
Pesta terus berlanjut hingga malam, dan satu per satu tamunya pamit undur diri dan hanya menyisakan beberapa pelayan yang sedang berberes-beres dan sang pengantin dan beberapa kerabat dekat.
" selamat nak, aku tidak menyangka kamu akan menikah secepat ini" . Kata pria paruh baya mendekati pasangan tersebut dengan senyum bahagia di wajah nya.
" bukankah ini yang kakek minta "
" ya benar, tapi aku tidak meminta secepat ini , ternyata kamu sudah memiliki seseorang di hatimu. Kakek pikir kamu akan merasa frustasi dengan permintaan kakek."
"sekarang kakek bisa tenang dan menyerahkan semua nya padaku secara sah."
" tentu saja, tapi tidak sekarang. Mungkin saja pernikahan ini hanya rekayasa mu saja " menatap curiga Aska dan memandang lekat lekat manik mata Saera.
" hahahaha. Tentu saja itu tidak benar, aku sangat mencintainya dan kami saling mencintai" tersenyum ke arah Saera " benar kan sayang " seraya menarik pinggang Saera dan mengecup kilas pipinya.
"ahahahahhaah. tentu saja aku percaya aku hanya bercanda. Lihatlah wajah cucu menantuku ini " Kakek tertawa keras melihat wajah Saera yang merah dan berusaha bersembunyi di balik dada Aska.
"sudah lah istirahat sana kakek akan kembali"
"Tidak tinggal disini saja, lagipula ini sudah malam" cegah saera tidak enak membiarkan orang tua itu kembali tengah malam.
kakek hanya tersenyum simpul melihat gelagat cucu menantunya seperti nya dia gadis yang baik dan juga sopan . Begitu lah penilaian kakek pada pertemuan pertama mereka.
"Tidak masalah nak, kalian istirahatlah aku tidak akan mengganggu lebih lama lagi" berlalu seraya mengedipkan sebelah matanya pada Aska tanda dia sedang menggodanya.
"Baiklah. hati hati di jalan kek."
Kakek pun berlalu pergi dan hanya meninggal kan dua insan manusia tersebut.
" tidurlah kamu pasti lelah "
__ADS_1
" dimana saya akan tidur tuan ?"
" Terserah kamu saja, kalau udah siap kamu boleh tidur bersamaku"
"em.. em.. itu.. aku akan tidur di kamar tamu saja seperti biasanya".
"Baiklah, kalau kamu sudah siap pintu kamarku selalu terbuka"
lalu Aska meninggalkan Saera dengan senyuman nakalnya.
Saera pun menuju ke kamarnya dia ingat dengan perkataan Aska waktu di butik bahwasanya mereka akan menikah seperti pasangan sungguhan tapi Aska memberi waktu untuk Saera bila dirinya belum siap menjadi istri sesungguhnya. Dan berjanji tidak akan menyentuh Saera tanpa izinnya .
Ya Saera tahu betul tidak ada cinta diantara keduanya Saera menikahinya hanya sebagai bentuk balas Budi karena Aska telah menolongnya. Dan Aska menganggap itu sebagai permintaan tolong pada saera karena desakan kakeknya untuk segera menikah.
Lagipula tidak ada yang di rugikan antara mereka berdua karena keduanya tidak memiliki siapapun di hati mereka. saera pun mengganggap pernikahan ini sebagai upaya kebebasannya dari penderitaan hidup yang di alaminya selama ini. Dan mencoba menerima takdirnya dan Saera memutuskan untuk menyukai pemuda tersebut secara perlahan.
****
Siapa yang memasak pagi buta begini, biasanya pegawai nya tidak pernah memasak makanan yang berbau seperti itu tanpa perintah darinya.
" Kamu masak apa ?" mendekati Saera yang sedang asyik menumis bawang bombai di wajan.
" Aku akan membuat nasi goreng "
" Siapa yang menyuruhmu, hidungku jadi sakit "
" Maaf tuan, aku... aku..., aku ingin belajar jadi istri yang baik ". Saera terdiam dan hanya menjawab dalam hatinya saja
"Apa tuan mau saya buatkan sesuatu ?"
__ADS_1
" Tentu, aku akan menunggu nasi goreng buatan mu " lalu dia berlalu menuju meja makan sembari menunggu makannya siap sambil membaca koran.
" Bukankah tadi tuan berkata hidung mu sakit mencium baunya "
" Ya, kamu tidak salah dengar "
" lalu kenapa masih menunggu nasi goreng buatan ku " ucap saera sangat kecil, dia berfikir Aska tidak mendengarnya.
" Aku hanya berkata hidung ku sakit, tapi tidak mengatakan perut ku akan sakit jika memakannya " suara Aska sudah berada di belakang saera membuat Saera terperanjat dan spontan piring yang sudah di isinya dengan nasi goreng akan terjatuh dari tangannya dan
HAP .
Aska berhasil menangkap piring itu ke tangannya, sembari menatap tajam ke arah Saera lalu berlalu menuju meja makan membawa piring nasi gorengnya dan diikuti Saera di belakang nya.
"Apakah lidah mu bisa menerimanya tuan ?"
"Kalau tidak enak tidak usah dimakan saja tuan"
"Tuan aku akan meminta pegawai mu untuk membuat makanan lain saja untukmu "
" berhenti memanggilku tuan, tuan, dan tuan. Aku bukan tuan mu" Aska menghentikan makannya lantaran kesal dengan Saera yang terlalu banyak bicara membuat fokusnya menikmati nasi goreng terganggu.
"Habiskan saja makan di piring mu" titah Aska yang kembali menyantap makanannya
gelagat saera khawatir karena melihat Aska menyantap nasi goreng itu dengan wajah yang berubah ubah seolah menilai rasa dari setiap butir nasinya.
Sesekali wajahnya terlihat mengangguk tanda lidahnya setuju dengan rasa yang dimasukkan ke mulut nya dan terkadang dia mengernyitkan alisnya membuat Saera ragu apakah nasi goreng buatannya itu benar benar enak.
Dan Saera ikut memakan nasi itu, tidak ada pembicaraan lagi setelah itu, mereka menghabiskan sarapan hanya berdua layaknya pengantin baru yang sesungguhnya.
__ADS_1
****