Cinta Dan Obsesi

Cinta Dan Obsesi
BAB 48


__ADS_3

3 hari setelah acara wisuda ku, Angga mengajakku ke rumah nya. Karena 4 hari lagi dia akan wisuda. Orang tua Angga sudah pulang duluan, jadi sekarang tinggal kami berdua saja.


"Titip Anggi ya." ucap Mama pada Angga saat mengantar kami ke bandara.


"Iya Ma." jawab Angga mantap.


"Papa sih yakin sekali Ma sama Angga, kalau dia gak akan macam-macam sebelum nikah. Iya kan Nak?" kata Papa ku.


"Pasti Pa. Angga akan selalu ingat pesan Papa." jawab Angga lagi. Lalu kami pun berrpamitan. Aku memeluk Mama ku erat.


"Kak, tititp Mama ya." kata ku ke Kak Maya.


"Pasti itu." jawab Kak Maya sambil merangkul pundak Mama.


1 jam berada di pesawat, membuat ku agak mual. Aku memang tidak begitu menyukai penerbangan. Tapi, selama ada Angga di samping ku itu tidak akan menjadi masalah.


Aku sudah sampai di rumah Angga. Rumah nya besar. Dengan gaya klasik.


"Eh, emang nya mantu Mama ini mau kamu bawa ke mana?" kata Mama Gita saat tahu Angga membawa tas baju ku ke sebuah kamar.


"Ke kamar aku lah Ma" jawab Angga polos. Mama Gita lalu menjewer kuping anak nya yang nakal ini.


"Kamu ini ya, belum nikah udah ngajak anak orang tidur bareng." kata Mama.


"Yaelah Ma, lagian aku gak akan ngapa-ngapain Anggi. Janji dah. Aku cuma ingin bareng dia aja." kata Angga mantap.


"Gak boleh. Biar Anggi tidur di kamar tamu." kata Mama.

__ADS_1


"Yaudah. Kalau gitu aku pindah tidur di kamar tamu." ucap Angga lagi. Mama Gita lalu memukul Angga. Aku terkekeh melihat tingkah anak dan ibu yang satu ini.


"Apalagi sih Ma." sungut Angga sambil mengelus pundaknya yang terasa sakit.


"Eh, apa beda nya coba." sungut Mama Gita.


"Pliiiiissss Ma. Mama kayak yang gak tahu aku aja sih. Aku udah komitmen gak akan ngapa-ngapain Anggi sebelum nikah. Walaupun sejuta setan ngomporin aku. Lagian Anggi sekarang lagi dapet. Jadi aku gak bisa ngapa-ngapain dia kan?" jawab Angga asal.


"Halah alasan kamu aja! Kamu tahu darimana kalo Anggi lagi dapet?" kata Mama.


"Dia kan biasanya sholat Ma. Ini udah 2 hari dia libur." jawab Angga. Mama Gita tampak mikir.


"Iya deh. Tapi janji ya." kata Mama Gita lagi.


"Iya. Janji Ma. Masa sama anak ndiri gak percaya sih." sungut Angga. Lalu Angga membawa ku ke kamar nya.


Tapi, aku merasa kalau Mbak Siska itu tidak menyukai ku. Hanya firasat saja loh ya. Kayak yang gimana gitu ke aku. Sedangkan Diana sangat nempel terus sama aku. Maunya deket aku terus. Tapi aku suka sama Diana ini. Bawel nya minta ampun.


Malam harinya, benar juga aku tidur dengan Angga. Ada perasaan takut menghinggapi pikiran ku.


"Udah nggak usah takut. Aku gak akan makan kamu." kata Angga. Aku ragu-ragu untuk naik ke ranjang Angga. Lalu aku menaruh guling sebagai pembatas kami. Angga tertawa melihat tingkah ku ini.


Lalu dia menarik tangan ku sehingga membuat ku jatuh di pelukannya.


"Kamu gak usah takut. Aku hanya ingin bersama kamu." ucap Angga. Aku mengangguk. Lalu tidur dipelukannya tanpa terjadi apa-apa malam ini.


Angga tampak membelai rambut yang menutup wajah ku. Aku lalu membuka mata ku. Ternyata Angga yang ku lihat pertama kali saat ku bangun.

__ADS_1


"Kenapa yank? Udah siang ya?" tanya ku lalu bangun. Angga menarik ku kembali sehingga membuat aku tidur kembali.


"Nggak kok. Masih subuh. Aku cuma mau sholat subuh aja." jawab Angga. Aku mengangguk. Aku lalu menunggu Angga sholat. Aku menatap nya. Sungguh pemandangan yang indah saat melihat Angga sholat. Aku tersenyum melihat nya.


"Kenapa kamu yank?" tanya Angga sambil melipat sajadah. Aku terkesima.


"Gak. Cuma senang aja liat kamu sholat."jawab ku yang duduk di pinggiran ranjang.


"Nanti, kita bisa sholat berjamaah bareng kan." ucap nya membelai rambut ku.


Pagi ini aku membantu Mama Gita memasak di dapur. Sebenarnya ada Mbak Asih, asisten rumah tangga ini. Tapi kata Mama Gita, beliau selalu menangani sendiri untuk menyiapkan makanan bagi keluarga. Mbak Asih hanya membantu.


Mama Gita memasak sayur sop, ayam goreng, perkedel kentang, dan sambal kecap. Ah, ini sih masakan yang sering aku masak. Aku dengan luwes membantu Mama memasak dan setelah itu menata nya di meja. Lalu Mama Gita memanggil semua anggota keluarga untuk sarapan bersama.


Aku memanggil Angga yang masih main game di kamar. Lalu kami keluar kamar bersama. Angga menggenggam jemari ku. Saat itu aku berpapasan dengan mbak Siska. Aku tersenyum pada nya. Dia tersenyum sih, tapi kayak yang kaku gitu. Tapi biarlah, mungkin seperti itu orang nya.


Saat makan Mama Gita memuji ku. Karena hampir semua masakan aku yang menangani. Angga pun juga menceritakan jika selama magang, akulah yang memasak tiap harinya. Mbak Siska, lalu berpamitan untuk berangkat kerja bareng dengan Kak Riko. Kemudian Papa mengantar Diana sekolah dan sekalian berangkat ke kantor. Sedangkan aku? Tidak tahu setelah ini Angga mengajak ku ke mana.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.


__ADS_2