
Selagi Aska asyik menggoda Saera ponselnya berbunyi langsung saja dia menerima telepon itu.
"iya kenapa Yudha, apa ada masalah ? , Aku sudah mengatakan kalau aku tidak ingin di ganggu hari ini"
"maaf tuan, perwakilan dari tuan Dava ingin bertemu dengan anda"
mendengar nama Dava disebutkan membuat wajahnya yang tadi ceria seketika berubah masam Aska pun bangkit dari pangkuan Saera.
"Kenapa ? apa ada masalah? " tanya Saera khawatir namun di balas acuh oleh Aska
"Bukankah kau sudah tahu jawabannya, katakan pada mereka aku tidak punya urusan dengannya"
"Maaf tuan, saya akan menyampaikan pada mereka "
Aska tidak menjawab lagi dan langsung mematikan panggilan teleponnya. Aska menangkap pandangan khawatir dari manik mata Saera yang mana membuat amarahnya sedikit mereda.
"Apa terjadi masalah serius di kantor mu?"
Aska hanya diam tidak berniat untuk menjawab, apakah dia harus menceritakan ini pada Saera. Tapi untuk apa juga menceritakan padanya, tahu apa dia tentang bisnis. Lagipula ini tidak ada hubungannya dengan dia.
Tapi lain di otak lain juga di hati .
__ADS_1
"kamu tahu tuan Herry ?"
"Yang mengundang kita makan malam kemarin?" jawab saera yang di balas anggukan oleh Aska ." Kenapa dia, apa terjadi masalah dengannya."
"Dia membatalkan kontrak dengan ku" jawab Aska kecewa
"kenapa ?"
"Dia memilih Dava"
"Lelaki tampan yang ikut makan malam bersama kita " Tanya Saera sambil tersenyum membayangkan ketampanan tuan Dava , yang mana membuat Aska tidak suka.
"apa kamu bilang..., tampan.? bagaimana orang bermata bulat itu kamu bilang tampan" Aska tidak percaya bagaimana istrinya memuji pria lain tampan tepat di hadapannya . Aska geleng geleng kepala
"Ohhhh, kamu juga ingin mengantri ?
"Tentu saja aku ing.." Saera menghentikan kalimat nya saat menangkap pandangan menusuk dari mata Aska ."Tentu saja aku tidak ingin tuan Aska ,kata kata ku tadi hanya berlaku untuk wanita yang belum menikah, Aku kan sudah punya suami setampan dirimu " memasangkan senyuman yang di buat buatnya selebar mungkin untuk mengakhiri pandangan mematikan dari Aska.
"haahhhh, jadi kamu sadar sudah punya suami ternyata" ucap Aska mengejek
"Tentu saja aku sadar, aku sangat sangat sadar, dan tidak ada,yang akan menggantikan suami ku tuan Aska ".masih melebarkan senyuman miliknya membuat Aska sedikit tersenyum.
__ADS_1
"Kenapa tuan Herry memilih tuan Dava, kenapa tidak mau memilih mu" Saera kembali ke pokok permasalahan agar Aska tidak lagi memojokkannya.
"Katanya ide nya lebih mudah diterima pasar." kata Aska terus terang, karena memang benar idenya Dava lebih mudah di terima dan kerugiannya akan sangat sedikit dibandingkan keuntungan yang akan mereka dapat kan. Tapi Aska tidak akan mau mengakui itu. Tidak akan pernah.
"dan tuan Herry meminta ku untuk ikut bekerjasama dengannya, dan jika tidak perusahaan ku akan mengalami kerugian besar" kata katanya terdengar sangat tidak bersemangat.
"kamu menerimanya ?"
"Tentu saja tidak ,tidak akan pernah." kata Aska penuh penekanan
"Apa kamu sangat membencinya ?" Tanya Saera memegang lembut tangan Aska karena melihat kemarahan di mata Aska setiap kali menyebut nama Dava. ditambah dengan sikap keduanya saat pertemuan mereka malam itu. Aska tidak menjawab, dia juga tidak membantah. Hanya diam, dan hatinya ber desir.
"Aku nggak tahu, apakah kamu punya masalah atau tidak dengannya. Tapi jika satu satunya cara menyelesaikan masalah mu saat ini hanya bekerja sama dengan dia, maka kenapa kamu harus menolaknya."
"Bersikaplah profesional dalam pekerjaan mu, jangan libatkan masalah pribadi." Saera menepuk punggung Aska dan beranjak meninggalkannya agar lebih dalam mencerna perkataan nya.
Ya benar, selama dua tahun ini, Aska menutup mata dengan segala hal yang bersangkut paut dengan Dava. karena masalah pengkhianatan kekasihnya dia sangat membenci Dava dan menjadikannya saingan terbesar dalam hidupnya. Dan berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan jauh lebih hebat dalam segala hal dari Dava.Tapi kini takdir seakan mengoloknya, perusahaan nya akan mengalami kerugian besar jika tidak bisa bekerjasama dengan tuan Herry dan satu satunya cara adalah dirinya harus bekerja sama dengan Dava juga.
Aska termenung di kamarnya memikirkan perkataan Saera, memang benar jika tidak ada insiden pengkhianatan kekasihnya dua tahun silam, dia tidak akan membenci Dava sampai seperti ini, bahkan dia akan senang hati menawarkan kerja sama dengannya. Lagipula Dava adalah pebisnis yang handal untuk di jadikan mitra.
Bersikaplah profesional dalam pekerjaan mu , jangan libatkan masalah pribadi.
__ADS_1
Kata kata Saera terus muncul di pikirannya, mungkinkah dia memang harus menerima tawaran dari tuan Herry.