
"Nduk, aku beberapa kali liat kamu online tapi nggak balas whatsappku. Kamu ada yang lain??. Jujur aja nduk aku merasa diasingkan, ". Aku jadi yang lebih sedikit emosi. Badan udah capek, kerjaan baru banyak jadi berantakan gara - gara satu pertanyaan konyolnya itu. Sejauh ini apa yang dia pikirkan? Apa tidak ada rasa percaya lagi denganku yang begitu tulus ini?
"Ya Allah ya enggaklah...!!!, kamu nggak percaya? Selama ini kamu masih nggak percaya sama aku??".
"Ya bukannya gitu Ka,". Belum dia menjelaskan. Aku yang menjelaskan duluan
"Mas gini ya, maaf banget Mas. Tau kan kalo aku ini sekarang lagi kerja. Aku juga baru baru banget disini, ngerti sampe sini?? Dan lagi awal - awal aku jarang megang handphone karena masih training. Ya bisa aja aku kerja dari rumah whatsapp belum aku kembali ke menu. Langsung berangkat kerja. Mas juga tau kan awal - awal kerja itu gimana??? Dan lihat dulu tadi aku online terakhir jam berapa??? ". Entah darimana dia menyimpulkannya. Aku tersulut emosi. Aku nggak bisa lagi nahan emosi. Aku kehilangan kesabaranku. Entah dimana sabarku sekarang. Ku luapkan semua emosiku ke Arman. Arman hanya bisa minta maaf minta maaf dan minta maaf terus sekarang. Dan berfikir yang enggak enggak kepadaku. Siapa yang trima kalau ditanyain kayak gitu.??
Ku aku i aku memang sedikit lebih posesif sekarang. Aku selalu meneleponnya, melakukan vidcall ke dia, bahkan satu hari pun aku bisa meneleponnya lebih dari 2x. Apa ini salah satu sebab Arman mulai menjauhiku ??
"Nduk maaf untuk kali ini aku nggak bisa tinggal diam. Aku mau pergi ke korea, aku udah putuskan itu, putusanku udah bulat, dan aku juga udah ijin sama orang tuaku kalau aku mau ke korea. Semoga kamu bahagia sama yang namanya Agus Agus itu." Katanya di Instagram karena dia sudah ngeblock nomor whatsappku. Ohhh jadi karena dia masih salah paham sama Agus? Sehingga dia ngeblock nomorku. Dia ke korea? Lah bahasa inggris aja nggak bisa kok mau ke korea. Batinku dalam hati. Namun aku juga nggak sanggup kehilangan orang yang sekarang ada padaku. Aku sudah bertekad untuk berjuang. Aku pun menghampirinya di tempat dagangnya dengan air mata yang sudah deras membasahi pipi chubbyku.
Sesampainya disana, Dan benar saja dia terlihat murung aku langsung menghampirinya lalu duduk. Kemudian megang lengannya dan menyenderkan kepalaku dipundaknya
"Maaf Mas, aku nggak tau bakal kayak gini Mas, itu candaan biasa. Tolonglah.. Jangan pergi yaa, plisss". Diapun melepaskan tanganku dari lengannya.
__ADS_1
"Maaf nduk keputusanku udah bulat, aku nggak bisa lagi liat orang yang aku sayang chat - chatan dengan orang lain. Sebenarnya aku punya aplikasi yang bisa lihat pasangannya chattingan sama siapa aja. Maaf nduk". Segitunya sampai dia cari aplikasi untuk kepoin isi chatku, dan lagi aku juga beberapa kali serahin handphone ku untuk dia . Apa itu juga masih kurang?.
"Mas maaf Masss jangan pergiii... Hikss.. Hiksss...!!". Aku melingkarkan kembali tanganku dilengannya "Pliss Mas Huhuhuuu..." Aku masih saja menangis Kulihat Arman diam saja. Aku pun melepaskan tanganku
"Sampean egois Mas, terserah Mas lah. Hikss... Hiksss.. ". Aku pun beranjak dari dudukku namun Arman mendudukkanku kembali dengan cara melingkarkan tangannya ke perutku dan menarikku untuk duduk. Aku masih tersedu, Arman menyenderkan kelapaku di bahunya dan mengelus lembut kepalaku.
" Maaf nduk, sebenernya aku masih sayang sama kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu." Aku masih menangis. "Udah ya jangan nangis lagi, Maafkan aku tadi nduk aku terlalu cemburu. Baikan ya cup cup cup. Jaga kesempatan ini baik - baik ya ". Dia menghapus air mataku.
Aku pun membuka suara "Lalu apa aku boleh bertanya sesuatu ke Mas Arman". Yang aku tanyakan adalah soal cwek yang waktu itu chat mesra ke Arman.
Arman pun menatapku "Boleh, Mau tanya apa nduk?".
"Itu adekku yang di Jakarta." Jawabnya singkat. Aku mengernyingkan dahi, "Bukannya adekmu cuma satu? Dan itupun dia cowok?".
"Hmmm gini ya sayang, maaf juga udah buat kamu salah paham. Dia adekku yang aku kenal dari Instagram, dia udah aku anggap adekku sendiri. Makannya chatnya kayak gitu. Dan lagi dia juga udah punya pacar dia masih sekolah di SMA * Jakarta. Yaudah untuk lain kali aku kurangi chatnya dengan dia. Kapan - kapan kita kesana ya. Kalau mau habis lebaran kita kesana juga sekalian ngenalin ke dia kalau kamu calonku dan sekalian silaturahmi dengan keluarganya. Ya mungkin seminggu setelah lebaran pas aku dapet cuti tahunan hhehe". Arman mulai menjelaskan. Kelihatannya dia sedang serius. Ok kali ini aku terima jawabannya.
__ADS_1
"Yaudah buka blokirnya". Setelah merasa lega akhirnya aku pulang karena temannya sudah ada yang datang. Temannya Hima juga yang pasti. Namun sebelum temannya datang Arman sempat berkata kalau dia nggak dagang dulu selama Ramadhan. Dia mau fokus ngaji dulu.
Karena tadi aku Nggak bawa handphone, aku langsung meraih handphoneku untuk mengecek apakah blokiran Arman ke aku sudah dibuka atau belum.
Ku hidupkan sambungan dataku dan benar saja sudah dibuka oleh Arman. "Sekali lagi maaf ya nduk dan makasih sudah mau bertahan denganku❤️". Chat Arman setelah aku menghidupkan sambungan data. Namun ada chat lagi dari Eno. Ada apa ya?
"Wess... diceluk meneng wae ( Dipanggil diem aja)". Pesan whatsapp kuterima dari Eno
"Hahaha, kapan? Pas Dimana? Dijalan po? (Kaapan? Pas Dimana? Dijalan?)". Balasku nerocos.. "Kok aku ra krungu? (Kok aku nggak dengar?). Balasku lagi, yang Eno pun belum sempat membalas pesanku.
" Mau lewat neng ngarep roti bakar, lha wong yang - yangan wae kon krungu( Tadi lewat didepan roti bakar, Lah kamunya aja pacaran gitu mana denger) ". Balas Eno menjelaskan.
"Hehe, maaf nggak reti tenan aku (Maaf nggak tau beneran aku)". Pinta maafku ke Eno
"Iyowesss, lupakannn". Katanya singkat seolah dia marah, tapi daripada pesannya aku lanjut balas, dia makin marah. Aku cuma ngeread aja.
__ADS_1
Aku merasa nggak enak dengan Eno, ya emang sih dia orangnya slow - slow aja. Tp hatiku tetap merasa nggak enak. Walau akhirnya juga candaan lagi kayak biasanya.
Eno orang yang selalu mau ada disaat aku terpuruk. Dia selalu muncul walau aku nggak membutuhkannya, dia yang tak pernah bosan mendengar candaan garing ku Hahahah.. Begitu sebaliknya dengan Arman, Arman yang awalnya baik pengertian banyak perhatian, sekarang dia tak lagi sama, dia yang sekarang lebih kekanak - kanakan dan juga bukan orang yang aku kenal.