
...*****...
Kiki yang Jahil mendekati Rani, namun Rani memejamkan matanya tak sanggup melihat Kiki yang bertelanjang dada. Kiki terkekeh melihat ekspresi wajah Rani. Sadar dirinya ditertawakan Kiki, Rani segera mendorong tubuh Kiki.
Seketika Itu Kiki memeluk Rani dan hampir saja Kiki akan mencium Rani lagi, Tapi lagi lagi ada suara yang mengetuk kamar Rani.
'' Ada yang datang lagi, Cepat pakai baju mas. Aku mau buka pintu sebentar'' ujar Rani. Kiki malah diam saja dan tetap memeluk Rani.
'' Siapa?'' Tanya Rani berteriak sebelum membukakan pintu.
'' Ini Gue Gina, udah selesai gue setrikanya. cm satu baju aja.'' jawab Gina.
'' Taruh aja di depan pintu, Nanti aku ambil. '' ujar Rani.
'' Okay. gue pergi dulu yah ke toko.'' Ujar Gina yang bekerja di salah satu toko pakaian di pasar dekat Kost an.
'' Iya Gie...hati hati dijalan'' teriak Rani.
Rani menghembuskan nafasnya kasar, Ia sangat takut ketahuan membawa pria ke dalam kamarnya. Kiki masih memeluk Rani dan dengan cepat kiki mencium Rani. Rani pun tersentak kaget lalu berusaha mendorong Kiki Namum Kiki malah mempererat pelukannya,Akhirnya mereka berdua terbuai. ( eh terbuai apa yah? othor bingung mw nulis apa, othor gak bisa romantis. reader fikirkan aja sendiri kira kira ngapain )
__ADS_1
SKIP...SKIP...SKIP...
...*****...
Pak Zaelani terus melacak keberadaan Zidane, namun hasilnya malah nihil. Siang itu Pak Zaelani menemui Haji Muhidin adik nya. Pak Zaelani datang ke kampung seorang diri tanpa Asistennya.
Pak Zaelani memarkirkan mobil mewahnta di halaman depan rumah Haji Muhidin yang begitu luas, Kebetulan Haji Muhidin hari itu tidak ada jadwal ke peternakan juga ke kebun, Haji Muhidin terlihat sedang memandikan anak kucingnya di depan rumah. Setelah mandi rencananya mau di jemur tuh kucing.
'' Abis ini kamu berjemur yah Manis... Kucing pintar'' Ujar Haji Muhidin berbicara sendiri di depan kucing berwarna abu abu yang ia beri nama Manis.
'' Assalamualaikum Din'' sapa Pak Zaelani.
'' Iya Din...ada yang ingin aku bicarakan denganmu. '' ujar Pak Zaelani.
'' Oh gitu, mari Kak masuk'' Haji Muhidin mempersilahkan Kakaknya duduk dikursi yang ada diberanda rumah.
'' Jadi apa yang ingin kakak bicarakan denganku?'' Tanya Haji Muhidin.
'' Aku tau kamu pasti tau dimana Zidane berada, Cepat katakan Din.'' Ujar Pak Zaelani yang merasa Adiknya mengetahui keberadaan Zidane.
__ADS_1
'' Mana Ku tau'' Haji Muhidin menaikan kedua bahunya.
'' Din...meski kamu bukan saudara Kandungku. Aku tau kamu bicara jujur atau tidak...katakanlah Din yang sebenarnya'' Pak Zaelani berusaha mengorek informasi dari Haji Muhidin.
Haji Muhidin terdiam sejenak, Ia mengingat kejadian masa lalu sehingga dia menjadi saudara Pak Zaelani. Haji Muhidin merasa bersalah telah terlibat dalam rencana kaburnya Zidane. Haji Muhidin menarik nafasnya kemudian mulai bercerita kepada Pak Zaelani.
'' Sebenarnya yang memberi ide kabur itu aku.'' Ucap Haji Muhidin mengakui. Pak Zaelani seketika menjadi emosi.
'' Apa? Kamu yang memberi ide? berani beraninya kamu seperti itu Din. Karena Ide kamu itu aku malu dengan para kolega kolegaku dikantor.'' Pak Zaelani marah.
'' Tapi Aku ada alasan kenapa menyuruhnya pergi, Aku gak ingin keponakanku tak bahagia dengan harus menikahi perempuan yang tak ia cintai. Kakak mengerti kan? ''jawab Haji Muhidin.
'' Aarrghh...keterlaluan kamu Muhidin, Sekarang katakan dimana Zidane bersembunyi.''
'' Aku sendiri tidak tau, sebab Zidane menghentikan penerbangan heli pribadiku bukan ditujuan awal dia. Aku tak tau dia dimana sekarang.'' Haji Muhidin berusaha jujur apa adanya.
'' Cepat kamu cari dia sekarang, aku gak mau tau...kamu jangan bilang ku yang mencarinya.
Bersambung
__ADS_1