
Aku membuka mata ku.
"Astaghfirullah. Jam berapa ini?" aku bingung akan mencari ponsel ku. Tapi, aku malah tertawa saat melihat suami ku tidur di bawah dada ku. Persis seperti bayi yang sedang minum ASI ibu nya. Aneh-aneh saja suami ku ini.
Rupa nya tawa ku membangunkannya. Angga mengucek mata nya, lalu mendongak ke arah ku yang sedang menertawakannya.
"Kenapa sih yank?" tanya nya lalu mensejajarkan posisi tidur nya dengan posisi ku.
"Kamu tuh ada-ada saja sih tidur nya." jawab ku merapikan rambut suami ku yang tampak awut-awutan.
"Ya habisnya, semalam kamu udah tidur duluan padahal...." kata-kata Angga menggantung sambil menaikkan sebelah alis nya.
"Padahal kenapa?" tanya ku menggoda nya. Angga lalu tersenyum dan mulai mencium bibir ku. Dia meminta jatah nya lagi pagi ini.
"Udah ah, aku mau mandi aja. Udah pagi lo yank. Gak enak sama yang lain, pasti udah nunggu sarapan." kata ku ke suami ku yang tubuh nya masih ada di atas ku.
"Sekali lagi ya." pinta nya.
"Nggaaaaaakkk." jawab ku.
"Nolak suami dosa tau." kata nya.
"Tapi kan bisa nanti lagi yank. Aku mau mandi nih." ucap ku. Angga tampak berfikir.
__ADS_1
"Ok. Tapi mandi bareng ya." jawab nya. Mau gak mau aku harus meng iya kan perkataannya. Daripada gak mandi? Tapi aku salah, justru acara mandi kita menjadi lebih lama karena dia meminta jatah nya lagi saat mandi. Dasar, pengantin baru.
"Tuh kan, dada ku merah semua. Kamu sih." kata ku saat hendak memakai beju di depan cermin rias. Tampak banyak tanda merah di sana. Angga hanya meringis melihat hasil karya nya itu.
Jam 9 pagi, kami baru keluar dari kamar. Rupanya semua keluarga sudah menanti kami untuk sarapan.
"Mentang-mentang pengantin baru bangunnya kesiangan." sindir Mama Gita yang rupanya sudah menyelesaikan sarapannya. Aku jadi malu, lalu ku sembunyikan wajah ku ini di dada suami ku.
"Yaelah Ma, kayak yang gak pernah jadi pengantin baru aja." celetuk Angga lalu duduk di kursi depan Mama nya. Orang tua ku pun tertawa mendengar jawaban dari menantu nya itu.
"Cepet kasih cucu ya." kata Mama ku.
"Siap Ma. Aku akan lembur tiap hari deh." canda Angga disambut gelak tawa dari semua orang. Semua tampak bahagia pagi ini.
Benar saja, setelah mengantar pulang nya keluarga dan juga sahabat ku dari hotel ini, Angga mengajak ku ke kamar. Belum juga sempat duduk santai atau melakukan hal lainnya, suami nakal ku itu langsung menggendong ku dan menidurkan ku di ranjang.
"Aku dulu pernah bilang apa sama kamu?" tanya Angga menatap ku dan membelai rambut ku. Nafas nya sampai terasa di wajah ku.
"Omong yang mana ya?" tanya ku sambil mengingat-ingat omongan apa yang dimaksud Angga.
"Setelah nikah, tugas kamu hanya 2. Jadi istri yang baik dan melayani ku di ranjang." bisik nya. Aku pun tersipu malu mendengar ucapan suami ku. Lalu, Angga pun meminta hak nya lagi atas ku. Dan kewajiban ku sebagai istri adalah memberikan hak nya.
Angga benar-benar menahan ku di ranjang. Rambut ku tak pernah kering. Setelah mandi untuk sholat, nanti juga akan basah lagi. Siang hari saja dia sangat bergairah, apalagi saat malam.
__ADS_1
Tengah malam, kami sedang asik nya bercinta. Lalu ponsel ku berdering. Ternyata Aji. Angga menjawab telpon dengan masih berada di atas ku.
"Apaan? Ganggu orang saja." kata Angga.
"Kok lu yang angkat sih?" tanya Aji kesal. Aku diam mendengar obrolan mereka.
"Emang kenapa? Gak boleh angkat ponsel istri sendiri?" jawab Angga sewot.
"Istri?" tanya Aji. Lalu panggilan itu pun berubah menjadi video call dari Aji. Angga mengangakat nya. Dasar bukan Angga namanya kalau gak jahil. Dia menampakkan wajah nya hingga leher, dan mengarahkan ke wajah ku yang ada di bawah nya.
"Lu tuh lagi ganggu pengantin baru tau. Bye." ucap Angga. Tampak oleh ku tadi wajah Aji yang begitu kesal.
Angga lalu menaruh ponsel ku. Dan melanjutkan lemburannya. Namun ponsel ku berbunyi kembali. Angga tampak kesal, lalu mengambil ponsel ku, dan mematikannya. Setelah itu, dia melanjutkan hasrat nya yang sempat tertunda.
*
*
*
*
*
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like dan komen ya.