
Angga lalu mengajakku ke kelas berikut nya. Meskipun masih kurang setengah jam lagi kelas dimulai. Namun aku turuti saja kemauannya daripada dia semakin marah. Kami masuk ke dalam kelas yang masih kosong.
"Udah gak usah dipikirin omongannya tadi." ucap ku mengelus lengannya. Angga menghela nafas nya.
"Tapi aku takut dia akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan kamu." ucap Angga. Aku lalu menyandarkan kepala ku de lengan kanan nya.
"Yang menguat kan hubungan kita selama ini adalah saling percaya. Kamu lupa itu? Kamu harus percaya sama aku yank. Lagian kita sudah melewati banyak rintangan sebelum ini kan?" kata ku. Angga mengangguk. Lalu dia tersenyum.
"Iya sayang. Aku percaya kok." kata Angga mengecup punggung tangan ku. Aku pun tersenyum.
"Ini dosennya masih lama ya? Haus nih yank." kata ku yang memang sedang kehausan. Gara-gara Aji tadi aku tidak menghabiskan es jus favorit ku.
"Bentar ya, tunggu sini dulu. Aku belikan air di sebelah sini." kata Angga. Memang di sebelah kelas ini ada penjual minuman dingin. Hanya berjarak 3 kelas saja.
Angga lalu bergegas untuk membeli minuman. Sedangkan aku tiduran dengan meletakkan kepala ku di atas bangku. Terdengar langkah kaki memasuki kelas. Aku tak menghiraukannya. Pasti mahasiswa lain yang sedang masuk ke kelas ini.
"Ngapain lu di sini?" kata Angga marah-marah. Aku lalu membuka mata ku. Ku lihat Angga marah ke Aji yang ternyata sedang duduk di hadapan ku.
"Biasa saja dong bro! Gue dari tadi duduk di sini cuma mau liatin pacar lu sedang tidur. Tidur aja cantik banget." ucap Aji semakin membuat Angga marah. Ku lihat Angga sudah mengepalkan tangan hendak memukul Aji. Tapi aku menahannya.
"Udah. Jangan ladenin dia. Lebih baik kita pindah aja duduk nya di depan sana." ucap ku mengajak Angga pindah duduk di depan meja dosen.
__ADS_1
Setelah kelas usai, lalu aku mengajak Angga untuk langsung pulang daripada harus menyaksikan Aji menggoda ku lagi.
Sesampainya di rumah, Angga langsung masuk ke kamar nya. Tampak dia kesal sekali. Aku menyusul nya.
"Kita sholat yuk." ajak ku. Angga mengangguk.
"Tapi mandi dulu." kata ku.
"Mandi nya sama kamu." kata Angga memelukku manja.
"Nanti ya kalau kita sudah sah." ucap ku. Angga pun tersenyum. Lalu setelah mandi kita sholat ashar berjamaah.
*****
"Sabar. Mungkin ini ujian buat kalian berdua sebelum nikah." kata Mama.
"Ujian apaan? Kayak sekolah aja." sungut Angga kesal. Semua makin tertawa mendengar celotehan Angga.
"Yank, gak usah kuliah aja kita ya?" kata Angga sambil mengunci pintu kamar.
"Ya gak boleh gitu dong. Kasian Papa. Udah, yang penting kamu jangan ladenin si Aji. Beres kan." ucap ku lalu naik ke ranjang dan memasang selimut.
__ADS_1
"Tapi aku sebel jika harus berhadapan terus sama dia." kata Angga juga ikut naik ranjang dan memasang selimut.
"Eh yank, kita kayak suami istri deh." ucap Angga sambil menatap ku.
"Ih, apaan sih? Udah tidur sana, lama-lama ngelantur kamu ya." kata ku menutup mata Angga. Lalu kami pun tertidur dengan mimpi masing-masing.
Seperti biasa, setelah sholat subuh bareng Angga, aku membantu masak di dapur. Lalu kita sarapan bersama, dan aku bersiao-siap untuk berangkat ke kampus. Tumben sekali Mbak Siska jam segini belum berangkat.
"Udah lah yank. Gak usah dandan cantik-cantik. Aku males saja jika Aji godain kamu terus." kata Angga duduk di samping ku yang tengah memakai pelembab bibir di depan kaca rias.
"Apa sih yank. Aku cuma makai pelembab bibir doang. Biar kamu tambah sayang sama aku." jawab ku sambil mengoles pelembab ke bibir ku. Tak ku duga Angga langsung menarik dagu ku dan mengecup bibir ku. Aku membalas ciuman Angga. Bibir yang menjadi candu buat ku.
Kami berciuman cukup lama. Dan dapat ku lihat di pantulan cermin dengan ujung mata ku, bahwa Mbak Siska sedang mengintip kita lagi dan lagi.
*
*
*
*
__ADS_1
*
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.