
Semenjak aku sakit, para sahabat ku yang mengurus urusan rumah dan lainnya. Hari ini, sahabat ku sebenarnya tidak ingin mengikuti kegiatan hari ini. Mereka ingin mencari benda itu. Tapi aku melarang nya. Kita bisa mencari nya lagi nanti saat mereka sudah istirahat.
Hanya ada Angga yang menemaniku. Angga mencari di semua sudut ruangan, membuka semua baju yang ku ketakkan di lemari baju. Di dapur. Bahkan dia cari di semak-semak depan rumah. Tapi nihil.
Siang hari nya, sahabat ku juga mencari lagi di semua tempat. Di barang-barang pribadi ku. Juga tidak ditemukan. Aku semakin tersiksa.
Semenjak kejadian itu, Mas Galuh sudah tidak pernah tetlihat batang hidung nya lagi. Hal itulah yang membuat kami semakin meyakini, jika dia yang telah mengguna-guna ku. Angga hampir saja melabrak nya, tapi aku melarang nya karena kami tidak memiliki bukti yang kuat.
Tiap malam aku selalu memiliki hasrat yang kuat dan sangat ingin melakukannya dengan Angga. Ada rasa bersalah dalam diriku pada Angga. Pasti Angga tersiksa sekali saat ini. Ini sudah malam ke 3 aku melewati ini semua.
Seperti biasanya, kami hanya melakukannya dengan berciuman. Desahan-desahan ku sebenar nya menggairahkan untuk Angga merenggut kesucian ku, tapi aku salut dengan pendirian Angga yang tidak ingin melakukannya. Jangan kan untuk merenggut nya, menjamah dada ku yang sudah ada di depan matanya tidak dia lakukan.
Tanpa sepengetahuan ku, keesokan harinya Angga menemui Mas Galuh.
"Aku minta tolong. Katakan dimana kamu menyembunyikan nya." kata Angga. Mereka janjian di taman depan peternakan sapi perah.
Mas Galuh tertawa senang.
"Oh, jadi kalian sudah tahu? Kamu mau tahu di mana aku menyembunyikannya?" ejek Mas Galuh.
"Iya."
"Lalu, sebagai gantinya kau mau memberi ku apa?" tanya Mas Galuh.
"Kamu mau minta apa?" tantang Angga.
"Berikan Anggi padaku " jawab Mas Galuh. Angga sudah kehabisan kesabaran. Lalu ia memukul Mas Galuh, hingga ia tersungkur.
"Sampai kapan pun, gue gak akan nyerahin Anggai ke lu!" ucap Angga. Mas Galuh kembali tertawa.
"Angga Angga. Kamu itu munafik dan bodoh ya. Kok bisa-bisa nya tahan untuk tidak melakukannya, padahal itu adalah kesempatan menikmati tubuh nya yang huuh." ucap Mas Galuh sambil mengusap bibirnya.
__ADS_1
Lalu Angga memukul lagi Mas Galuh, karena ia tidak terima ada yang mengatakan hal tersebut tentang kekasih nya. Lalu Angga pergi meninggalkan Mas Galuh yang tengah kesakitan.
"Sampai kapan pun, gak akan kalian temukan." teriak Mas Galuh.
Angga sangat kesal dengan ulah Galuh. Dia menceritakan hal itu pada sahabat nya. Untung saja saat ini Anggi sedang tidur. Semua rasanya ingin menghajar Galuh saat ini. Tapi benar apa yang dikatakan Anggi, kita saat ini tidak memiliki bukti yang kuat. Bisa-bisa itu menjadi boomerang buat diri sendiri.
Hari ini masih belum ditemukan di mana barang itu dipendam. Tubuh ku terlihat agak kurusan sekarang, karena memang tidak nafsu makan. Dan luka cakar semakin banyak di badanku.
Malam ini, aku kembali merasakan hasrat itu. Kasihan sekali Angga, pasti dia tersiksa sekali.
"Maafin aku ya yank." ucap ku setiap sebelum melakukan ciuman. Kali ini kami ciuman agak lama dari biasanya. Angga melepaskan ciuman kami, tapi aku menarik lagi tubuh nya. Saat ini, untuk pertama kali nya, Angga menciumi leher ku. Aku mendesah membangkit kan gairah kami. Tapi untuk sesaat, dia menghentikan itu semua. Angga pun menangis, iba kepada ku.
Aku mengusap air mata nya.
"Ini bukan salah mu." ucap ku. Lalu Angga memelukku sambil menangis.
"Maaf kan aku juga. Aku tidak akan menggunakan kesempatan ini. Percayalah." ucap nya.
*****
Angga semakin frustasi. Dia bingung, apa yang harus dia lakukan untuk menyelamatkan wanita yang sangat ia cintai. Karena tidak mungkin, jika dia harus menyerahkan Anggi kepada Mas Galuh, karena nanti nasib Anggi pasti akan sama seperti Lidia dan Maya.
Angga memutar otak nya untuk berfikir. Dia sejenak duduk di teras.
"Pasti Galuh meletakkan barang itu pada tempat yang tidak akan mungkin Anggi bongkar. Dimana ya." gumam nya sambil berfikir keras dan memejamkan mata nya. Saat dia membuka matanya, Angga tersenyum sumringah, lalu ia memanggil Edwin, Toni dan Andre.
"Rasanya, gue tahu di mana dia menyembunyikannya." kata Angga tersenyum lebar.
"Di mana?" tanya mereka serempak. Angga lalu menunjuk ke arah pot-pot bunga yang paling aku sayangi.
"Galuh pasti menaruh nya di sana. Karena pot bunga itu tidak akan pernah dibongkar kan?" jelas Angga.
__ADS_1
"Bener juga lu."
Lalu kami pun membongkar satu per satu pot bunga milik ku. Sekarang aku sudah memiliki sekitar 15 pot bunga, karena selama di sini aku suka menanam bunga baru. Satu per satu kami membongkar nya. Di bunga aglonema, anggrek, calatea kami bongkar semuanya.
"Aduh, kalau Anggi gak sakit pasti dia udah marah-marah dan hajar kita deh karena udah bongkar-bongkar bunga nya." kata Edwin sambil membongkar bunga calatea.
Bingo. Dapat. Wajah Angga bersinar senang saat dia mendapat kan benda yang mereka cari selama ini. Ternyata disembunyikan di balik tanaman anggrek yang diberi oleh Bu Dian.
Semua tampak senang, lalu Angga membawa benda tersebut ke Anggi.
"Yank, kami sudah menemukan benda nya nih." kata Angga membangunkan ku. Tapi aku tidak bisa bangun. Entah kenapa. Padahal aku bisa mendengar suara mereka, tapi aku tidak bisa bergerak. Aku ingin memanggil nama mereka, namun tidak ada yang bisa mendengar.
Angga kini panik. Mereka semua berusaha membangunkan ku. Tapi nihil.
"Lebih baik kita segera ke rumah Ni Laksmini deh." ujar Edwin. Kami semua setuju, padahal hari hampir gelap.
Edwin membonceng ku, dan Angga ada di belakang ku untuk memgang tubuh ku. Toni dan Andre mengikuti kami dari belakang. Perjalanan kami kali ini agak lama, karena kami harus hati-hati membawa motor dikarenakan langit yang sudah gelap.
Kami sudah tiba di rumah Ni Laksmini.
"Ni... Ni..." teriak Angga sambil memanggil Ni Laksmini. Tak lama, keluar lah Ni Laksmini.
"Ni, tolong kami....." kata Angga.
*
*
*
*
__ADS_1
*
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.