
Awali hari nggak pernah sampai selelah ini. Ku terus meminta agar ibuku slalu mendoakan aku agar luka ini cepat selesai dan diberikan pengganti untuk menyembuhkan luka dan bisa membuatku tersenyum sepanjang hari.
Lagi aku kayak gini terus. Aku kini sudah berbobot 48kg dari yang hampir 65kg. Sampai sampai celanaku yang udah gak bisa kepake karna badan montokku. Kini sudah lagi bisa dipakai kembali. Itupun masih terlihat longgarnya.
Kembali ke malam menyesakkan itu. Malam yang ingin segera aku lupakan dan ingin tak bisa mengingatnya lagi. Malam kejadian itu yang tidak ingin juga ada lagi.
"Ohh Mas Arman,, tenguk gih ajeng ngunjuk nopo (duduk gih mau minum apa) ".. Dengan sekuat tenaga aku beranikan diri untuk menyapa walau gak mempedulikan wajahnya. Dia kini berpakaian layaknya anak pesantren istilah lain anak santri.. Ku buatkan teh manis hangat untuk Arman. Lalu ku persilahkan dia untuk minum.
Lama kita berdiam akhirnya Arman membuka suara. "Nduk, maaf nggeh aku...". Kata Arman tidak dilanjutkan. Dan kepekaanku pun muncul.
"Nggak apa - apa santai aja, sama di makan gih ". Seorang Tika bisa lemah hanya soal masalah cinta seperti ini. Walau diluar sana ada yang lebih kejam untuk mengakhiri hubungan antar pasangan. Namun yang ku alami sendiri ini rasanya sangat pedih, pedih mengingat janji - janji Arman tentunya.
"Sem.. Semoga kamu bahagia ya, aku yakin kamu pasti dapet yang lebih baik dari aku, dan semoga kamu dapet yang lebih baik dari aku. Aku... Aku yakin itu.". Kata Arman terbata dengan mata yang mulai merah karena menahan air mata.
Air mataku tak bisa terbendung lagi. Yang dibelakang ku pun ada Bapakku juga meneruskan perlengkapan untuk buka usaha . Tapi Bapakku hanya diam tak bisa apa - apa dan tak mau ikut campur. Karena Bapak udah menganggapku anak yang udah dewasa. Dan bisa menyelesaikan masalah ini sendiri.
"Hahha... Sori - sorii ndadak netes barang . Biasa aku ki Mas, wes sante wae, panganane karo dimaem. Wes tak bukake barang kui (Maaf - maaf ini air mata pake jatuh segala. Udah biasa aku tuh Mas, dah santai aja, makanannya sama dimakan. Udah tak bukan tuh). Kataku ketus, walau dalam hati sangatlah perih dirasa.
"Nduk jangan cuek dong. Kalau cuek ya cuek aja tapi jangan banget - banget. Kita masih bisa kok temenan"... Kata Arman membuatku sedikit sadar. Tapi apalah daya, aku beginilah orangnya kalau sudah nggak suka sama orang apalagi orang itu udah ngebuat aku sakit hati. Aku nggak bisa kayak dulu lagi yang jadi wanita baik. Aku nggak mau juga terlihat lemah.
"Sekali lagi aku minta maaf ya Nduk, dan maaf juga aku belum bisa buka usaha roti bakarku dulu, mungkin nanti digantiin temenku Nduk, sementara ini aku titip dulu ya dirumahmu bahan - bahan roti bakarnya. Dan sukses buat usahanya ya,.". Katanya
"Hmm... Iya Aamiin Aamiin Mas. Nuwun nggeh doane". Kataku mencoba tersenyum.
__ADS_1
"Mmm... Makasih ya selama ini udah mau sabar dan nerima aku apa adanya,".. Aku hanya mengangguk saja mendengar kata makasih dari seorang Arman yang sekarang. "Buru pergi gih, aku udah gak tahan lagi,". Gumamku kesal.
"Yaudah aku pamit ya Nduk, mau langsung ke pesantren. Jaga diri kamu baik - baik. Aku mau kamu hijrah Nduk". Kata Arman
"Akhirnya peka juga ni orang." Gumamku dalam hati.
Setelah dia pamit aku langsung membereskan meja yang sudah berserakan bungkus makanan dan gelas bekas minum Arman. Aku langsung masuk ke kamar Diiringi tatapan iba dari seorang Bapak. Orang tuaku paling nggak bisa lihat anaknya nangis ataupun tersakiti. Namun, mereka juga tidak bisa bantu apa - apa selain mendoakan anaknya agar selalu bahagia.
"Ada Allah kan? Yaudah âšī¸". Ku buat story di whatsapp. Setelah beberapa menit orang yang selalu ada disaat senang maupun susah pun hadir. Nggak salah lagi tebakan kalian. Ya benar, dia adalah Eno.
"Kenapa Ka?". Tanyanya lewat chat
"Nggak apa - apa Mbah hehe.. ". Balasku
"Hehe nggak apa - apa Simbah, mmm... Masalah keluarga aja". Balas ku lagi dengan alasan yang berbeda dengan realita yang ada.
"Hmmm,,, yang sabar ya Ka.. Pokoknya kamu harus tau kalau sesalah salahnya orangtua itu orangtua nggak pernah salah". Balas Eno cepat
"Makasih Mbah doane ya". Balasku
"Iya hhe..". Balas Eno.
Huhuhu... Hikss Hiksss Ya Allah huhuhu.. Sakit Ya Allah, sakit sekali rasanya Ya Allahhh.... Astagfirullahal'afzim, Astagfirullahal'adzim, Astagfirullahal'adzim.... Beberapakali aku istighfar namun rasanya masih seperti keadaanku yang ada saat ini. Air mata mengalir deras sekali. Rasanya sangat lah sakit banget. Aku nggak menyangka Arman seperti itu. Orang yang selalu aku bangga - banggakan didepan orang, ditekan - temanku. Bahkan ke Sukma sahabatku itu. Aku ceritakan semuanya ke Sukma. Sukma kaget bukan main perihal aku putus dengan Arman. Ku kirimkan pesan Arman ke Sukma agar dia percaya.
__ADS_1
Aku ambil cuti kali ini. Karena dapet jatah cuti 4 hari setelah lebaran. Disamping itu juga aku dengan Rika teman desaku sudah berencana untuk pergi ke Solo menggunakan kereta api. Rika sangat ingin menaiki kereta api, dan katanya sejak dulu ingin sekali merasakan duduk dikereta api...
"Ya Allah beb,, kayak gitu banget sih si Arman. Ngerti gak?? Aku kesel banget liatnya tau nggak. Pengen banget nonjok dia. Aku minta nomor whatsappnya beb, aku gemes banget beb aku pengen ngelabrak dia. Aku nggak terima kamu diginiin".. Respon Sukma.
"Apa sihh beb udahlah percuma juga ngomong sama dia, Arman udah lihat chat kita pastinya". Balasku
"Hah?? Apa maksudnya bisa lihat chat kita?". Tanyanya bingung.
"Iya beb, Huhu... Dia itu punya aplikasi buat lihat chat orang lain termasuk aku ini. Pasti dia udah lihat chat kita beb". Jelasku ke Sukma
"Ya Ampunnn beb, segitunya banget deh. Hahha maaf ya Mas, saya ngomong disini aja deh. Maaf ni, ati - ati kalau ambil keputusan. Nyesel baru tau rasa". Kata Sukma, yang nggak tau juga Arman lihat apa nggaknya Hahha. Ada - ada aja deh Si Sukma ni.
Aku nggak bisa tidur sampai larut malam. Ingin rasanya tidur karena hati badan dan terutama pikiran baru sangat kacaunya hanya karena soal cinta. Kaaa ingat Kaaaa perjalanmu masih panjang. Hingga sampai hari dimana aku masuk kerja kembali. Teman - temanku pasti hafal denganku.
"Kak, ini kamu? Kurus banget tau nggak?".
Kata teman kerja baruku yang bernama Novi ini.
"Hahha apa sih mbak nih, kurus salah gemuk salah dasar netijen ". kataku menghiburku.
"Hahha gek opo to weki ndadak kuru, aku kan dadi ono saingane (dan kenapa sih kamu pakai kurus segala, aku kan jadi ada saingan ya)" . Kata Novi.
Mkasih yang udah setia dengan karya Saya. Nantikan terus episode selanjutnya. Nikmati kata - kata yang agak ambyar ini ya đđ. Terimakasih lagi đđ
__ADS_1