
Duduk santai sambil melamun menjadi kebiasaan burukku saat ini . Ditengah - tengah keheningan pagi, siang, sore, bahkan malam tak seceria dulu orang bilang. Aku belum berani mengaku tentang hubungan dengan Arman yang sudah berakhir ini. Walau kadang kesibukan teman kerja terdengar sangat nyaring, tapi tetaplah rasa sepi yang ku rasa. Walau teman juga segalanya, namun sekarang aku nggak bisa cerita dulu tentang hubungan kandasku dengan Arman. Setiap doa ku selipkan tentang Arman agar Arman bisa sukses kelak tanpa kehadiran orang seperti aku. Disini akulah yang paling tersakiti namun nggak tau kenapa rasa peduli ke Arman masih menyelimuti hariku.
Usaha Bapak kini mulai laris, sesuai dengan bidangku, aku membantu Bapak setiap ada pesanan dari pelanggan. Kami sekeluarga atas nama Bapakku sudah berencana membangun Usaha baru di rumah. Kami membuka warung susu sapi murni. Sungguh, benar kata Bapak, berkat kata Bapak dan usaha Bapak yang kini telah berjalan sekitar dua mingguan merubahku menjadi wanita yang sangat kuat dan sabar. Walau kadang kesabaran hampir habis, kini sudah terisi kembali berkat dukungan dari keluarga agar aku menjadi wanita yang ceria dan selalu bangkit dari masalah yang hampir membuatku stres dan tidak ada semangat hidup.
"P"... Notif dilayar ponselku terlihat jelas itu nama Arman. Memang, Arman masih tersimpan dalam kontak ponselku, namun bukan lagi dihatiku. Aku sudah move on dari dia karena berkat dari keluargaku.
"???". Ku balas pesan Arman yang singkat itu hanya dengan tanda tanya saja. Aku sudah lepas dari Arman. Nggak ada lagi yang perlu aku permasalahkan dengannya. Lagi, kenapa dia masih menghubungiku?
"Maaf Nduk, aku ganggu, aku mau ambil selai roti bakar sama alat - alatnya. Mmm... aku udah di disamping rumahmu".
"Yaudah langsung kesini wae Mas, aku lagi sibuk". Balas ku ketus.
"Whatsapp dari siapa Mbak ?". Ternyata adekku mergokin aku.
"Arman". Kataku jujur sambil memasak nasi goreng pesanan pelanggan.
"Ni Mak, Mbak Tika Whatsapp sama Mas Arman katanya". Oceh adekku ke Mamakku.
"Kok iseh Whatsapp karo Arman Ka?, mbok ues rasah dibales (Kok masih Whatsapp sama Arman Ka? Udah kenapa sih gak usah dibalas)". Kesal mamakku.
"Iki Mak Mas Arman arep? (ini Mak Mas Arman mau...) ". Jawabanku kepotong oleh Arman yang sudah sampai diwarungku. Mamakku langsung berpaling muka tidak memperhatikan Arman.
__ADS_1
"Assalamualaikum". Salam Arman
"Wa'alaikumsalam". Jawabku
"Dek, langsung anter Mas Arman ke dalem rumah, mau ambil selagi roti bakarnya dia" . Kataku tanpa melihat Arman.
"Oalahh..". Adeku langsung jalan duluan.
"Teng pundi Nduk? (Dimana Nduk) , masih di dalem to selainya?". Tanya Arman sok akrab.
"Kae lho ngetutke adekku kok malah ngadek neng kono (itu lho ikutin adekku, kok malah berdiri disana)". Ketusku ke Arman, setelah itu raut wajah Arman berubah. Aku pun tidak terlalu mempedulikannya. Arman pun mengikuti adekku ke dalam rumah untuk mengambil selai didalam kulkas yang sempat pernah Arman titipkan ditengah - tengah puasa Ramadhan. Dia mengambil bersama temannya. Yang aku nggak tau dia itu siapa. Tanpa menyapa dan terimakasih Arman pun berlalu tanpa pamit.
"Kae Ka, untung koe rasido karo Arman, ra due sopan santun. Mangkane aku mau yo langsung ra gatekne wonge ( Tuh Ka, untung kamu nggak jadi sama Arman, nggak punya sopan santun. Makannya aku mau juga langsung nggak memperhatikan dia)".
Hari pun berlalu. Sudah ku nikmati hari biasaku seperti ini. Kini aku menjomblo lagi, lagi, dan lagi. Hadehhh malah kayak lirik lagu yak Hahaha. "Wahh ada Habib Syech nih". Ku lihat postingan di story whatsapp dari temannya Arman yang bernama Heru itu, yang pernah diajak Arman mengambil perlengkapan roti bakarnya dirumahku kala itu. Semua teman Arman nge-whatsapp aku termasuk Hima, Heru dan satu lagi aku lupa namanya siapa, tapi udah kenal juga sih sebenernya sama dia. Kembali ke topik, setiap ada acara Habib Syech yaitu shalawatan bersama Habib ini. Kadang juga sudah biasa disebut dengan Pengajian Akbar. Masih lama sih masih Tanggal 01 Agustus, biasanya sama Rika teman desaku atau sama teman yang lain kalau mau pergi ke Pengajian Akbar. Ditengah mikir mau pergi sama siapa, memang tergantung niat sih, cuman nggak mungkin pergi sendirian diperkumpulan banyak orang, bahkan luar kota pun pakai mobil atau pakai truk bareng - bareng. Ada pesan dari Hima temannya Arman itu.
"Ayokk gas la, kaleh sinten le mrana Ka? (Ayokk gas la, sama siapa kesananya Ka? ". Chat Hima sudah terbaca olehku, terlihat dia
mengkomen postinganku yang ku Screenshoot dari storynya Heru.
"Hahha.. Kaleh rencang (Sama temen) mungkin Mas seperti biasanya". Balasku sedikit malas.
__ADS_1
Warungku dibuka mulai pukul 18.00 sampai 00.00.. Hampir setiap hari Hima di datang kewarungku. Meski rezeki sudah diatur oleh Allah, dan Hima adalah salah satu orang yang sudah menjadi pelanggan tetap, Hima pun juga baik. Walau kadang kesopan santunan masih belum ia pergunakan. Pernah ketika Bapakku dan Mamakku ada diteras rumah. Hima bukannya bersalaman malah langsung duduk denganku. Dia membawa sebuah kitab yang pernah ditawarkan denganku.
"Dibaca dulu". Katanya
"Sampean guru ngaji Mas?". Tanyaku penasaran.
"Nggak juga sih, cuman di madrasah aja kalau ada panggilan. Ada yang minta private juga hhe". Jelasnya.
Aku membaca kitab itu, dan diajarkan oleh Hima, becanda pun terasa sampai hampir larut malam dan warung mau tutup. Aku akhiri perbincangan malam ini. Malam ini pun terus berlanjut dihari berikutnya. Hima jadi sering kesini (ke warungku) sampai - sampai dia membawakan cilok buatannya sendiri yang tadi sempat menawarkan sebelum datang.
Hmm yaudahlahh toh cuman temen biasa aku anggep Hima, walau temennya Arman pun. Oiya satu lagi ni temennya Arman, aku udah inget namanya namanya tuh Roby. Robby ini juga yang sering datang ke tempatnya Arman dagang. Daripada panjang lebar ni ya. Aku ngegas ke Arman.
Aku bilang gini lewat whatsapp "Assalamualaikum, lain kali bilang dulu ke aku kalau mau kasih no whatsapp ku ke temennya sampean(kamu)!. Ijin dulu jangan asal kasih!". Ketikan keyboard sudah terkirim ke Arman. Entah dia udah baca atau belum terserah. Aku paling nggak suka kalau ada orang yang kasih no whatsapp ku ke orang lain tanpa seiijin aku dulu. Makin lama juga aku akrab dengan yang namanya Roby ini. Pernah juga kami jalan bareng menikmati sunset di atas bukit dekat pantai. Yang nggak lain dan nggak asing lagi namanya "Bukit Paralayang".. Tempat teromantis menurut aku hhe.
(Author\= Maaf mengganggu numpang lewat hehe. Maaf juga ya bagi pembaca karya saya, saya sadar kok kalau karya saya membosankan sekali, monoton sekali, tapi jangan lupa like dan komennya ya, karya ini saya ikutkan ke kontes, Bismillah semoga bisa menang ya. Mohon doanya ya semua😘🙏. Terimakasih ❤️)
Notif pesan kembali masuk di whatsapp ku, aku pikir nomor baru nggak dikenal lagi. Ternyata...
"Ka".
.
__ADS_1
Bismillah ya karya saya sudah mulai lagi berjalan. Kemarin sempat sibuk dengan kerjaan jadi nggak ada waktu buat ngerjain. Kerja juga seringnya lembur. Sering kecapean juga. Daripada nanti nggak maksimal saya membuat karyanya, saya putuskan untuk stop dulu hhe. Btw, lagi ngapain kalian sekarang?. Kalau nggak ada keperluan mendesak tetap stay At home ya. Semoga Covid-19 juga cepet hilang dari bumi. Aamiin. 😊.