tumben punya ide Hahaha... ". Kata temanku satunya lagi yang pake motor sendiri. Karena Siska tadi boncengan dengan temanku lagi.
"ngledekkk, yaudah ayok puter balik". Kataku sambil mukul pelan bahunya temanku yang ngledek tadi.
"maap yo beb, tapi ini bentar lagi kelar kok hehe..". Aku mengangguk senyum, namun dalam hati ada sesuatu yang mengganjal. Ya tentang Arman, kenapa dia nelfon terus dan whatsapp aku kalau aku kapan pulang? Pulang jam berapa?
"Iya, nggak apa - apa Mbak Siska. Santuyyy". Kata temanku.. Sambil menunggu dan berbincang - bincang nggak jelas, akhirnya jadi juga proses menambal bannya. Nggak lupa satu kewajiban ketika maen. Apalagi maen bareng kayak gini, cekrek cekrek cekrek. Beberapa foto selfi kesimpan di galerynya Vina, karena kamera dia aja yang bening dan banyak filter wkwkwk.
DRRTTT DRRTTT Drtttt
Getaran panjang terus menghampiri di handphoneku dipukul 21.00 WIB. Sudah ketebak siapa yang telfon aku. Dan benar saja dugaanku. Yang telfon itu jelaslah Arman. Hufttt kayak anak baru cari ibunya aja deh dia ni.
"Bisa pulang nggak?, Pulang sekarang!". Salah satu pesan yang ku terima dari Arman. Tapi kelihatannya dia sangat marah. Aku nggak menggubrisnya, nanti kalau aku gubris adanya cuman masalah aja yang ada, nggak lama setelah aku membaca dari sekian banyaknya dia mengirim pesan ke aku. Battray handphone ku pun habis dan handphone mati seketika. Hufttt biarin lahh. Kalau begini kan bisa santai aku dengan teman - temanku.
Kita keliling seluruh malioboro kita bahkan lewat digang - gang kecil "Sark**". Jalan kaki emang enak ya kalau malem - malem gini, apalagi saat suasana ramadhan gini, biarpun banyak yang berlalu lalang tapi tetep aja asyik, kita jalan menyusui Stasiun Tugu Jogja, hotel - hotel bintang 3 bahkan sampai bintang 5. Nggak lupa juga sempet - sempetin foto, ambil video.
"Ya ampunnn eke pengen deh masuk kesana, cowoknya pasti ganteng - ganteng cin". Kata anak baru dikerjakan lama yang baru kenal ini, cakep tapi ben*ong wkwkw.
"Yaudah sono masuk aja sono, ntar kita tinggalin lo sendiri baru tau rasa ". Kata Siska dengan bahasa khasnya. Dia asli jogja tapi ayahnya dari Palembang jadi ya kalau ngomong agak ngegas gitu deh.
"Kamu kelamaan eh kemalaman nggak beb, kita juga udah lumayan lama disini.". Kata Siska.
__ADS_1
"Iya beb, orang rumah juga udah suruh pulang sebenernya". Karena tadi udah pamitan sama orang tuaku, tapi ttep dicariin. Ya begini nasib orang rumahan.
"Lahh kok gak bilang beb,??" Kata Siska
"Hehe nggak enak beb akunya,".
"Yaudah yok pulang aja, aku juga ngantuk nih daritadi nguap terus bawaannya". Kata Temanku bernama Fira yang asalnya dari Tangerang.
"Daaaa,,, see you next time gais gais". Kata Vina dengan lambaian tangannya ke Siska. Aku dan yang lain pun juga. Karena Siska beda arah sendiri rumahnya. Sedangkan kost Vina, Mbak Vira, dan rumahku searah.
"Assalamualaikum". Kok nggak ada yang jawab yak?. Aku buka pintu kamar bapak ibuku. Ternyata udah tidur, aku tutup pelan - pelan. Ternyata adekku juga udah tidur.
Kuputuskan langsung masuk ke kamar.
"Bersih - bersih terus sholat isya' dulu deh, oiya handphone mana handphone. Ku cas dulu deh, sekalian dihidupin aja dehh". Baru sadar kalau aku mengoceh terus,.
Ku nyalakan koneksiku, handphone langsung berdering seketika, ternyata itu dari Arman
"Udah pulang belum kamu? Ini udah jam berapa?!". "Sekarang keluar kamu dari kamar kamu" . Tanpa menjawab dan terburu - buru aku keluar dengan masih mengenakan mukena ku. Aku lihat ada kotak besar dan satu lagi. Hima? Kenapa dia ada disini? Dan dimana Arman?. Sama sekali nggak menggubris itu kotak
" Mas Hima? Ngapain? Terus Mas Arman dimana? Katanya didepan? "
"Ar.. Arman di depan sana Ka". Kenapa Hima gugup begini?. Ada apa sih ini sebenarnya.?
"Lhoh Mas Arman?". Kulihat Arman sedang duduk bermain handphone di atas motornya.
__ADS_1
"Udah puas mainnya?! ". "Aku mau ngomong sesuatu sama kamu". Arman mau ngomong apa dan kenapa dia marah banget kelihatannya?
"Mau ngomong apa emangnya Mas?".
"Bentar, kamu baru sholat? Kenapa nggak sholat disana tadi? Kamu lebih mentingin maen daripada sholat Nduk?". Karena Arman melihatku masih mengenakan mukena, akhirnya dia suruh ganti pakaianku dulu baru dia mau bicara, Lhoh Hima kemana? Kok nggak ada? Tadi aku lihat beneran Hima Lhoh!. Aneh banget deh hari ini.
" Aku lihat Arman kembali sibuk dengan handphonenya ". Dengan pakaian seadanya karena terburu - buru aku menghampiri Arman.
"Udah?". Aku mengangguk.
"Nduk aku minta maaf sebelumnya, aku mau bertanya sesuatu sama kamu boleh?". Tumben minta ijin biasanya kalau mau tanya juga langsung bilang. Bikin orang penasaran aja deh.
"Iya Mas boleh, emangnya kenapa sih? Mau tanya apa?, oiya mendingan disana aja deh ngomongnya biar enak Mas, "
"Nduk, Mmmm... Nggak nggak nggak usah disini aja, kan enak juga sambil liatin bintang". Aku jadi curiga nih.
"Tadi aku juga lihat Mas Hima lho disana?".
"Him.. Hima?? Nggak ada Himaa Ka, aku disini sendiri".
"Mmm udah udah kembali ke tadi, Sampean mau tanya apa Mas?". Sepertinya dia memulai bicaranya
"Gini nduk, kamu sayangkan sama aku?" Aku mengangguk dan menatapnya tajam.
"Mmm gini aku nggak tau mulai darimana, yang jelas aku juga masih sayang sama kamu nduk. Ka.. Kalau kita nanti pisah kamu sedih nggak?". Hah? Pisah? Apa yang dia bicarakan? Kenapa tiba - tiba topiknya pisah?. Air mataku mulai mengenang, aku berusaha bernafas panjang dengan mendongakkan kepalaku ke atas agar air mata tidak terjatuh.
__ADS_1
" kenapa tanya gitu? Ya jelas pastinyaaa.. Hikss... Hikss. Pasti sedih lah Mas, kamu udah nggak mau terusin hubungan kita ini?" Aku tersedu - sedu. Aku masih trauma dengan kata pisah, aku nggak mau pisah lagi dengan orang yang aku sayang.
"Nduk dengerin aku, aku nggak bermaksud begitu" Arman memegang bahuku tapi aku menolaknya. Pedih perih hati ini tidak bisa tertahan lagi, aku kemudian beranjak dari dudukku. Karena kami tadi duduk diteras rumah. Namun Arman menarik tanganku agar aku tetap berada disini. Aku diam tanpa kata, namun aku kemudian berbicara