
Hari ini diadakan pengajian di rumah ku. Sayang sekali aku tidak bisa ikut mengaji, dikarenakan aku masih berhalangan. Aku dan Angga hanya melakukan telpon, gak boleh video call an sama Mama, karena aku sedang dipingit sekarang.
Aji sering menelpon ku. Ngajak ketemuan. Tapi aku selalu menolak nya dan tidak bilang kalau aku sudah pulang ke kota ku. Angga yang melarang ku untuk mengatakannya, takut kalau Aji akan melakukan hal yang bisa menggagalkan pernikahan kami.
Aji juga sering datang ke rumah Angga untuk mencari ku. Namun orang rumah sudah sepakat selalu mengatakan jika aku sedang keluar dengan Angga. Untung saja, Mbak Siska selalu tidak ada di rumah. Jadi dia tidak memberitahu kalau aku sudah pulang.
Kurang 3 hari.
Mulai hari ini aku sudah bisa untuk puasa. Karena aku sudah selesai haid. Hari ini acara siraman ku. Aku melakukan seluruh prosesi penyiraman hingga selesai.
"Yank, kangen nih." kata Angga di ujung telpon.
"Sama." kata ku menahan tangis.
"Eh, kamu nahan nangis itu ya?" tanya Angga.
"Nggak kok. Siapa juga yang nahan tangis?" aku berbohong.
__ADS_1
"Udah gak usah bohong. Aku bisa merasakannya dari sini." kata Angga. Aku menangis.
"Kenapa nangis? Ada yang jahatin kamu?" tanya Angga khawatir. Aku tertawa mendengar ucapannya itu.
"Nggak. Aku hanya terharu saja. Ternyata sebentar lagi apa yang kita harap kan terwujud." kata ku.
"Iya. Sama sayang. Besok aku sekeluarga akan berangakat menuju hotel tempat dilaksanakan pernikahan kita. Doain lancar ya." kata Angga.
Hari ini adalah hari yang aku dan Angga nantikan. Walaupun kita berada dalam satu hotel yang sama, tapi kita tidak pernah berjumpa. Aku sedang di rias oleh perias pengantin. Ke tiga sahabat ku setia menemani ku.
"Ya ampun, cantik banget sih." puji Riska pada ku. Para sahabat ku dan para pacar nya menjadi pengiring pernikahan ku. Aku terharu. Deg-deg an. Riasan dan pakaian adat Jawa yang kini ku kenakan sungguh membuat ku tampak anggun.
Tampak Papa ku didampingi Yoga duduk di hadapan penghulu beserta Angga dan Papa nya juga para saksi. Kata Riska, Angga sangat tampan memakai setelan adat Jawa ini. Dada ku semakin berdetak, saat mendengar Angga mengucapkan Ijab Kabul dengan lantang dan dalam tarikan satu nafas.
"Sah." semua bebarengan mengucapkan kata sah, membuat ku terharu. Bapak penghulu mengucapkan doa. Akhirnya aku menjadi istri sah nya Angga. Lalu, para pengiring pengantin, yaitu sahabat ku, menuntun ku untuk keluar dan menemui suami ku yang tidak sabar untuk bertemu dengan ku.
Aku merasa malu-malu kucing bertemu dengan suami ku sendiri. Begitupun Angga yang tersipu malu melihat ku. Padahal selama ini kita selalu bersama. Namun, setelah sah aku menjadi malu. Aku sudah sampai di hadapan Angga. Aku mencium punggung tangannya. Saat menyentuh nya, ada getaran yang ku rasakan. Lalu Angga memasangkan cincin pernikahan kami di jari ku.
__ADS_1
"Kamu sangat cantik." bisik Angga di telinga ku. Aku seperti tersengat sesuatu. Padahal sudah biasa jika Angga memuji ku cantik.
Setelah acara akad nikah selesai, lalu aku berganti gaun di kamar hotel.
"Coba aja gak ada mbak perias ini, sudah habis kamu." bisik Angga pada ku. Aku memukul lengan suami ku itu.
Lalu aku dan suami ku keluar dari kamar diiringi para sahabat ku untuk mengadakan acara resepsi kita sore ini.
Hingga malam pun tiba.
*
*
*
*
__ADS_1
*
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.