
"Mbak Anggi tidak sakit apa-apa. Tapi.... Ini menurut saya. Dia sedang ada yang mengguna-guna." kata Bu Indah.
Kami semua saling pandang.
"Ibu tidak sedang bercanda kan dengan kami?" tanya ku pelan.
"Tidak mbak. Saya jadi bidan di desa ini sudah 15 tahun lamanya. Jadi, saya pasti tahu kenapa pasien saya. Awalnya dulu, saya tidak percaya. Tapi, seiring berjalannya waktu, saya paham. Jika secara medis tidak terdiagnosa apa-apa, maka jawabannya sudah pasti, ini secara ghaib." Bu Indah menjelaskan. Aku masih tidak percaya.
"Lalu, bagaimana kita bisa menyembuhkannya?" tanya Angga panik.
"Datanglah ke Bu Parti. Beliau tahu di mana tempat untuk menyembuhkan mbak Anggi ini. Ni Laksmini." jawab Bu Indah.
Setelah diberitahu Bu Indah, maka kami langsung menuju ke Bu Parti. Angga menggenggam tangan ku selama perjalanan.
Terdengar suara gemuruh di langit, tanda akan turunnya hujan. Aku langsung mencari keberadaan Bu Parti.
"Ya Non, ada apa?" tanya Bu Parti.
"Bu, tolong antar Anggi ke Bu Laksmini sekarang." Angga langsung pada inti nya. Bu Parti langsung diam, karena Angga telah menyebut nama itu.
"Apa ada yang menyalahi kamu Non?" tanya Bu Parti iba. Aku mengangguk sambil meneteskan air mata. Tubuhku masih terasa panas, seperti gunung yang akan memuntah kan magma nya.
"Mari saya antar, mumpung hari belum gelap." kata Bu Parti lalu menutup warung nya. Kami berempat kemudian menuju rumah Ni Laksmini. Tempat nya jauh, di tengah hutan. Tidak ada rumah ataupun tanda-tanda kehidupan di sini. Aku semakin takut, ditambah suara gemuruh langit yang saling bersahutan.
Di balik pepohonan bambu, itulah rumah Bu Laksmini. Dinding terbuat dari anyaman bambu, hanya ada penerangan obor, lantai beralaskan tanah.
Aku lalu memasuki rumah Ni Laksmini. Terdengar suara reyotan dari atap rumah ini. Aku merinding.
Keluarlah, wanita tua. Kira-kira berumur 70an tahun. Seakan-akan sudah mengerti maksud tujuan kami ke sini, dia langsung bisa menebak apa yang ku rasakan. Dia menyuruh kami untuk duduk di tikar.
"Itu guna-guna rogo sukmo. Yang mengiriminya pasti sakit hati sama kamu. Sekarang tubuh kamu merasakan panas yang hebat bukan? Itu tujuannya agar kamu melepas semua yang kamu kenakan dimana pun kamu berada. Dia ingin membuat mu malu di depan umum." jelas Ni Laksmini. Aku tidak percaya.
"Tapi, kamu beruntung belum melakukannya. Karena saya lihat kamu rajin beribadah, dan tubuh mu sering terkena air wudhu. Selain itu, weton kelahiran mu, yang membuat kamu kuat. Tapi..." kata-kata Ni Laksmini menggantung. Kami semua menunggu lanjutan kata-kata dari nya.
"Ada sosok arwah gentayangan. Dia sesosok gadis. Pasti dia pernah datang dalam mimpi mu kan?" tebak Ni Laksmini benar.
"Siapa dia Ni?" tanya ku.
"Dia adalah korban pembunuhan yang ingin dikuburkan secara layak." jawab Ni Laksmini membuat atmosfer semakin mencekam.
"Jadi, sekarang apa yang harus saya lakukan?" tanya ku.
__ADS_1
"Tetaplah beribadah dan mengaji." kata nya.
"Tapi dia tidak bisa untuk saat ini Ni. Dia sedang berhalangan." sambung Angga khawatir. Ni Laksmini lalu menatap ke arah Angga, dan tersenyum.
"Beruntunglah kamu, memiliki pendamping yang tulus padamu. Walaupun pikirannya selalu ingin segera menikmati mu." goda Ni Laksmini. Angga hanya terbelalak tak percaya, sedangkan aku hanya bisa mengulum senyum.
"Kamu harus mencari sesuatu yang dipendam oleh orang ini. Biasanya ilmu ini menganjurkan orang yang mengirimi guna-guna untuk memendam rambut atau foto mu, dicampur dengan darah anjing hitam." jelas Ni Laksmini.
"Kalian harus segera mencari nya. Kalau tidak, mbak ini akan mimpi buruk tiap malam nya dan itu akan mempengaruhi kondisi nya. Jika sudah ketemu, berikan padaku." lanjut Ni Laksmini.
"Jadi, untuk saat ini apa yang harus aku lakukan Ni?" tanya ku.
"Bersabar lah. Berdoa lah. Kamu beruntung di kelilingi oleh orang-orang yang menyayangimu." jawab Ni Laksmini.
"Kalau boleh tahu, siapa Ni yang mengirim guna-guna ini pada ku?" tanya ku lagi.
"Seorang lelaki. Dia meminta bantuan pada Ki Joyo, ahli ilmu hitam. Di desa ini, hanya ada dua orang yang menguasai ilmu ghaib. Aku dan Ki Joyo, tapi aliran kita berbeda." jelas Ni Laksmini.
"Kamu tidak usah takut. Jika nanti kamu merasa panas dan mulai membuka bajumu, dia akan menahan syahwat nya." lanjut Ni Laksmini sambil menoleh ke arah Angga.
"Jaga dia walaupun tengah malam. Karena, biasa nya Ki Joyo akan nengirim jinnya pada saat tengah malam dan siang hari." titah Ni Laksmini.
"Setelah mendengar penuturan Ni Laksmini tadi, kami mempercayakan Angga untuk jaga lu Nggi. Kami prihatin atas apa yang menimpa diri lu." kata Toni setelah mendengar penuturan kami. Angga dengan tulus ikut mengipasi tubuh ku yang merasakan panas.
"Panas ya yank?" tanya Angga iba. Aku mengangguk sedih. Sahabat ku juga iba.
"Jadi ayo kita cari benda yang dimaksud Ni Laksmini tadi." ajak Andre. Kami semua lalu mencari di halaman sekitar rumah kami. Semua berpencar.
"Nyari apaan sih mereka?" tanya Mina ke Bima.
"Oh, nyari anting-anting nya Anggi yang hilang." jawab Bima.
"Halah, gitu doang dibikin heboh." jawab Mina ketus lalu masuk ke dalam rumah.
Pencarian kami terhenti karena hujan turun sangat deras. Sahabat serta Angga saat ini memakai jaket tebal, sedangkan aku pakai short pant dan tanktop. Itupun aku masih merasa panas.
Panas ku akan reda jika masjid mengeluarkan lantunan ayat suci Al-Qur'an dan suara adzan.
Angga dengan setia menemani ku di kamar. Meladeni ku dengan sabar. Kadang ku lihat dia sholat di kamar ku, lalu setelah itu mengaji di sisi ku untuk mengurangi rasa panas yang ku rasakan. Tak terasa aku menitikkan air mata ku.
"Eh, jangan nagis dong yank. Aku ikutan sedih. Kan ada aku di sini." ucap Angga mengelus rambut ku.
__ADS_1
"Terimakasih ya atas semuanya." ucap ku. Angga hanya tersenyum menggenggam jemari ku.
Benar yang dikatakan Ni Laksmini. Tengah malam aku semakin meraskan panas pada tubuh ku. Ku lihat Angga sudah tertidur pulas. Dan tak tega rasa nya jika aku membangun kan dia. Aku membuka kaos ku, dan yang tersisa hanyalah bh yang menopang 2 dada besar ku ini. Aku semakin panas dibuat nya. Walaupun saat ini suhu hanya 10° C di layar ponsel ku. Aku mengipasi tubuh ku, namun tetap terasa panas. Angga akhir nya terbangun, karena mungkin mendengar aku tidak bisa tidur.
Dia mengucek matanya. Ku lihat dia tertegun melihat ke arah dada ku. Terlihat dia tengah menelan saliva nya sendiri.
"Maaf aku sudah melihat nya." ucap Angga.
"Aku yang minta maaf, karena sudah menempat kan mu di posisi seperti ini." ucap ku. Aku ingat akan ucapan Ni Laksmini tadi, kalau guna-guna yang dikirimkan tadi membuat hasrat ku memuncak.
Sekuat tenaga, aku menahannya sambil membaca bacaan ayat kursi dan lainnya. Angga tahu itu, dia lalu mengipasi ku dengan telaten. Nafsu sudah menguasai ku. Guna-guna macam apa ini Tuhan. Aku menghampiri Angga.
"Yank, maafin aku." ucap ku ke Angga. Angga mengangguk dan memejamkan mata nya.
Lalu, entah darimana aku lalu duduk di pangkuan Angga. Secara otomatis, dada ku tepat di hadapan Angga. Aku membelai rambut nya, jiwa ku sebenarnya menolak. Tapi tidak tahu ini hasrat dari mana. Aku menangis. Lalu Angga mengusap air mata ku.
"Tenang lah. Walaupun saat ini aku sangat ingin, tapi aku akan memenuhi janji ku pada mu." ucap Angga. Aku tersenyum, lalu kami berciuman hingga nafas ku hampir habis. Dengan berciuman seperti ini, membuat ku berkeringat.
Lalu Angga melepas ciuman kami. Tapi aku ingin melakukannya lagi.
"Stop yank. Disini akulah yang harus memegang kontrol akan dirimu." Angga menatap ku lalu memelukku.
"Kamu sudah berkeringat, maka sebaik nya kamu mandi. Ayo, aku antar." ucap Angga.
Lalu aku pun mandi tengah malam. Setelah itu aku bisa tidur. Dalam tidur ku, aku bermimpi dikejar anjing hitam yang besar. Aku berlari sekencang nya. Aku minta tolong, tapi tidak ada yang menolong.
Anjing hitam itu lalu menerkam ku, dan mencakar di wajah serta tangan ku. Aku terbangun, lalu Angga memelukku. Aku memangis dalam pelukannya. Para sahabat ku juga ikut terbangun, dan iba melihat ku. Cakaran di wajah dan tangan ku begitu nyata, menyebabkab wajah dan tangan ku terluka dan berdarah.
Sekali lagi dengan telaten Angga merawat ku.
*
*
*
*
*
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.
__ADS_1