Cinta Dan Obsesi

Cinta Dan Obsesi
BAB 27


__ADS_3

Hari Minggu siang, sahabat ku sudah kembali saat ku ceritakan semuanya. Mereka mengkhawatir kan ku, makanya mereka pulang cepat. Aku tidak jadi pulang, dengan alasan banyak tugas yang masih menumpuk.


Sesampainya di rumah, sahabat ku langsung nglabrak Mina. Mina diam seribu bahasa, karena takut dia sekarang.


Lalu sahabat ku mencari ku. Mereka memelukku. Dan sekali lagi aku menangis.


"Maaf kan kita ya." ucap mereka. Aku mengangguk. Lalu mulai mengulang menceritakan kejadian menakutkan kemarin.


"Kita harus cepat menemukan buktinya. Gue pingin dia segera membusuk di penjara."kata ku kesal.


"Kita bisa fikir kan nanti itu." kata Edwin. Dia tampak masih mengkhawatirkan ku. Aku memutar otak, bagaimana cara nya agar aku bisa mendapat kan bukti itu.


Tiba-tiba terdengar suara Mas Galuh datang.


"Eh ada yang mau ikut gak ke rumah Pak Iwan. Aku disuruh Pak Dhe ku mengantar laporan ini." tawar Mas Galuh.


"Aku Mas." aku langsung menawarkan diri. Semua sahabat ku melotot ke arah ku. Terlebih Angga.


"Aku ikut Mas." jawab ku. Mas Galuh tertawa senang.


"Aku ganti baju dulu ya Mas." ucap ku. Lalu Angga ikut masuk ke kamar ku.


"Aduh bikin kaget aja tau." ucap ku yang hampir melepas baju.


"Kamu apa-apa an sih yank. Baru kemarin loh kamu diancam dia. Dan sekarang kamu malah mau masuk kandang buaya." kata Angga marah.


"Sayang, aku harus melakukan ini." ucap ku.


"Kamu bisa mengikuti ku dari belakang bersama mereka." bisikku.


"Kamua hati-hati ya." ucap Angga menatap ku.


"Ya udah keluar sana. Mau lihat aku ganti baju?" kata ku.


"Mauuu." ucap Angga.


"Itu sih kamunya yang mesum." ucap ku lalu mendorong Angga keluar kamar.


Aku menyusuri jalanan yang sepi. Masuk ke daerah hutan pinus. Kalau begini aku kan bisa tahu di rumah Pak Iwan. Kita sudah samapi di rumah mewah. Model klasik. Seorang lelaki yang sudah tua membuka gerbang. Aku mengamati tempat ini. Lalu aku diajak masuk sama Mas Galuh. Ku lihat sahabat dan pacar ku menunggu di balik pohon besar depan rumah ini.


Tidak tampak rumah tetangga kiri dan kanan rumah ini. Hanya ada rumah ini di sini. Kalaupun mencari rumah penduduk, sekitar 1 kilometer dari rumah Pak Iwan.

__ADS_1


Kami pun masuk. Orang tua tadi yang ternyata penjaga rumah ini mrngatakan bahwa Pak Iwan masih belum datang. Dia masih keluar. Aku berpamitan untuk ke kamar mandi dengan alasan mau pipis.


Aku mengamati beberapa ruang. Hingga aku di hadapkan pada sebuah ruang bawah tanah. Aku turun untuk melihat-lihat nya. Ternyata hanya berisikan barang-barang usang dan beberapa senapan untuk beburu.


Saat aku hendak kembali ke atas, kaki ku menginjak sesuatu dari bawah karpet. Aku mengamati karpet itu, lalu membuka nya. Betapa kaget nya aku saat ada sebuah pintu rahasia di bawah sana. Aku lalu membuka pintu kayu itu. Dengan langkah pelan, aku menuruni anak tangga yang sudah mulai karatan. Lorong nya gelap. Aku mengikuti kemana arah lorong itu. Hingga di ujung lorong ada sebuah kamar yang terkunci rapat.


Aku mencoba membuka nya. Namun tidak bisa. Ada celah kecil di pintu yang bisa aku gunakan untuk mengintip. Aku terbelalak. Saat mengetahui ada Pak Iwan dan Pak Ali berada dalam ruangan itu sedang menyetubuhui seorang gadis yang tidak bisa bergerak. Tatapannya nanar. Maya.


Sepertinya Pak Iwan menyudahi aksi nya menyetubuhi gadis itu.


"Aku sudah bosan dengan mayat hidup ini." kata Pak Ali.


"Tenang. Ntar lagi ada barang baru yang bagus. Kita nikmati bersama-sama. Tubuh nya bikin gak nahan." jawab Pak Iwan. Aku menutup mulut ku. Air mata ku menetes. Lalu aku pelan-pelan keluar dari tempat ini. Merapikan kembali karpet yang menutupi pintu tersebut.


"Kamu dari mana Nggi? Kok lama?" tanya Mas Galuh. Aku mencoba menata kembali perasaan ku saat ini, supaya dia tidak curiga.


"Oh ini Mas, aku nyari kamar mandi gak ketemu. Abis nya rumah Pak Iwan besar banget. Untung nya ketemu." kata ku.


"Kita pulang saja yuk. Pak Iwan masih lama kata yang jaga rumah." ajak Mas Galuh. Akupun mengangguk setuju.


Selama perjalanan aku masih terfikirkan akan hal tersebut. Aku sekarang benar-benar takut.


Setelah mengantarkan ku pulang, Mas Galuh lantas keluar lagi. Entah kemana. Aku langsung masuk ke dalam kamar. Sahabatku serta Angga mengikuti ku dari belakang.


"Kenapa lu Nggi? Apa Galuh berbuat aneh-aneh tadi?" tanya Andre. Aku menggeleng, lalu mengusap air mataku. Aku menutup pintu kamar ku. Dengan tenang dan perlahan, mulai ku ceritakan selengkap-lengkap nya tentang apa yang ku lihat tadi.


Semua sahabat ku mengumpat kesal. Tidak menyangka dengan semua ini. Angga hanya bisa memelukku.


"Kita harus keluar kan Maya dari sana." ucap Andre.


"Gue setuju. Tapi jangan gegabah, biar kita tidak salah langkah." kata Edwin.


"Untuk saat ini, kita pura-pura tidak tahu saja. Ok. Ini demi keselamatan mu, Nggi." sambung Toni.


"Tapi kasihan Maya kalau terus-terusan dijadikan budak **** nya mereka." kata ku.


"Mau gimana lagi Nggi?" kata Edwin.


"Tapi gue kok ngrasa ada yang aneh ya? Galuh kembali lagi keluar. Tadi dia seolah-olah ingin ngajak siapa, padahal sebenar nya ia hanya mancing Anggi. Trus, dia alasan Pak Ali menyuruh nya untuk mengantar kan laporan ke Pak Iwan, sementara Pak Ali ada di sana tadi." ujar Angga. Semua setuju dengan pendapat Angga itu.


"Gue yakin, pasti Galuh ada hubungannya dengan semua ini." ujar Edwin.

__ADS_1


"Sayang, kamu sekarang jangan gegabah. Biar kita bisa ngeluarin Maya dari sana." kata Angga menenangkan ku. Aku mengangguk.


*****


Tok tok tok.


Terdengar pintu kamar ku ada yang mengetuk. Lalu aku membuka nya.


"Selamat ulang tahun sayang." ucap nya sumringah. Aku mencoba mengingat-ngingat. Ya ampun, aku sampai lupa kalau sekarang hari ulang tahun ku. Tengah malam Angga membangunkan ku, untuk mngucapkannya secara langsung.


"Tiup dong. Sebelum nya make a wish dulu ya." kata Angga sambil menyalakan korek gas. Aku memanjatkan beberapa doa, lalu ku tiup korek gas tadi.


"Thank you." ucap ku lalu memeluk kekasih ku yang sweet ini.


"Maaf ya gak ada kado. Nanti deh, kalau udah selesai magang kamu minta dibelikan apa aja aku turutin." hibur Angga.


"Aku cuma minta kamu. Itu saja." kata ku mengerat kan pelukan ku.


"Pasti itu sayang." dia menatap ku.


"Sekali lagi selamat ulang tahun ya. Semoga apa yang kamu harap kan bisa terwujud." doa nya untukku. Lalu dia mencium bibir ku sekilas.


"Yaaaaaa. Kita keduluan deh. Padahal kan biasa nya juga kita duluan yang ngucapin." kata Edwin tiba-tiba.


Memang selama aku ulang tahun, pasti mereka bertiga akan mengucapkannya tengah malam. Kadang sampai datang ke rumah, hanya sekedar untuk menyuruh ku meniup lilin, setelah itu mereka pulang lagi.


Lalu mereka bertiga memelukku, pelukan teletubies. Dan mendoakan yang baik-baik untukku.


"Jangan lama-lama tau meluk nya." Angga manyun.


"Yeeee. Anggi itu adik kita kali." jawab Toni.


"Udah ah, jangan debat. Mending sini peluk bersama." kata ku. Dan kami berlima pun pelukan lagi. Ya Tuhan, jangan pernah berakhir kebersamaan ini.


*


*


*


*

__ADS_1


*


Terimaksih sudah membaca. Jangan lupa like dan kimen ya.


__ADS_2