Cinta Dan Obsesi

Cinta Dan Obsesi
BAB 33


__ADS_3

"Tunggu. Tolong sudahi ini!" kata ku kepada mereka berdua.


"Berani sekali bocah ingusan ini padaku." kata Ki Joyo dan dia mau menghampiri ku.


Lalu Angga dan sahabat ku ikut keluar, dan berusaha melindungi ku.


"Hahahahahaha... Bocah ingusan ini berani sekali menantang ku." tawa Ki Joyo.


"Kenapa kalian keluar?" tanya Ni Laksmini.


"Kami hanya ingin ini semua berakhir Ni." jawab ku.


Lalu Ki Joyo mengarah kan tangannya ke arah ku. Namun Ni Laksmini berhasil menghadang nya dengan kekuatan ghaib nya.


"Cepat masuk lah ke dalam!" perintah Ni Laksmini. Lalu kami akan masuk ke dalam rumah. Namun langkah kami terhenti, saat ada Mas Galuh di depan kami.


"Mau apalagi kamu?" tanya ku.


"Kalau aku tidak bisa mendapat kan mu, maka orang lain juga tidak akan bisa." kata Mas Galuh lau dia berjalan menyerang ku dengan pisau yang ada di tangannya.


Namun...


Angga dengan cepat bergerak ke arah ku, sehingga pisau itu mengenai perut nya.


"Angga!!" aku berteriak, lalu menghampiri Angga yang tersungkur. Aku menangis. Ku lihat darah segar keluar dari perut nya. Sedangkan Mas Galuh melarikan diri entah kemana.


Aku menangis sambil memegangi perutnya. Aku melepas jaket ku, dan mengikatkannya di perut Angga. Sahabat ku lalu mengangkat tubuh Angga dan menaikkan Angga ke motor Edwin.

__ADS_1


"Bertahanlah. Demi cinta kita." kata ku membesarkan hati Angga. Angga mengangguk.


Dentuman berikutnya terdengar sangat keras. Ku lihat Ki Joyo tersungkur kali ini. Dia sudah tewas dengan darah segar di mulutnya.


Ni Laksmini menyuruh kami untuk segera membawa Angga ke klinik Bu Indah, sedangkan dia akan mengurus jasad dari Ki Joyo. Beruntung, tempat ini bukanlah padat penduduk. Jadi tidak ada yang tahu tentang kematian Ki Joyo. Kami mengarungi malam, di tangah hutan menuju klinik Bu Indah.


Aku menangis sejadinya. Aku tak menghiraukan keadaan ku yang dingin saat ini. Aku masih memegangi tubuh Angga agar tidak terjatuh.


Subuh. Kami sudah tiba di klinik Bu Indah. Aku sangat panik.


"Bu, tolong kami." kata ku iba.


"Cepat lah bawa masuk." kata Bu Indah yang baru bangun tidur.


Kami membawa Angga masuk, dan Bu Indah menyuruh Angga untuk berbaring di ranjang. Bu Indah mengeluarkan alkohol dan peralatan jahit lainnya.


"Tetap bersama ku. Jangan tidur. Aku cinta kamu." kata ku lagi untuk menyemangati Angga.


Bu Indah lalu melakukan tindakan medis untuk nenjahit luka Angga. Aku masih menatap mata Angga yang tampak nya menahan kesakitan. Aku menahan air mata ku agar tidak keluar. Karena aku tidak mau disaat seperti ini Angga juga ikutan sedih.


"Sabar ya." ucap ku mengelus rambut Angga.


Setelah berkutat dengan jarum dan benang jahit, lalu Bu Indah membersihkan sisa-sisa darah yang ada di perut Angga.


"Untung saja lukanya tidak terlalu dalam. Dan luka nya langsung ditutup, jadi dia tidak kehilangan banyak darah. Ini saya kasih obat agar jahitannya lekas kering ya. Untuk hari ini, biar Angga istirahat dulu di sini." ucap Bu Indah lalu pergi meninggalkan kami.


Aku lalu mencium kening Angga. Dan menangis.

__ADS_1


"Sudah sayang, jangan menangis. Aku kan gak kenapa-kenapa." kata Angga menatap ku.


"Thanks ya Ngga. Gue sangat berterima kasih pada lu." ucap Edwin mendekati ranjang Angga.


"Bukan hanya Edwin, tapi kita sangat-sangat berterimakasih pada lu." kata Andre.


"Kita ini keluarga kali. Jadi sudah sewajarnya jika sebuah keluarga saling melindungi yang lainnya." jawab Angga meringis menahan perih luka nya.


Kami sepakat, agar merahasiakan kejadian yang menimpa kami ini dari orang tua kami masing-masing. Kami tidak ingin membuat mereka kgawatir. Karena kami ingin menemukan bukti yang kuat untuk memenjarakan mereka.


Kami juga memberitahu Bima dan Edo tentang kejadian ini. Dan mmelarang mereka berdua untuk tidak bercerita pada siapa-siapa.


Aku mengusap air mata ku.


"Aku harus pergi dulu. Ada sesuatu yang harus aku urus."


*


*


*


*


*


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.

__ADS_1


__ADS_2