
Malam hari nya seperti biasa kita mengadakan konser mini di teras rumah. Ada Mas Galuh datang. Kali ini tumben dia tidak membawa apa-apa di tangannya. Kami semua saling pandang.
"Boleh gabung?" tanya nya.
"Boleh dong Mas." jawab Toni seperti biasa. Lalu Mas Galuh duduk di hadapan ku. Aku memandang Angga memberi kode agar tidak berlebihan.
"Mmmm. Nggi, aku mau omong sama kamu. Boleh." tanya Mas Galuh.
"Boleh kok Mas. Ada apa?" tanya ku selembut mungkin.
"Aku mau minta maaf soal kemarin ya. Mau maafin kan?" tanya nya lembut. Aku diam beberapa saat untuk menata nafas ku yang sebenar nya sudah sesak.
"Iya Mas. Aku juga minta maaf ya. Mau kan?" kata ku semanis mungkin. Mas Galuh tampak senang.
"Tentu Nggi. Tentu." jawab nya senang.
"Kalau gitu, kita bisa mulai seperti awal. Kita lupakan kejadian kemarin ya Mas." kata ku baik-baik in dia. Aku tahu, pacar ku sekarang pasti gondok hati nya dan mengumpat segala kata-kata.
"Sungguh?" Mas Galuh kini benar-benar bahagia.
"Iya Mas." aku mengangguk meyakinkannya. Karena mendengar ada suara Mas Galuh, maka Rani sudah dipastikan akan keluar. Tapi Mas Galuh sekarang agak jaga jarak sama dia sih. Kasian Rani. Tapi Rani tidak patah semangat. Dia selalu berusaha membuka obrolan dengan Mas Galuh, namun Mas Galuh hanya menjawab nya singkat.
Akhirnya malam itu kami lalui dengan senang-senang bersama. Walaupun dalam hati ku kesal benget sama Mas Galuh.
"Udah ah yank, gak usah ngambek-ngambek gitu." kata ku merayu Angga, saat semua sudah pulang. Yang ku rayu masih ngambek. Atutututu, lucunya pacar ku kalau sedang ngambek.
"Sayaaang... Jangan ngambek terus dong." aku masih berusah merayu nya.
"Habis nya kamu bikin sebel." kata nya dengan pipi menggembung sekarang.
"Gak lucu tau." ucap ku dambil memukul lembut pipi nya.
"Udah ah, aku mau tidur. Daaaa." kata ku lalu masuk ke kamar. Rupa nya Angga masih mengekor di belakang ku.
"Apa lagi sayang?" kata ku berdiri di tengah pintu. Angga lalu memonyongkan bibir nya.
"Tutup mata dulu." pinta ku. Lalu dia mentup mata nya. Dengan super cepat, lalu aku menutup pintu kamar ku dan menguncinya.
"Ihh.. Awas kamu ya..." ancam Angga. Aku hanya terkekeh mendengar ancamannya.
*****
Pagi hari nya kami absen seperti biasa nya. Terlihat Pak Ali pamit kepada bagian administrasi. Aku memberanikan diri untuk bertanya kepada Mbak Ayu.
"Mbak, kalau boleh tahu itu Pak Ali mau kana ya?" tanya ku.
"Oh, mau ke luar kota mengikuti seminar dengan Bu Dian. Kalau gak salah sih izin 3 hari." jawab Mbak Ayu.
"Oh, terimakasih ya mbak." kata ku. Aku lalu gabung dengan para sahabat ku.
"Ssstttt... Ssstttt." aku memanggil mereka. Tapi tidak ada yang dengar satupun. Dasar bolot.
"Ndut!! Wiwin!! Toniiii!!" teriak ku. Angga sampai kaget dibuat nya. Hingga dia berlari menghampiri ku.
__ADS_1
"Kenapa yank? Ada yang sakit?" tanya nya khawatir. Aku menggeleng. Lalu sahabat ku datang.
"Apaan sih. Heboh amat?" tanya Edwin.
"Sini sini." kata ku menyuruh mereka untuk mendekat. Aku menceritakan kalau Pak Ali sedang keluar kota. Jadi kita merencanakan sesuatu. Ok fix. Rencana sudah selesai.
Acara hari ini sampai satu minggu ke depan adalah penyiangan, yaitu memberantas gulma dan hama penyakit. Selain itu juga mempelajari macam-macam gulma, dan hama penyakit yang menyebabkan kopi rusak. Tempat nya juga sama seperti kemarin, di kawasan dekat pemupukan.
Aku melihat Pak Iwan mendekatiku.
"Bisa kamu?" tanya Pak Iwan.
"Bisa Pak." jawab ku sambil melanjutkan menulis nya.
"Hhmmm. Rambut kamu wangi banget ya. Habis keramas ya?" dia bertanya. Aduuh, pertanyaan macam apa itu? Tentu saja wangi kalau habis keramas.
Aku hanya tersenyum simpul.
"Eh, mau nggak kapan-kapan kita jalan?" ajak nya. Ih gak tahu banget ini orang.
"Terimakasih ya Pak, atas niat baik nya." jawab ku. Untung saja Edwin memanggil ku, jadi aku ada alasan untuk menghindar darinya.
Setelah sholat ashar berjamaah, Toni ke rumah Mas Galuh untuk meminta ajarin tentang rumus excel, padahal Toni tuh ya segala rumus kayak gitu udah di luar kepalanya. Sambil tidur pasti dia bisa jawab.
Lalu aku menelpon Mas Galuh.
"Mas sibuk nggak?" tanya ku.
"Nggak sih. Kenapa Nggi?" tanya Mas Galuh.
"Kok tumben ngajak aku? Emang yang lain kemana?" tanya Mas Galuh sedikit curiga.
"Gak tahu nih Mas. Tadi tiba-tiba keluar gak ada yang pamitan sama aku. Aku kirain ikut Toni ke Mas Galuh." aku beralasan.
"Ok, aku kesana sekarang ya." jawab Mas Galuh lalu berpamitan ke Toni untuk mengantarkanku.
Mas Galuh sampai di rumah. Seperti nya dia memastikan kalau di rumah memang sedang tidak ada siapa-siapa. Ya iyalah, Andre, Edwin, dan Angga sedang menunggu kabar dari Toni. Mereka menunggu di jalan belakang rumah Pak Ali.
"Yuk, berangkat." ajak Mas Galuh. Sebelum berangkat aku mengunci pintu rumah dulu.
Toni menghubungi Edwin untuk segera masuk ke rumah Pak Ali. Mereka langsung bagi tugas untuk mencari sesuatu di kamar Mas Galuh dan Pak Ali. Toni masih duduk di ruang tamu untuk berjaga.
Angga dan Edwin sudah ada di kamar Mas Galuh untuk mencari sesuatu. Sedangkan Andre ada di kamar Pak Ali. Mereka sebenarnya gemetaran, tapi demi misi harus dilakukan. Mereka mencari di segala tempat. Angga mengecek di laptop Mas Galuh yang sudah Anggi kasih tahu password sebelum nya.
Angga mengumpat kesal saat melihat foto Anggi dibuat wallpaper di laptop Mas Galuh.
"Kesambet lu?" ledek Edwin.
"Lebih dari kesambet. Lu liat deh." kata Angga kesal sambil menunjukkan layar laptop. Edwin tertawa, semakin membuat Angga kesal.
Dengan cepat Angga mencari berkas-berkas di semua file. Dapat. Ada foto Lidia dan Mas Galuh. Lalu Angga mem foto nya.
"Eh gaes. Cepetan. Ini Anggi sudah pulang." kata Angga yang tahu kalau Anggi sudah pulang dari minimarket. Sedari tadi mereka berdua terhubung melalui telepon, dan memakai headset di telinga masing-masing. Sehingga Angga bisa mendengar percakapan antara Galuh dan Anggi.
__ADS_1
Edwin, Angga, dan Andre lalu keluar. Lalu mereka menunggu di jalan belakang rumah Pak Ali lagi.
Mas Galuh dan Anggi sudah sampai dengan banyak nya belanjaan di tangan kui.
"Makasih ya Mas, sudah mau nganter aku." kata ku tersenyum.
"Iya gak papa. Sering-sering ngajak aku ya." kata nya sambil meraih tangan ku. Aku kaget.
"Nggi, tolong kasih aku kesempatan." kata Mas Galuh.
"Eheeemmm." Angga berdehem dengan keras nya di belakang Mas Galuh. Aku lalu melepas pegangan tangan Mas Galuh.
"Yaudah ya, aku pamit dulu." pamit Mas Galuh. Kami berdua lalu masuk ke dalam rumah.
"Gitu yaa. Enak-enakan." kata Angga kesal.
"Jangan mulai deh." kata ku sambil menaruh belanjaan di dapur.
"Kesel aku tuh yank. Masak foto kamu dibuat wallpaper sama dia sih." kini Angga manyun.
"Oh ya?" kata ku menggoda Angga.
"Kamu tuh ya, gak tau ada orang sebel apa!" sungut Angga. Aku masih merapikan belanjaan ku.
"Lalu aku harus gimana sayang ku yang ngambekan?" goda ku lagi. Lalu dia menarik pinggangku. Aku kaget.
"Jangan menggoda ku lagi. Atau.." ancam Angga.
"Atau apa?" tantang ku dengan mengalungkan tangan ku di leher nya.
"Oh, jadi berani sekarang ya?" ucap Angga sambil menempelkan hidung mancung nya ke hidungku.
"Buseet dah. Gak di kamar. Gak di dapur. Nempel teroooosss. Sosor terooss." kata Edwin membuyar kan adegan romantis kami.
"Kenapa lu dateng di waktu yang salah sih." umpat Angga. Aku hanya tertawa melihat Angga yang frustasi gagal melakukan aksinya.
"Ya sorry." jawab Edwin meledek Angga.
Lalu kami berkumpul di ruang tamu. Sebenar nya kami mau membicarakan tentang hasil pencarian kami barusan. Tapi ada Bima dan Edo ikut kumpul kami.
"Udah gak papa. Mereka bisa dipercaya kok." ucap Angga pada kami.
"Jadi, apa yang kalian temukan?" tanya ku.
"Jadi, kami menemukan..."
*
*
*
*
__ADS_1
*
Teeimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.