
Aku sedang membersihkan telinga Angga dengan cotton bud di kamar nya. Angga tengah tidur di pangkuan ku yang kini duduk di sofa kamar Angga. Tiba-tiba pintu kamar terbuka.
"Ya ampun Anggaaaaa... Kamu tuh ya belum jadi pengantin baru kerjaannya di kamar terus. Ajak Anggi main kemana kek, mumpung sudah ada di sini."omel Mama. Aku hanya bisa mengulum senyum.
"Nanti ya Ma, kalau aku jadi pengantin baru gak akan keluar dari kamar 7 hari 7 malam loh." goda Angga lalu duduk dinsamping ku. Mama haanya tertawa mendengar celotehan anak nha. Aku memukul pelan lengan Angga. Konyol banget ngomongin hal itu di dpan Mama nya.
"Kok mukul sih yank. Emang bener loh. Nanti setelah nikah aku akan ngurungin kamu di kamar ini." kata Angga. Aku semakin melotot ke arah nya.
"Awas aja kalau gak cepat ngasih cucu ke Mama." kata Mama yang ikut menggoda ku. Kini aku tersipu malu.
"Tenangvaja Ma, nanti pasti langsung jadi. Iya gak yank?" tanya Angga kepada ku sambil menaik turunkan kedua alis nya. Tuh kan, pipi ku bersemu marah. Pagi-pagi udah ngomongin bikin anak.
"Udah sana, ajak jalan-jalan. Lama-lama omong sama kamu jadi ngelantur kemana-mana." sungut Mama kesal. Lalu Mama meninggalkan kami.
Aku lalu ganti pakaian. Dan kami pun berangkat naik motor Ninja warna merah. Angga memasangkan helm padaku.
"Pelukan yang erat ya yank." kata Angga. Aku pun memeluk nya dengan erat.
Kami menyusuri jalanan kota selama kurang lebih 20 menitan. Lalu kami sampai di sebuah rumah minimalis suatu perumahan. Lalu muncullah Bima dari balik pintu. Bima kaget, karena ada aku di samping Angga.
"Anggiiii." kata Bima berlari memelukku. Bima terlihat senang karena sudah lama tidak berjumpa dengan ku. Deheman Angga membuyarkan pelukan kami.
"Jangan peluk-peluk dong. Calon bini orang nih." kata Angga kesal.
__ADS_1
"Emang udah resmi?" tanya Bima. Lalu Angga menunjukkan cincin di jari manis nya.
"Weeiitttss, kapan nih nikah nya?" tanya Bima girang.
"Do'ain secepat nya ya." kata ku tersenyum.
"Kita gak di suruh masuk ke dalam nih?" tanya Angga. Bima baru sadar, kalau sedari tadi kami ngobrol di luar pagar rumah nya.
Lalu kami pun masuk ke dalam rumah Bima. Bima memperkenalkan ku pada Mama nya.
"Anggi tante." kata ku sambil mencium tangan Mama Bima.
"Ini siapa?" kata Mama Bima.
"Calon istri aku Tante." jawab Angga bahagia.
"Iya. Sudah kebelet Tan. Lagian takut ada yang nikung." canda Angga. Aku mencubit lengan Angga. Kan malu aku nya.
"Angga emang seperti itu anak nya. Kocak. Selamat ya buat kalian berdua. Semoga langgeng." ucap Mama Bima. Lalu beliau pun pamit ke dalam.
Hampir 1 jam an kami ada di rumah Bima. Kebetulan sekali tadi ada Edo juga ke rumah Bima. Karena Bima menelpon Edo kalu ada aku dan Angga di rumah nya. Kami membicarakan banyak hal. Dan juga tak lupa memberitahu rencana pernikahan kami.
Setelah dari rumah Bima, kami pun lanjut jalan-jalan ke mall.
__ADS_1
"Mau makan apa yank?" tanya Angga pada ku saat sudah berada dalam restoran.
"Apa ya?" aku mulai berfikir. Aku memilih-milih makanan di menu makanan ini.
"Aku pesen es krim aja ya, yang rasa alvukad." kata ku.
"Beneran gak mau makan?" Angga memastikan. Aku mengangguk. Lalu Angga memesan nasi goreng seafood, es krim alvukad, dan jus jeruk. Setelah pesanan kami sampai, kami pun memakannya. Bukan Angga namanya jika tak menyuapi aku.
Setelah itu kami memutuskan untuk pulang.
*****
Hari ini adalah hari wisuda Angga. Sedari pagi orang di rumah ini sudah di rias oleh perias. Para wanita di rumah ini memakai kebaya berwarna pink, sedangkan aku sudah disiap kan sama Mama Gita kebaya berwarna merahbela. Memang, aku disiap kan warna yang berbeda sebagai tanda kalau iki ini adalah orang spesial yang sebentar lagi akan menjadi anggota keluarga Sanjaya.
Kami sudah sampai di kampus Angga. Sedari tadi Angga selalu membisikkan kata-kata romantis dan memuji akan kecantikan dan keseksian ku ini. Aku juga sedari tadi tak lepas dari genggaman tangan Angga. Ada sepasang mata yang begitu nampak tidak menyukai keromantisan kami.
*
*
*
*
__ADS_1
*
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.