Cinta Dan Obsesi

Cinta Dan Obsesi
BAB 50


__ADS_3

Ya. Orang yang tidak menyukai keromantisan kami sedari tadi adalah Mbak Siska, istrinya Kak Riko. Entah mengapa feeling ku sebagai seorang wanita, Mbak Siska ini menaruh hati pada Angga. Adik ipar nya sendiri. Ah, mudah-mudahan ini hanya perasaan ku saja.


Terlihat ada seorang perempuan cantik tengah menyalami Angga juga keluarga Angga. Tampak nya perempuan ini pernah dekat dengan keluarga Angga.


"Hai Rosa." kata Mbak Siska sambil bercipika-cipiki dengan Rosa. Oh, jadi ini yang namanya Rosa. Mantan pacar Angga saat masih smester 1. Menurut Bima, Angga dan Rosa putus karena Rosa berselingkuh dengan teman Angga. Aji namanya.


Rosa ini cantik sih. Kulit putih bersih. Badan ramping. Tinggi badannya lebih tinggi dia sih beberapa senti dari ku. Bibir nya yang mungil. Beda dengan bibir ku yang agak sensual ini. Lihat tuh dada nya. Dada apaan? Kayak punya anak SMP saja. Hanya bh nya saja tuh yang besar. Tidak seperti dada ku yang montok ini.


Aku mulai merasa aneh dengan sikap Mbak Siska. Kepada ku dia tidak mau dekat, tapi dengan orang lain dia begitu akrab. Rosa lalu menatap ku. Dia menyalami ku.


"Rosa."


"Anggi."


"Dia ini tunangan ku." kata Angga sambil mengelus punggung tangan ku.


"Selamat ya." kata Rosa tersenyum. Lalu Rosa mulai berbincang dengan Mama Gita dan Mbak Siska.


"Oh, ini namanya Rosa." goda ku.


"Jangan mulai deh yank." kata Angga mulai kesal.


Acara wisuda pun berjalan lancar. Saat ini adalah sesi berfoto. Seperti pada umum nya, pasti akan berfoto bersama keluarga, para sahabat, dan juga dengan ku. Tapi yang membuat ku aneh adalah saat Mbak Siska mengajak foto berdua dengan Angga. Dia dengan mesranya bergelayut manja di tangan kekasih ku yang gak peka itu. Aku sungguh kesal.

__ADS_1


Bahkan saat di mobil pun, aku tak banyak bicara dngan Angga.


"Rosa sangat cantik tadi ya Ngga?" kata Mbak Rosa saat di dalam mobil. Kami bertiga duduk di bagian tengah. Sedangkan kak Riko dan Diana duduk di bagian belakang mobil.


"Kamu ini gimana sih Siska. Sekarang Angga kan sudah ada Anggi." ujar Papa. Aku hanya diam. Sedangkan Angga menggengam tangan ku.


"Iya sih Pa. Tapi sayang sekali ya, padahal dulu kita sudah akrab kan ya." lanjut Mbak Siska sambil mengusap punggung tangan Angga. Aku yang mengetahui itu langsung memicingkan mata ku.


"Aduh sayang, kuku kamu kayak nya udah waktu nya di potong deh. Coba sini aku lihat." kata ku sambil mengambil tangan Angga dan berpura-pura melihat kuku Angga yang gak panjang itu. Terlihat Mbak Siska langsung melengos.


"Ih, apaan. Mama dari dulu kan emang gak setuju sama si Rosa. Terbukti kan, dia ternyata selingkuh." jawab Mama. Mbak Siska langsung kalah telak sekarang.


Saat sampai di rumah, aku langsung masuk ke kamar tanpa menunggu Angga. Angga berlari kecil menghampiri ku yang kini sedang memandang jauh ke arah luar jendela kamar Angga.


"Aku cintanya cuma sama kamu doang sayang." bujuk Angga lagi. Aku lalu menoleh ke arah nya. Bibir ku manyun. Aku sebal.


"Lagian, kenapa sih harus bahas Rosa mulu?" tanya ku sebal.


"Atutututu, sayang ku ini lagi cemburu ya?" kata Angga menangkup wajah ku gemas. Aku mengangguk.


"Gak mungkin lah yank, aku masih menyimpan perasaan buat si pengkhianat itu. Lagian, gak mungkin juga aku suka sama si dada rata itu, sedangkan di depan ku ini ada yang lebih seksi." goda Angga dengan berbisik.


"Oh, jadi kamu cinta sama aku karena seksi gitu?" tanya ku.

__ADS_1


"Ya nggak lah yank. Kalau aku cinta sama keseksian kamu doang, maka kamu sudah habis dari dulu." kata Angga. Aku memukul pipi nya pelan. Lalu Angga mencium bibir ku dengan penuh rasa.


Terlihat dari ujung mata ku, bahwa Mbak Siska ada di balik pintu sedang ngintip kita yang tengah berciuman. Rupanya Angga tadi tidak sempat untuk menutup pintu kamar. Tampak dia memegang bibir nya sendiri. Aku mengalungkan tangan ku ke leher Angga, dan menggiring Angga ke tepian ranjang. Sehingga membuat kita jatuh di atas ranjang. Kini tubuh Angga ada di atas ku, lalu Angga melanjutkan ciuman kami.


Dari ujung mata ku, aku bisa melihat kalau Mbak Siska sangat kesal. Lalu ia pergi meninggalkan kamar Angga. Aku lalu mendorong dada Angga.


"Kok udahan sih yank?" tanya Angga pada ku. Hm, rupanya keenakan dia. Padahal aku melakukan ini barusan untuk membuat panas Mbak Siska. Dan ternyata benar dugaan ku, Mbak Siska ternyata menyukai Angga.


"Lain kali, jangan lupa pintu nya ditutup lalu kunci, kalau ada orang gimana?" kata ku sambil menutup pintu kamar Angga. Lalu Angga menarik tanganku, dan merangkul pinggang ku.


"Aku mau lanjutin yang barusan." bisik Angga lalu dia kembali mencium bibir ku.


*


*


*


*


*


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.

__ADS_1


__ADS_2