Cinta Dan CEO

Cinta Dan CEO
Chapter 80


__ADS_3

...*****...


Pagi yang cerah dihari minggu, Rahma mengajak Malik ikut untuk berjualan keripik didekat pesisir pantai. Malik kecil yang baru bisa berjalan tak lepas dari pengawasan Rahma. Rahma dengan ramah menawarkan kripik kripik buatannya.


'' Keripik nya bu, pak, de...ada keripik bawang, keripik pisang dan keripik singkong..kriuk dan enak .'' tawar Rahma kepada semua orang yang lewat. Malik kecil duduk disamping keranjang.


'' Masih belum ada yang beli De, mungkin Mamah harus menunggu lagi. mudah mudahan ada om baik yang borong lagi kripik kripik ini. Jadi mamah bisa beliin kamu susu sam mainan yah. heehe.'' Rahma berbicara pada Malik kecil. Malik kecil yang belum mengerti hanya menatap Rahma.


' Ma-ma. Ma-ma. Pa-pa-pa'' Malik kecil berbicara. sementara tangannya menunjuk pada arah pantai.


'' Pa pa? emang ada apa disana de?'' Tanya Rahma, Rahma pun mengalihkan pandangannya mengikuti arah yang ditunjuk Malik.


Rahma melihat disana tampak sepasang kekasih yang sedang melakukan prewedding dipinggir pantai. Begitu mesra dan tampak serasi. Rahma yang melihatnya hanya tersenyum.


'' Hmm...Dede pengen punya papa Ganteng kayak om itu yah? Nanti yah de, suatu saat Mamah juga akan menikah dan Dede akan punya Papa. hehe.'' Rahma berkata seolah olah itulah jawaban yang harus ia katakan pada Malik kecil.


'' Ma-ma...Pa-pa -pa...Ma'' ujar Malik yang menunjuk. Malik ingin diantar menuju ke arah yang ia tunjuk. bahkan Malik menangis


'' Hmm...sepertinya Dede mau kesana yah. Ya sudah, Mamah antar dede lihat Om dan Tante itu yah. tapi dede jangan nakal atau ganggu. Om itu lagi foto foto.'' ujar Rahma.


Rahma pun menggendong Malik dan berjalan menghampiri tempat yang ditunjuk Malik. Tak lupa ia menuntun sepedanya yang berisi kripik jualannya.


'' Kita lihat mereka dari sini saja yah de, lihat...mereka sepertinya artis de, sedang foto foto. Serasi sekali, Cantik dan ganteng.'' ujar Rahma.


Rahma berdiri dibawah Pohon kelapa. Memandang dua orang sejoli yang sedang bahagia.


...*****...


Cinta dan Indra hari itu melakukan sesi prewedding di sebuah pantai. Cinta yang suka akan laut sangat senang, apalagi Cinta jarang sekali pergi berlibur. Cinta begitu bahagia karena Indra sangat perhatian.

__ADS_1


'' Sayang, Akhirnya sebentar lagi kita akan menikah. Aku senang sekali bisa mendapatkan wanita yang Cantik dan pintar sepertimu.'' Ucap Indra sedikit menggombal pada Cinta.


'' Ih kak Indra, sejak kapan sih bisa ngegombal kayak gini. Lucu tau.'' ucap Cinta asal karena merasa aneh.


'' Sejak aku mengenalmu lah sayang. oh ya...kita Foto disana aja. sepertinya bagus. '' Ajak Indra. Cinta hanya mengangguk setuju.


'' Mas...kita foto disana yah.'' Indra memberi perintah pada sang fotograper.


Dengan berbagai gaya Indra dan Cinta melakukan sesi pemotretan. Tampak serasi dan juga sepadan. Cinta yang selama pemotretan merasa ada yang memperhatikannya. Cinta melihat ada seorang perempuan bercadar yang menggendong anak kecil selalu melihat ke arahnya.


'' Kak, Aku mau kesana sebentar ya. '' Izin Cinta pada Indra. Cinta hendak menghampiri perempuan bercadar itu.


Cinta berjalan kearah perempuan bercadar itu yang tak lain adalah Rahma. Cinta memperhatikan penampilan Rahma dan juga Malik kecil. Ada rasa iba di hati Cinta, ia teringat akan dirinya waktu kecil. Cinta kecil selalu diajak Mak Idah berjualan keliling kampung berjualan kue dari pagi hingga siang hari.


'' Maaf Bu, apa kripik kripiknya untuk dijual?'' Tanya Cinta.


'' Iya Bu, berapa harganya?'' tanya Cinta sambil melihat lihat kripik dikeranjang milik Rahma.


'' Sepuluh ribu satu bungkusnya. silahkan mbak pilih saja.'' Ujar Rahma.


'' Kalau gitu saya borong semua ya bu..'' ucap Cinta.


'' Benarkah Mbak. Wah...mbak baik sekali. persis seperti seseorang yang dulu ngeborong keripik saya. Siapa yah namanya. Mas...mas..Zi...zi apa yah? Zidane kayaknya.'' Ucap Rahma sambil mengingat ingat.


'' Zidane...apa mungkin kak Zidane akbar?'' batin Cinta.


'' Mbak. semuanya delapan puluh bungkus. karena setiap sepuluh bungkus gratis satu bungkus. mbak cukup bayar tujuh ratus dua puluh ribu saja. Ini mbak mau ditaruh dimana?'' tanya Rahma.


'' Sebentar yah. Uang saya ada dihotel. Saya mau minta ke tunangan saya dulu.'' Cinta lalu pergi menghampiri Indra meminta Uang untuk membayar Keripik.

__ADS_1


Rahma dengan hati senang menunggu Cinta. sesekali Rahma bercengkrama dengan Malik yang sedang memegang mainan. Tak lama Cinta datang bersama Indra dan seorang pria yang merupakan pengawal Cinta.


'' Bu...ini uangnya. kripiknya biar pengawal saya yang bawa.'' Cinta menyerahkan uang ke Rahma lalu menyuruh pengawalnya membawa kripik kripik yang tadi ia beli.


'' Ini terlalu banyak mbak, '' ucap Rahma yang menghitung uang ditangannya. terlihat ada dua puluh lembar uang seratus ribuan.


'' Itu untuk mbak dan sikecil.'' jawab Cinta.


'' Papa-pa...papa-pa'' celoteh Malik yang merentangkan tangannya ingin digendong oleh Indra.


'' Kak, sepertinya Dede kecil ingin digendong sama Kakak.'' Ucap Cinta yang seakan mengerti bahasa anak kecil.


'' Boleh saya menggendong putra ibu?'' Indra meminta izin menggendong Malik pada Rahma.


'' Eh..Si-silahkan tuan. Maaf jika anak saya memanggil Tuan Papa. Maaf.'' Ujar Rahma yang sedikit gugup.


'' Tidak apa apa bu, mungkin saya memang sudah cocok menjadi Bapak. hehehe...'' ucap Indra. Indra meraih Malik dan menggendongnya.


Malik tampak tertawa saat Indra menggodanya. Rahma melihatnya sesaat merasa sedih dihatinya yang begitu sesak. Air matanya tanpa terasa mengalir saat menyaksikan Malik begitu bahagia dan nyaman bersama Indra.


'' Kenapa dengan Hatiku ?, kenapa aku tiba tiba sedih melihat semua ini ? Apa aku terbawa suasana saat Malik begitu merindukan sosok Ayah, sampai malik menganggap orang yang baru ia lihat sebagai Anak. Ya Alloh...perasaan apa ini.'' Batin Rahma.


'' Sayang...aku mau difoto dong bersama Dede kecil.'' pinta Indra.


'' Ya sudah, kita Foto bersama saja. Ayo bu sini kita berfoto bersama.'' Ajak Cinta pada Rahma.


Rahma tampak canggung, Namun Cinta memaksanya. Jadinya mereka berfoto bersama. Tangan kiri Indra menggendong Malik, sementara tangan kanannya merangkul cinta. Rahma sendiri berdiri tepat disamping Cinta.


Cukup lama Malik bersama Indra, Rahma pun segera pamit karena Ia tak mau mengganggu acara yang dilakukan Indra dan Cinta. Rahma pergi meski Malik tiba tiba menangis saat berpisah dengan Indra.

__ADS_1


__ADS_2