
"Acara takbiran mau kemana rencananya nduk?". Kata Arman lewat telepon yang setelah malam terakhir kita ketemu itu kita belum ketemu lagi. Mmm malam takbiran ya aku juga gak tau kemana. Biasanya juga cuman keliling aja bareng pemuda pemudi desa.
"Haloo.. Mikir apa sih?". Tanya Arman
"Hhha mikirin kamuuu.". Kataku
"Hhha apa sih... Tadi belum dijawab lho". Katanya.
"Hhhe iya mas, nggak tau kemana Mas. Paling keliling sama anak - anak desa sama pemuda pemudi desa aja. Biasanya juga gitu sih".
"Ohh gitu. Aku juga bingung, pengennya keluar gitu sama kamu. Tapi disuruh dimasjid aja katanya nggak boleh keluar - keluar. Yaa bareng Hima juga"... Lesunya.
"Hhe ya pengennya juga gitu sih Mas,.. Mmm ya udah nggak apa - apa Mas Arman di masjid aja. Malah lebih bagus gitu kan daripada keluar motor - motoran nggak jelas gitu malah nggak ada manfaatnya kan" . Kataku sok bijak.
" Hahha pinter juga kamu". Puji Arman.
Tutt tuttt tutttt... Lhoh kok panggilannya putus? Perasaan baru ngisi kuota deh tadi. Apa teleponnya Arman baru lowbat ya.
"Allahuakbar... Allahuakbar... Allahuakbar.. Laailaahaailallah wallahuakbar. Allahuakbar walillaahilham".
Akhirnya malam takbir pun tiba, ingin rasanya tiba dihari esok melaksanakan sholat ied bersama keluarga dan masyarakat desa. Hahah pasti dapet ampau nih. Dapet ampau nggak ya kira - kira dari Arman. Hhha berharap banget yak gue.
"Eh Ka, pie karo bakule roti bakar ( gimana sama yang jual roti Bakar?". Kata Rika temen desaku.. Mungkin yang dimaksud itu Arman.
"Haha baik - baik aja sih. Ngopo emange kepo banget deh (kenapa emangnya kepo banget sih)".
"Ya itu...". Rika yang ingin tau menau tentang hubunganku dengan Arman yang mulai renggang kembali ini. Membuatku nggak bisa berkutik lebih jauh lagi. Namu suara wakil ketua pemuda desaku menghentikan perkepoan dari Rika. Syukurlah...
__ADS_1
"Ayo - ayooo.. Mbak - mbak e mas - mas e bantu adek - adeknya baris ya. Ayo Adek - adek yang udah punya gandengan atau pasangan bisa langsung baris.". Kata wakil ketua pemuda.
"Heeee... Seng ngatur baris e wes due pasangan urung kuii (yang ngatur barisnya udah punya pasangan belum itu)". Ejek pemuda lain.
"Hahaha... Bener bener". Tawaku bersama yang lain serta masyarakat desa yang sedang berkumpul didepan masjid untuk merayakan hari kemenangan bagi seluruh umat islam.
"Ngeceee...". Kata wakil ketuaku yang ujungnya ikut tertawa juga wkwk.
"Yaudah ayo keliling sekarang". Kataku.
"Allahuakbar... Allahuakbar... Allahuakbar.. Laailaahaailallah wallahuakbar. Allahuakbar walillaahilham".
Keesokan harinya.
Masih di sambut suara takbir yang begitu hangat yang bisa menghangatkan jiwa dan ragaku. Cerahnya langit tak bisa menghentikan rasa bahagiaku. Dan serunya suara rengekan debay lucu di tengah kerumunan banyak orang yang membuat hiburanku. Sertaa... Ibuku yang meminta selfi sama aku dan adekku yang membuat aku sedikit malu namun juga bisa membuat senyum mani dibibirku Hahaha...
"Apa aku boleh berharap lagi ke Arman seperti ini?". Gumamku dalam hati sambil melihat langit pagi yang cerah.
"Minalaidzin wal faidzin nggeh Mas Arman. Maafkan Tika dan keluarga kalau banyak salah". Ku kirimkan pesan ke nomor Arman.
"Aku juga ya nduk. Aku minta maaf banget selama sama aku. Kamu belum bahagia dan maaf juga ya nduk aku banyak buat kamu kecewa. Salam untuk bapak dan ibuk ya. InsyaAllah nanti sore atau malam aku kerumahmu nduk ".... Jawaban Arman setelah beberapa jam aku menunggu balasannya.
" Kenapa dia minta maaf seperti itu ya? Dan dia nnti mau kerumah? " gumamku dalam hati.
" Pak katanya Arman mau kerumah mangke sonten nopo ndalu. Ajeng sungkem paling (Pak Arman nanti mau kerumah sore atau malam. Mungkin mau berkunjung Pak) ".
"Yaudah pokoknya kamu siapin hati aja. Jangan berharap lebih lagi ke dia. Soal jodoh juga udah ada yang ngatur. Pasrah aja. Yaaa, itung - itung bapak bikin usaha bisa buat penghibur buat kamu juga. Dengan apa yang dikatakan Arman itu Bapak udah nggak yakin Nduk. Sabar ya Nduk. Ya Bapak juga nggak bisa memutuskan dan tidak bisa berpendapat lebih lagi. Ini semua kembali ke kamu ".
__ADS_1
Sebelumnya.
" Maaf Nduk, aku mau ngomong penting sama kamu, aku harap kamu nggak marah ya". Pesan singkat meluncur ke nomor ku.
"Mau ngomong apa Mas Arman? Kenapa aku harus marah?". Ku balas pesan Arman itu. Kenapa aku harus marah?. Gumamku dalam hati. Hatiku bergejolak, jantungku berdegup kencang seperti loncat katak. Aku sudah berjuang mempertahankan dan kali ini aku nggak bisa mengelak. Ya Allah kuatkan aku.
Lama sekali Arman membalas pesanku. Apa yang sedang dipikirnya. Kenapa perasaanku nggak enak.
"Assalamualaikum Nduk, maaf aku baru balas, untuk Yang tadi sebelumnya aku maaf banget Nduk, tapi aku nggak bisa berkutik lagi Nduk, aku juga nggak tau harus ngmong darimana ke kamu. Maaf Nduk sekali lagi maaf banget Nduk. Kemaren aku sudah di beritahu sama guruku, Guru ngajiku itu yang pernah datang ke roti bakar Nduk. Aku udah nggak bisa nerusin hubungan kita Nduk, aku.. Aku sayang sama kamu. Sayang banget Nduk. Aku takut sama guru ngajiku. Dan aku takut, aku nggak bisa mempertahankan rumah tangga kita kelak jikalau kita menikah. Aku takut dengan weton itu Nduk, dan tertera disitu kalau kita bakal pegat (cerai)".
"Mmm... Kamu nanti dirumah kan? Mungkin aku habis isya kesana. Maaf banget ya kali ini aku nggak bisa ngelak lagi, semoga kedepannya kita bisa menjadi lebih baik lagi. Walau meskipun kita udah nggak kayak kemaren2 lagi".
Aku baca berulang kali tanpa menghentikan air mata yang mengalir deras dan tak bisa terbendung lagi. Walau sesekali aku usap namun tetap saja air mata ingin jatuh terus - menerus. Hiksss, aku sesenggukan dan tak berani keluar kamar.. Apa yang salah dengan diriku? Aku sudah berjuang sejak dulu mempertahankan hubungan ini. Aku tau kita hanya berkomitmen meski Arman menembakku waktu dulu. Aku.. Aku... Hiksss... Hiksss...
Aku bergumam lagi, rasanya sakit sekali dengan uraian kata Arman tersebut. Aku sayang sama Arman. Ya Allah kenapa terulang lagi hal menyakitkan seperti ini.?? Huhuhuuu.... Hikss Hiksss...
"Iya Mas dateng aja".. Balasku ke Arman dengan tangan yang bergetar. Yang tak bisa dan belum bisa menerima kenyataan kalau Arman telah menyudahi hubungan ini hanya persoalan untuk dia mengaji saja. Bagus memang dikata, tapi disini aku juga nggak boleh egois. Masih banyak orang yang sayang sama aku. Aku harus kuat, aku harus bangkit, aku nggak boleh kayak gini. Ya Allah, aku tau aku salah sudah berharap lebih dari salah satu hambamu. Bapak benar. Bapakku selalu benar. Namun, kenapa disaat bahagia itu datang kenapa selalu pada akhir kebahagiaan, kehancuran datang melanda.??
Sore hingga malam aku tak kunjung keluar dari kamar, keluar hanya untuk mengambil air wudhu untuk membersihkan lukaku. Setelah itu, pintu kamar kembali aku tutup. Keluarga yang telah memaklumiku tidak bisa berbuat apa - apa. Hanya memastikan kalau aku makan atau belum. Habis maghrib pun aku putuskan untuk tiduran yang kemudian terlelap. Hingga...
"Tok tok tok"... "Kaaa,, Tikaaa".
"Seperti suara Bapak?? Tapi kok udahan ya? Apa tadi dimimpi? Tapi kenapa ya kok seperti nyata? . Aduhh pusing banget. ".. Gumamku. Ku coba bangun dari tempat tidurku. Ku usap air liur yang sudah menjadi kering. Iuhh banget deh Ka 😂. Tanpa ku sadari pula ketika sudah berdiri dan menghadap kaca mataku sedikit sipit karna dorongan kantong mata yang tiba - tiba tebel.
" Kaa.. Turu po? Ki ono Arman.(Kaa... Tidur? Ini ada Arman) ". Kata Bapakku lebih keras biar aku cepet keluar.
"Ohh nggeh sedilit ( Ohh ya sebentar)". Kataku lesu. "Kamu harus kuat Ka, semangat". Gumamku dalam hati sambil mengepalkan kedua telapak tangan.
__ADS_1