
Malam hari setelah makan malam bersama, seperti biasa kami akan berkumpul di ruang keluarga untuk nonton tv.
"Kak Anggi, tolong bantuin aku dong ngerjain PR matematika. Sulit nih." kata Diana.
"Oh, sini sayang." kata ku meminta Diana untuk duduk di samping ku. Aku sudah pindah duduk di bawah beralaskan karpet bulu tebal. Aku duduk tepat di bawah Angga yang sedang duduk, sedangkan Diana duduk di samping ku. Buku nya ia letakkan di atas meja. Dengan telaten, aku menjelaskan tentang materi bilangan berpangkat pada Diana.
Terlihat Mbak Siska baru datang, lalu duduk di samping Angga. Aku sangat sebal dengan kehadirannya. Nanti malam sebelum tidur aku harus ngobrol sama Angga pokok nya.
Diana sangat pintar, dia dengan mudah memahami penjelasan yang ku berikan pada nya. Kadang, Angga tiba-tiba memeluk leher ku dari belakang, dan dia menempelkan pipi kiri nya ke pipi kanan ku.
"Papa kalau lihat Angga sekarang, jadi inget dulu saat kita pengantin baru ya Ma." kata Papa menggoda Mama.
"Ih, Papa nih bikin malu di depan anak-anak saja." kata Mama. Kami semua tertawa bersama.
"Oh ya Ngga. Papa sudah mendaftarkan kamu sama Anggi untuk meneruskan di S2. Bulan depan bisa mulai kuliah nya. Papa sudah mendaftarkan kalian di jurusan Manajemen." kata Papa tinba-tiba.
"Apaan sih Papa ini. Aku kan baru aja selesai wisuda. Udah disuruh kuliah lagi. Lagian aku ntar lagi kan mau nikah." sungut Angga.
"Eh, nih anak ya. Ini demi kebaikan kamu juga. Makanya Papa daftarin Anggi juga, biar kamu tambah semangat kuliah nya. Anggi mau kan?" kata Papa.
"Anggi setuju aja sih Pa. Terimakasih ya Pa." kata ku tersenyum senang.
__ADS_1
"Yaaaaa yank." kata Angga sebal. Aku hanya tertawa melihat tingkah calon suami ku ini.
Aku sudah selesai membantu Diana mengerjakan PR nya. Lalu aku duduk di sela antara Angga dan Mbak Rosa. Dengan terpaksa, Mbak Rosa lalu menyingkir.
"Kak Riko belum datang mbak?" tanya ku tiba-tiba.
"Masih lembur." jawab singkat Mbak Rosa. Tampak nya dia sebal.
"Yank, bobok yuk." ajakku sok manja kepada Angga. Ku lirik Mbak Siska menatap ku kesal. Angga menuruti ku. Lalu kita berpamitan pada Mama juga Papa.
Setelah aku cuci muka, aku lalu mengunci pintu kamar Angga.
"Kamu tuh ya, kalau tidur harus selalu di kunci. Nanti kalau ada yang ngintipin kamu gimana?" kata ku lalu naik ke atas ranjang.
"Kamu harus percaya sama aku yank. Tadi, waktu kita ciuman Mbak Siska ngintipin kita. Kayak nya dia suka sama kamu deh." kata ku serius.
"Masa sih yank?" tanya Angga gak percaya.
"Sumpah Demi Allah yank. Mana mungkin aku bohong sih yank. Bukan aku cemburu ini ya." kata ku menjelaskan.
"Iya. Aku percaya sama kamu." kata Angga membelai rambut ku.
__ADS_1
"Mulai sekarang, kamu harus hati-hati ya kalau gak ada aku." kata ku. Angga mengangguk.
"Kita harus bilang ke kak Riko kalau gini yank." kata Angga sambil tiduran.
"Jangannnn. Kasian kak Riko. Kita gak punya bukti nya kan yank." kata ku ikut tiduran. Lalu Angga menaruh tangannya di atas perut ku. Aku lalu menghadap padanya.
"Sebel deh aku yank sama Mbak Siska itu. Pantas saja dia yang gak suka sama aku. Tiap kali aku berusaha mendekatkan diri, dia selalu menghindar. Ternyata ini alasannya." aku menghentikan ucapan ku.
"Kenapa sih yank, natap aku kayak gitu." tanya ku.
"Suka aja dengan keadaan ini." ucap Angga. Aku pun tersenyum, dan kita terlelap dalam tidur kita masing-masing. Tuh kan, emang gak pernah terjadi apa-apa sama kita.
*
*
*
*
*
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya. Bagi yang sudah vote, aku ucapkan banyak terimakasih.