Cinta Dan Obsesi

Cinta Dan Obsesi
BAB 34


__ADS_3

"Aku harus pergi dulu. Ada sesuatu yang harus aku urus." pamit ku pada Angga.


"Kamu mau kemana yank?" tanya Angga menahan tangan ku.


"Aku akan ke rumah Pak Ali dengan Toni. Biar Edwin dan Andre menemani mu." jawab ku.


"Kamu apa-apain sih Yank? Gak! Aku gak setuju pokok nya." kata Angga.


"Tapi Yank." sergah ku.


"Kalau kamu mau kesana, harus sama aku. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa lagi." kata Angga.


"Tapi aku harus menyelesaikan ini." aku tetap mengeyel.


"Tolong. Kali ini patuhilah aku, calon suami mu." kata Angga yang berhasil membuat ku bersemu merah. Baiklah, untuk saat ini aku akan menemani Angga dan merawat nya dengan baik.


Aku meminta tolong Toni dan Andre untuk pulang mengambil baju ganti kami. Dan juga meminta izin agar tidak mengikuti kegiatan hari ini, dengan alasan kami berdua jatuh dari motor dan masih di rawat di klinik Bu Indah.


Aku merawat Angga dengan baik. Aku lakukan itu, seperti Angga merawat ku kemarin saat aku sakit.


"Alkhamdulillah ya Yank ini sudah berakhir." ucap Angga sambil duduk karena aku sedang menyuapi dia makan.


"Iya. Semua ini berkat kamu dan juga sahabat ku yang sudah menolong ku. Terimakasih." jawab ku sambil menyendokkan sayur sop ke mulut Angga.


"Tapi aku merindukan desahan-desahan kamu tiap malam itu." bisik Angga di telingaku. Bibir nya yang menyentuh kuping ku, membuat aku seakan tersengat aliran listrik. Aku malu sekarang. Dan memejamkan mata ku sambil menahan senyum.


"Jangan mulai deh yank. Yang kemarin itu kan bukan 100% keinginanku." jawab ku sambil menyuapi Angga lagi.


"Oh, jadi berapa persen punya kamu?" tanya Angga.


"80%." bisikku menggoda Angga. Angga hanya tersenyum melihat tingkah ku.


Hari ini kami diijinkan untuk pulang.


Kami memasuki rumah kami bersama. Mina melihat ku membopong Angga. Ada rasa iba di mata nya saat melihat kondisi kami. Tapi aku tidak mempedulikannya.

__ADS_1


Kami lalu masuk ke dalam rumah bersama. Dan menyuruh Angga untuk tidur di kasur ku.


Keesokan harinya....


"Yank, ayo kita ke rumah Pak Ali. Aku ingin membicarakan sesuatu." ajakku ke Angga.


Angga setuju. Lalu kami mengendarai motor ke rumah Pak Ali. Kebetulan sekali, Pak Ali yang membukakan pintunya. Dengan tampang yang dibuat sedatar mungkin, Pak Ali menyuruh kami untuk masuk.


Pak Ali tampak memperhatikan keadaan kami yang penuh dengan luka cakar.


"Saya rasa Bapak tahu kami seperti ini karena ulah siapa." kata ku.


"Terus?" tanya Pak Ali.


"Saya ingin, Mas Galuh agar bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan pada kami." kata ku. Pak Ali hanya manggut-manggut.


"Galuh tidak ada di sini?" jawab Pak Ali datar.


"Kalau tidak, saya akan laporkan ini." ancam ku. Pak Ali tertawa.


"Anggi Anggi. Mana buktinya?" tanya Pak Ali mencemooh ku. Aku terdiam. Benar juga.


Aku memandang Angga. Lalu aku berdiri, dan juga Angga berdiri mengikuti ku.


"Pak, cepat atau lambat saya pasti akan menemukan kejahatan yang telah kalian lakukan." kata ku lalu langsung pulang.


Sesampai nya di rumah, kami berdua lalu duduk bersama selonjoran di ruang tamu.


"Bagaimana cara kita menemukan itu semua yank?" tanya Angga.


"Entahlah." aku masih belum tahu apa yang harus kita lakukan. Aku menyenderkan kepala ku di pundak Angga. Angga menggenggam tangan ku.


"Kurang bentar lagi, jadwal magang kita berakhir. Semoga semua ini akan terbongkar." ucap ku.


"Aamiin." Angga mengamini ucapan ku.

__ADS_1


Lalu sahabat ku datang membawakan kami nasi bungkusan untuk dimakan bersama.


"Bagaimana kata Pak Ali?" tanya Edwin sambil makan.


"Dia malah ngancam kami." jawab ku sambil menyuapi Angga.


"Gila tuh orang! Gue harap kita bisa secepat nya menemukan bukti kejahatan mereka." timpal Andre.


Hari ini sudah 2 bulan kami magang di sini. Sampai saat ini kami belum mengetahui keberadaan Mas Galuh.


Hari ini adalah panen. Walaupun bukan panen raya. Angga sudah sembuh. Luka-luka kami pun sudah sembuh.


Malas sekali rasa nya jika harus ada Pak Iwan kali ini. Terlihat Pak Iwan berjalan ke arah ku. Aku menatap nya penuh kebencian.


Sambil bertolak pinggang, dia membisikkan sesuatu pada ku.


"Kamu seksi." kata nya. Angga menghampiri ku karena tahu ada Pak Iwan.


"Bapak jangan kurang ajar sama saya ya." kata ku.


"Itu fakta. Mau nemenin saya gak?" kata Pak Iwan lagi.


"Saya akan pastikan Anda akan menyesal!" ancam ku.


"Oh, berani sekali. Jangan macam-macam sama saya ya, kalau kamu gak mau hilang." ancam Pak Iwan.


"Percayalah Pak, jika saya hilang maka orang yang pertama kali dicari polisi adalah Anda." ancam ku lalu pergi meninggalkan dia bersama Angga.


*


*


*


*

__ADS_1


*


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.


__ADS_2